Jumat, 10 September 2010 | Berlangganan Majalah TRUST 
Sub Rubrik:

Sabar, Jangan Cepat Dijual

Hendra Gunawan, Windarto, dan Eko Zulham
 
SETELAH sukses melego obligasi ritel Indonesia (ORI) I dan II, pemerintah kembali merilis surat utang sejenis seri ketiga. Yang menarik, surat utang yang ditawarkan pada 27/8 hingga 7/9 itu memberikan kupon bunga 9,4% per tahun, lebih tinggi ketimbang ORI II yang hanya memberikan return 9,2%. Pada seri terbaru ini, pemerintah juga berusaha agar kepemilikan ORI makin tersebar merata. Itu sebabnya, investasi maksimal per investor ditetapkan sebesar Rp 3 miliar atau lebih rendah Rp 2 miliar dibanding batas maksimum sebelumnya. Sedangkan investasi minimumnya masih tetap sama, yakni Rp 5 juta.
Daya serap pasar terhadap surat utang berdurasi empat tahun ini, boleh dibilang, cukup baik. Itu terlihat dari ramainya penjualan di sejumlah bank. Di Bank Mega misalnya, kuota sebesar Rp 125 miliar langsung ludes. Kostaman Thayib, Direktur Bank Mega, mengungkapkan penjualan ORI I dan II juga selalu di atas kuota yang ditetapkan Departemen Keuangan. Pada seri I, perseroan hanya mendapat jatah Rp 25 miliar, namun bisa melepas Rp 41 miliar. Begitu halnya di ORI II, dari kuota sebesar Rp 81 miliar, terjual sebanyak Rp 122 miliar.
Situasi di Bank Central Asia (BCA) sami mawon. Hanya dalam tempo tiga hari langsung habis. Bahkan, kabarnya, antrean untuk mendapatkan ORI III sudah terjadi sebelum surat utang ini resmi dirilis. Menurut Branko Windoe, Head of Treasury BCA, kuota ORI III yang diperoleh banknya senilai Rp 600 miliar. Nah, lantaran besarnya animo nasabah, banyak yang masuk daftar antre.

 Artikel Lain
Setelah Si Ben Bersikap
Selamat Datang Kembali, Semoga Betah
Berkah Menjelang Lebaran
Menanti Gugur Bunga di Amerika
Sabar, Jangan Cepat Dijual
Yang Halal yang Menguntungkan
Di Bursa Api Masih Menyala
Agar Harga Sahamnya Naik
Tetap Harus Ekstra Waspada
Keanehan Itu Terus Terjadi
Branko mengatakan, dalam menjual ORI pihaknya selalu berpegang teguh pada asas pemerataan. Sehingga, semua wilayah yang memasukkan penawaran akan mendapatkan jatah. Cuma, besarannya yang berbeda-beda. Dengan cara ini, BCA berharap semua nasabahnya bisa menikmati keuntungan berinvestasi di ORI. ”Kami mendapat penghargaan sebagai agen penjualan terbaik dengan kriteria penyebaran terluas,” ungkapnya.
Besarnya minat para pemodal untuk menempatkan dananya pada ORI III, sudah pasti sangat disyukuri pemerintah. Rahmat Waluyanto, Dirjen Pengelolaan Utang, Departemen Keuangan, mengungkapkan, sampai Rabu (29/8) pekan lalu, jumlah pesanan yang masuk sudah mencapai Rp 3,7 triliun. Sejumlah agen penjual juga sudah meminta tambahan kuota kepada Depkeu.
Menghadapi situasi itu, ada kemungkinan pemerintah akan memberikan kuota tambahan. Namun, Rahmat tidak berani menyebutkan target nilai emisi ORI ketiga ini. Jika permintaan pasar terlalu tinggi, pemerintah akan membatasinya. ”Kalau permintaan, misalnya, sampai Rp 20 triliun, kami akan pertimbangkan lagi. Sebab, kami juga harus mempertimbangkan kapasitas pemerintah untuk bisa mengelola utang itu dengan baik,” jelasnya.
Rahmat menuturkan, berdasarkan APBN perubahan 2007 yang kini sedang dibahas bersama DPR, jumlah emisi surat utang negara (SUN) ditetapkan 1,6% dari produk domestik bruto. Soalnya, defisit APBN tahun ini diperkirakan hanya sekitar 1,55% dari PDB. Nah, jika seluruh defisit tersebut dibiayai oleh SUN, maka emisi yang akan diterbitkan pemerintah mencapai Rp 58,5 triliun netto.
Artinya, jumlah itu di luar penerbitan obligasi negara yang digunakan untuk refinancing utang yang sudah jatuh tempo. Sebagai informasi, selama 2007 pemerintah telah menerbitkan SUN dalam denominasi rupiah senilai Rp 48,8 triliun. Sementara obligasi valas sebesar US$ 1,5 miliar. Adapun surat utang yang jatuh tempo tahun ini senilai Rp 4,8 triliun. Salah satunya adalah VR0012 yang habis masa edarnya 25 September nanti.
Sejumlah agen penjual yang dihubungi TRUST menuturkan, besarnya minat investor terhadap ORI III lebih disebabkan oleh kupon bunga yang tinggi. Paling tidak, jauh lebih tinggi dibandingkan bunga deposito yang kini berada di kisaran 5%-7%. Demikian juga bila dibandingkan dengan inflasi yang diperkirakan berkisar 6% + 1.

DILEPAS DI PASAR SEKUNDER
Bagi investor yang ingin mendapatkan hasil lebih tinggi, mereka bisa melepasnya di pasar sekunder. Ada baiknya jika pelepasan dilakukan setelah jangka waktu setahun. Pada saat itu, kemungkinan besar harga ORI di pasar sekunder sudah naik lebih tinggi. Seorang pelaku pasar memperkirakan, harga ORI III di pasar sekunder bisa beranjak 2%-4% di atas par. Jika asumsi itu tercapai, maka investor berpeluang mendapatkan imbal hasil sekitar 11,4%-13,4%. Cukup menarik bukan?
Heri Gunardi, Senior Vice President Wealth Management Bank Mandiri, mengakui bahwa potensi keuntungan yang bisa diperoleh investor ORI III cukup besar. Sebagai gambaran, kata Heri, pada ORI I, investor bisa mendapatkan yield sekitar 18% di tahun pertama. Itu diperoleh dari kenaikan harga yang mencapai 6% dan kupon bunga sebesar 12%. Dia menambahkan, di tengah tren penurunan suku bunga seperti sekarang, kenaikan harga obligasi menjadi terbatas. ”Daya tarik ORI I dan II jauh lebih tinggi ketimbang yang sekarang,” katanya kepada Intan Rahmawati dari TRUST.
Sungguhpun begitu, minat para pemilik uang kali ini benar-benar luar biasa. Wadja Tedja (Head-Product Development and Structuring Treasury and Capital Market Division Bank Danamon) mengatakan, dari kuota Rp 750 miliar, permintaan yang masuk mencapai Rp 800 miliar. Dalam menjual ORI, Danamon memberikan buy back guarantee. ”Tetapi yang melakukan short investment kurang lebih 10%,” tuturnya kepada Eko Zulham dari TRUST.
Sejumlah investor memang telah melepas investasinya ke pasar sekunder. Data Direktorat Pengelolaan Utang menyebutkan, dari total emisi ORI I sebesar Rp 3,2 triliun, yang masih dikuasai investor individual hanya sekitar Rp 1,4 triliun (43,7%). Surat utang itu beralih ke investor asing sekitar Rp 848,4 miliar (25,84%) dan reksadana sebesar Rp 476,7 miliar (14,52%). Sedangkan pada ORI II, dari total emisi Rp 6,2 triliun, investor individu masih menguasai 54,89% atau senilai Rp 3,4 triliun. Sedangkan yang dikuasai pemodal asing meningkat menjadi Rp 1,2 triliun (20,59%).
Besarnya ORI yang dilepas ke pasar sekunder, menurut Rahmat, merupakan sesuatu yang wajar. Soalnya, itu merupakan salah satu strategi investasi. Ia juga tidak terlalu peduli dengan pemilikan ORI oleh pemodal asing. Sebab, kata dia, bisa saja pemilik surat utang tadi adalah warga Indonesia yang berdomisili di luar negeri.
Selain memberikan keuntungan bagi pemerintah dan investor, penjualan ORI juga menjadi area bagi bank untuk menjaring fee based income. Tidak besar sih, tapi lumayan. Hitung-hitung memanjakan nasabah, begitu kata Kostaman. Menurut dia, fee yang diperoleh bank sebesar 0,5% dari total ORI yang terjual. Sebagai contoh, jika Bank Mega berhasil melego sebanyak Rp 122 miliar, maka fee yang mereka kantongi mencapai Rp 610 juta. Bank juga bakal mengantongi fee tambahan jika investor melepas surat utangnya di pasar sekunder. Besarnya fee 0,25% dari nilai ORI yang dilepas. 


Berikan Komentar untuk artikel ini

Edisi 09 - 10 Tahun VI
31 Desember - 6 Januari 2007
www.mnc.co.id