|
|
 |
|
Awas Bahaya Minyak
|
| Budi Kusumah, Syarif Hidayat, Hendra Gunawan, dan Windarto |
| |
SEKITAR setahun lalu, majalah ini pernah memuat sebuah perkiraan yang diungkapkan oleh seorang pedagang minyak mentah. Trader ini mengatakan bahwa dalam waktu yang tidak terlalu lama, sangat mungkin harga minyak dunia naik ke level US$ 100 per barel. Ketika itu selain ada yang mengangguk-angguk mengamini, tak sedikit yang menggelengkan kepala. Artinya, banyak juga—pengusaha ataupun pengamat—yang tidak percaya si emas hitam bakal dihargai setinggi itu.
Kini kondisi seperti itu tak ada lagi. Hampir semua kalangan percaya harga minyak akan menembus batas psikologis terbaru, US$ 100. Hanya tinggal soal waktu. Kendati di akhir pekan lalu, harga masih bolak-balik naik turun dan akhirnya—untuk pengiriman bulan Desember—harga di New York Mercantile Exchange ditutup pada level US$ 91 per barel.
Perkara faktor yang menyebabkan harga makin meliar, sepertinya tak perlu lagi dibahas panjang lebar. Orang tahu, melemahnya perekonomian AS telah membuat mata uang dolar makin melemah, yang pada gilirannya mendorong para pemilik uang untuk memburu berbagai komoditi (termasuk minyak dan emas). Kisah tentang Turki yang menggebuk pemberontak Kurdi di Irak—yang merupakan salah satu negara produsen minyak terbesar dunia—ikut memanaskan situasi pasar. Ditambah lagi kebencian Amerika terhadap Iran telah membuat suasana semakin runyam.
Bukan hanya itu, segerombolan orang bersenjata, pekan lalu, juga telah menyerang ladang minyak yang sedang digarap oleh perusahaan Italia (ENI) di Nigeria. Sehingga, produksi negeri penghasil minyak terbesar di Afrika tersebut mengalami penurunan sebesar 50 ribu barel.
Kejadian-kejadian itulah yang kini tengah dipantau dengan cermat oleh para pelaku usaha dan juga pemerintah di Indonesia. Dunia usaha ekstra khawatir karena pada gilirannya kenaikan ini akan membuat biaya produksi semakin tinggi. Dan itu kelihatannya sudah merupakan sesuatu yang pasti terjadi. Sebab pemerintah telah mengumumkan bahwa mulai November depan harga minyak nonsubsidi akan dinaikkan.
Pemerintah sendiri, tampaknya, berusaha tenang. Malah Menteri Keuangan Sri Mulyani mengatakan, setiap kenaikan si emas hitam sebesar US$ 10 di atas asumsi APBN, akan menambah pendapatan negara sekitar Rp 300 miliar-Rp 500 miliar. Tambahan itu, kata Sri, akan makin membesar karena pendapatan dari hasil komoditi lainnya akan turut naik.
Misalnya dari hasil penjualan gas. Menurut Fauzi Ichsan, kenaikan harga minyak akan diikuti oleh meningkatnya harga gas. Kalau penghasilan dari dua komoditi ini disatukan, ”Indonesia sebenarnya masih merupakan negara net ekspor energi,” kata Ekonom Standard Chartered Bank ini.
Pendapat senada dikemukakan Winang Budoyo. Ekonom Lippo Bank ini melihat, dalam jangka pendek kenaikan minyak dunia tidak akan menimbulkan pengaruh besar. Yang penting, manajemen pembelian oleh Pertamina berjalan baik. Jangan seperti di tahun 2005 ketika Pertamina terjun ke pasar memborong dolar untuk mengimpor minyak. Kalau itu terjadi lagi, dipastikan nilai tukar rupiah akan melemah. ”Sementara ini pengaruh minyak terhadap nilai tukar rupiah masih netral,” kata Fauzi.
TERGANTUNG NYALI INVESTOR
Selain minyak, yang menjadi perhatian pelaku pasar di pekan ini adalah sikap The Federal Reserve yang akan melakukan rapat pada 31/10. Sejumlah analis percaya, bank sentral AS itu akan kembali mengerek turun suku bunga acuannya sebesar 25 basis poin. Ini, kata Andrew Siahaan, akan menjadi sentimen positif bagi pasar saham. Makanya, analis dari Paramita Alfa Securities ini menyarankan investor untuk tetap aktif di bursa.
Andrew merekomendasikan beli untuk saham-saham pertambangan, perkebunan, dan perbankan. Kata dia, saham pertambangan dan perkebunan akan menjadi motor penggerak bagi bursa karena naiknya harga komoditi di pasar dunia. Sementara saham perbankan akan didorong oleh kemungkinan diturunkannya BI Rate dan telah terbitnya laporan keuangan kuartal III yang mencatat adanya kenaikan laba bersih.
Lantas saham apa yang layak dikoleksi? Teuku Hendry Andrean, yang yakin Indeks harga saham gabungan (IHSG) masih akan merangkak naik, juga menyarankan investor untuk melirik saham perbankan. Menurut Kepala Riset Finan Corpindo Nusa ini, saham Bank Mandiri (BMRI)—yang kemarin ditutup Rp 3.875 (26/10)—masih berpotensi menguat ke Rp 4.100. Sedangkan saham Bank BRI (BBRI) bisa menggeliat dari Rp 7.600 ke Rp 8.000.
Naiknya berbagai komoditi ekspor juga kemungkinan akan meningkatkan harga saham berbasis CPO. Apalagi Astra Agro Lestari (AALI) telah menerbitkan laporan keuangannya yang mencatatkan kenaikan laba bersih sebesar 106%. Sayangnya, kata Teuku Hendry, harga AALI (Rp 22.100 pada 26/10) sudah tergolong tinggi. Itu sebabnya, ia menyarankan investor untuk membeli saham Bakrie Sumatra Plantations (UNSP). Menurut perhitungannya, saham ini bisa naik dari Rp 1.820 ke level Rp 2.000. ”Kalau melihat potensinya, saya lebih memilih saham-saham CPO. Sementara saham perbankan dijadikan sebagai alternatif saja,” katanya.
Jika Teuku Hendry dan rekan-rekannya masih melihat ada celah untuk bermain, tidak demikian halnya dengan Adrian Rusmana. Kepala Riset PT Kresna Securities ini menyarankan agar investor super-hati-hati. Ia sangat mengkhawatirkan harga minyak pada akhirnya akan menjadi bom waktu. ”Ini sudah mendekati US$ 100. Sehingga bermain saham lebih cenderung spekulatif,” katanya. Adrian memprediksi, indeks akan mengalami koreksi. Bahkan, bukan mustahil IHSG yang kemarin ditutup di level 2.624 (26/10) akan menciut kembali ke level 2.400-an.
Itu sebabnya, Adrian tidak berani memberikan rekomendasi. Betul, ada banyak emiten bagus yang diuntungkan oleh kenaikan harga minyak dunia, tapi harga sahamnya kebanyakan sudah kemahalan. ”Untuk saat ini susah mengatakan saham mana yang aman,” katanya.
Jadi semua harus berhenti bermain? Tidak juga. Kata Adrian, situasi seperti ini tidak akan membuat seluruh pemodal balik kanan. ”Sebab banyak juga investor yang menyukai kondisi yang gonjang-ganjing. Mereka ini selalu berani menghadapi risiko tinggi,” katanya.
Nah, kini tinggal tergantung seberapa besar keberanian yang Anda miliki. Mau terus maju, atau berhenti sejenak.
Berikan Komentar untuk artikel ini
|
|
 |
|
 |
Edisi 09 - 10 Tahun VI 31 Desember - 6 Januari 2007 |
 |
|
 |
|