Jumat, 12 Maret 2010 | Berlangganan Majalah TRUST 
Sub Rubrik:

Siapa yang Diuntungkan?
Saham Telkom

Febry Mahimza, Syarif Hidayat, Eko Zulham, dan Intan Rahmawati
 
ARWIN Rasyid, memang, sudah tak lagi menjadi orang nomor satu di PT Telekomunikasi Indonesia Tbk. (Telkom). Namun, salah satu kebijakan krusialnya dua tahun silam, yakni membeli kembali saham Telkom (share buy back) yang beredar di Bursa New York (New York Stock Exchange) dan Bursa Efek Jakarta, terus bergulir. ”Jika melihat kinerjanya, saya yakin, pada 2010 nilai sahamnya bisa meningkat 100% lebih. Itu jauh lebih menguntungkan ketimbang bunga bank,” ujarnya waktu itu.
Prediksi urang awak ini memang terbukti. Pada Desember 2005, ketika Arwin mengajukan program tersebut, harga saham berkode TLKM itu masih berkisar Rp 6.000. Dan pekan lalu, sudah bertengger di kisaran Rp 12 ribu, berarti benar telah terjadi penguatan sebesar 100%. Sayang seribu sayang, program pembelian kembali saham oleh BUMN itu berjalan lambat.
Tahap pertama, yang berakhir Juni kemarin, Telkom baru mengucurkan dana sebesar Rp 1,8 triliun untuk mengoleksi kembali 211.290.500 sahamnya di bursa dengan harga rata-rata Rp 8.609 per saham. Lantas, untuk tahap kedua yang akan berakhir Desember tahun 2008, Telkom menganggarkan bujet sebesar Rp 2 triliun. ”Hingga September kemarin, kami sudah mengucurkan dana sebesar Rp 70 miliar untuk tahap dua ini,” tutur Sudiro Asno, Direktur Keuangan PT Telkom.

 Artikel Lain
Naik Berkat Beleid Single Presence Policy
Waktunya Second Liner
Siapa yang Memborong?
Awas Bahaya Minyak
Siapa yang Diuntungkan?
Makin Sehat Setelah Lebaran
Satu Lagi yang Layak Diburu
Pesta Itu Telah Usai
Bisnis Asap Masih (Akan) Mengepul
Setelah Si Ben Bersikap
Dengan uang sebanyak itu, Telkom sukses mengoleksi kembali sekitar 8,65 juta sahamnya yang beredar di bursa. Artinya, total yang telah dibeli kembali baru mencapai sekitar 220 juta saham. ”Saham yang kami beli kembali masih kurang dari 1% dari jumlah keseluruhan di pasar. Rencananya kami akan buy back sebanyak 5%,” kata Eddy Kurnia, Vice President Public & Marketing Communication PT Telkom.
Kinerja TLKM saat ini memang tengah kinclong-kinclongnya. Hingga Juni kemarin, total pendapatannya mencapai Rp 29,8 triliun atau naik sekitar 40% dibanding periode yang sama tahun lalu. Laba bersih yang diraup perseroan juga lumayan, mencapai Rp 6,6 triliun atau melonjak dari tahun lalu yang ”hanya” Rp 5,8 triliun. ”Total pendapatan di akhir tahun nanti diperkirakan akan tumbuh 20% dari tahun lalu,” kata Norico Gaman, analis BNI Sekuritas.
Menurut Ichsan Binarto, analis dari PT Optima Investama, aksi share buy back ini patut dicermati. ”Kalau cuma 5% tidak masalah. Tapi kalau seperti kasus BLTA (PT Berlian Laju Tanker Tbk.) yang melakukan share buy back hingga 10%, itu baru jadi masalah. Sebab, itu seperti insider trading dan yang menjadi bandar ya emiten itu sendiri,” tuturnya kepada Windarto dari TRUST.
Pendapat senada dikemukakan Dandi Fajar Musratmo. Analis dari PT Eficorp Securities ini menilai, share buy back tahap II yang dilakukan TLKM terkesan janggal. Sebab, dengan harganya yang kini di level Rp 12 ribuan, saham TLKM sudah tergolong mahal. ”Memang TLKM ditargetkan bisa mencapai Rp 15 ribu. Tapi, itu kan jangka panjang. Kalau Telkom mau beli, seharusnya di level Rp 11 ribuan,” ujarnya. Makanya, secara tidak langsung, ia menduga, ada ”permainan” yang menguntungkan pihak tertentu pada program share buy back tahap II ini.
Menguntungkan siapa? Entahlah. Yang pasti, pihak Telkom sendiri sebenarnya ogah membeli di harga tinggi. ”Kami melakukan buy back di harga Rp 10.500-an kok,” kata Sudiro.
Bagi investor publik yang memiliki saham ini, Dandi merekomendasikan untuk tetap disimpan sampai waktu yang tepat. ”Akhir tahun nanti TLKM bisa mencapai Rp 13 ribu dengan target jangka panjang Rp 15 ribu. Kalau mau beli, sekarang ini saat yang tepat. Sebab, long weekend Lebaran ini, semua saham termasuk TLKM kemungkinan besar akan melemah,” paparnya panjang lebar. 


Berikan Komentar untuk artikel ini

Edisi 09 - 10 Tahun VI
31 Desember - 6 Januari 2007
www.mnc.co.id