Jumat, 3 September 2010 | Berlangganan Majalah TRUST 
Sub Rubrik:

Makin Sehat Setelah Lebaran

Budi Kusumah, Syarif Hidayat, Hendra Gunawan, dan Windarto
 
DALAM lautan bisa diduga, dalamnya bursa siapa yang tahu. Pelesetan sebuah peribahasa ini, tampaknya, cocok dengan ramalan yang dilontarkan para pelaku di pasar saham. Sebelumnya, sejumlah kalangan analis memperkirakan, di pekan lalu, indeks harga saham gabungan (IHSG) bakal terkoreksi. Perkiraan itu mengemuka lantaran penguatan yang terjadi atas IHSG sudah cukup tinggi. Terbukti, yang terjadi malah sebaliknya. Suasana bullish masih berlangsung, sehingga pada penutupan pasar Jumat 5 Oktober lalu, indeks malah mencetak rekor baru dan menclok di level 2.500.
Kenyataan ini membuktikan bahwa menjelang libur Lebaran, pasar tak selalu memble. Kondisi itu sekaligus menunjukkan kinerja Bursa Efek Jakarta tak selamanya mengekor pada bursa regional. Contohnya seperti yang terjadi Kamis kemarin, IHSG menguat cukup signifikan, sementara indeks di bursa regional—kendati tipis—tengah mengalami penurunan.
Lantas apa yang akan terjadi di pekan ini? Beberapa analis yang dihubungi TRUST sepakat, investor akan menyambut libur panjang Lebaran dengan melakukan aksi profit taking. ”Selain merealisasikan keuntungan, langkah ini juga untuk mengurangi risiko pasar,” kata Prayoga Ahmadi Triyono, Kepala Riset Henan Putihrai Sekutritas.

 Artikel Lain
Waktunya Second Liner
Siapa yang Memborong?
Awas Bahaya Minyak
Siapa yang Diuntungkan?
Makin Sehat Setelah Lebaran
Satu Lagi yang Layak Diburu
Pesta Itu Telah Usai
Bisnis Asap Masih (Akan) Mengepul
Setelah Si Ben Bersikap
Selamat Datang Kembali, Semoga Betah
John Teja dari Ciptadana Securities juga punya pendapat sama. Kata dia, jika BI Rate jadi dipangkas, ada kemungkinan investor menahan aksi jualnya. Mungkin, itulah yang menyebabkan para analis membuat prediksi yang agak tajam tentang IHSG. Prayoga, misalnya, untuk pekan depan, memasang rentang yang cukup lebar antara 2.400-2.550.
Ada beberapa hal yang menjadi pertimbangan para pemodal dalam menghadapi pasar pascalibur Lebaran nanti. Salah satunya adalah mulai terbitnya laporan keuangan kuartal III. Jika rapornya tidak sebagus yang dibayangkan, ”Maka badai aksi jual akan terjadi,” kata Prayoga.
Pasar regional juga perlu diperhitungkan. Kalau di saat libur Lebaran bursa AS babak belur, misalnya, dengan sendirinya BEJ juga akan ketiban sial. Sebaliknya, kalau pasar AS sehat, bursa Jakarta ikut menguat. Tapi Prayoga melihat, indeks Dow Jones—yang kini berada di level 14.000-an—sudah tergolong tinggi. Sehingga, diperkirakan, pergerakannya tidak akan terlalu tajam. Dengan kata lain, investor mesti memperhitungkan besarnya kemungkinan bursa regional melemah, yang pada gilirannya akan ikut membuat BEJ terbawa loyo.
Di samping sentimen negatif, ada beberapa faktor yang bisa membuat kondisi pasar tetap bullish. Dandy Fajar Musratmo melihat kemungkinan terjadinya aksi window dressing menjelang tutup tahun. Makanya analis dari Eficorp Sekuritas ini berani memasang target IHSG di level 2.600 untuk akhir Desember 2007. John Teja pun mempunyai perkiraan yang sama. Apalagi, kata dia, kondisi perekonomian Indonesia relatif stabil. Ditambah lagi, belakangan ini, nilai tukar rupiah juga dalam kondisi aman.
JANGAN MUDAH TERGODA
Rupiah aman? Begitulah perhitungan para analis valas. Betul, menjelang liburan banyak pemilik uang yang memilih jalan aman dengan menambah koleksi dolarnya. Tak sedikit pula yang melepas untuk memperoleh dana keperluan THR dan Lebaran. Jadi seimbang. ”Paling tidak posisi spekulasinya jadi berkurang,” kata Fauzi Ichsan. Menurut Ekonom Standard Chartered Bank ini, penguatan rupiah masih akan berlangsung. Sehingga pasca-Lebaran kurs dolar AS diperkirakan akan berada di rentang Rp 9.050-Rp 9.100.
Hasil peneropongan Ryan Kiryanto juga sami mawon. Ekonom Bank BNI ini yakin, nilai tukar akan bertahan di level Rp 9.100. Dan kondisinya akan semakin berotot jika The Fed kelak menurunkan kembali tingkat bunga acuannya.
Optimisme Ryan dan Fauzi, memang, cukup beralasan. Soalnya, dari hari ke hari, dana asing yang masuk ke negeri ini terus membesar. Otoritas moneter melaporkan, di Sertifikat Bank Indonesia (SBI) kini porsi asing telah mencapai Rp 40,88 triliun (3/10). Itu berarti, hanya dalam dua pekan terjadi kenaikan sebesar Rp 17,5 triliun. Lonjakan serupa terjadi pada surat utang negara (SUN) yang naik dari Rp 74,90 (pertengahan September ke Rp 80,81 (3/10).
Seperti dikemukakan di atas, asing juga tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk memetik gain di bursa saham. Sehingga, surat-surat berharga yang dikuasai investor asing terus membesar. Fenomena ini, kata sejumlah analis, masih akan berlangsung. Artinya, kendati sesekali terjadi aksi jual, IHSG masih cenderung menguat.
Nah, dalam kondisi seperti ini, Prayoga menyarankan investor mempertimbangkan untuk mengoleksi saham-saham perkebunan, pertambangan, migas, dan perbankan. Masuklah ke saham-saham berfundamental bagus tapi harganya masih relatif murah,” katanya. Ia pun kemudian menunjuk saham Bakrie Sumatra Plantations (UNSP), yang diyakini bakal naik ke level Rp 1.600.
Selain itu, Prayoga memperkirakan saham Aneka Tambang (ANTM) bakal merangkak ke Rp 3.000, Medco (MEDC) ke Rp 5.000, PGAS menuju Rp 14.000-an, dan Bumi Resources (BUMI) ke level Rp 5.000. Sedangkan di sektor perbankan, Prayoga lebih suka memilih saham Bank Mandiri (BMRI) yang ditaksir bakal terus menguat menuju Rp 4.000 dan Bank Niaga yang mengarah ke tingkat seceng. ”Sebaiknya bermainlah di saham-saham unggulan, jangan mudah tergoda oleh pergerakan saham yang enggak keruan,” nasihatnya.
Dandy Fajar juga menyarankan hal serupa, tabrak saham unggulan. Soalnya, potensi gain di blue chip juga masih menarik. ANTM, misalnya, diperkirakan Dandy masih kuat menanjak ke Rp 3.500. Bahkan, untuk jangka menengah, harganya bisa menyentuh Rp 4.000. Contoh lainnya adalah saham Telkom (TLKM) yang, di akhir tahun, diduga bakal menjejak di level Rp 13.200. Dan setelah itu kembali merangsek ke Rp 15.000. ”Dua saham ini, secara teknis dan fundamental, bagus,” katanya.
Di luar saham-saham yang telah disebutkan di atas, John Teja menyodorkan dua nama lainnya, yakni Indofood (INDF) dan Ramayana (RALS). Rencana Indofood mengakuisisi London Sumatera, diyakini bakal membuat kinerja perusahaan itu semakin kinclong. Sehingga sahamnya, yang pekan lalu ditutup pada harga Rp 2.000, akan menguat ke Rp 2.300. Akan halnya penguatan RALS diperkirakan akan mencapai Rp 1.050. Itu terjadi berkat semakin luasnya jaringan yang dimiliki oleh emiten tersebut.
Anda tertarik yang mana? Silakan pilih sendiri. 


Berikan Komentar untuk artikel ini

Edisi 09 - 10 Tahun VI
31 Desember - 6 Januari 2007
www.mnc.co.id