Rabu, 7 Januari 2009 | Berlangganan Majalah TRUST 
Sub Rubrik:

Waktunya Second Liner

Kun Wahyu Winasis, Syarif Hidayat, Windarto, dan Intan Rahmawati
 
SEPERTI yang sudah diduga, aksi profit taking mendominasi transaksi di pasar saham, pekan lalu. Setelah beberapa harga saham melambung tinggi, para investor ramai-ramai melepas barang. Pada penutupan hari Jumat (16/11) misalnya, nilai penjualan bersih yang dilakukan investor asing mencapai Rp 402 miliar. Akibatnya, dari sekitar 245 saham yang aktif diperdagangkan, sebanyak 137 saham melemah dan hanya 48 saham yang menguat. IHSG pun terkoreksi 37,116 poin ke level 2.668,704.
Saham tambang dan kebun masih menjadi aktor utama transaksi di bursa. Pada Jumat itu, saham ANTM melemah Rp 100 ke level Rp 4.250, BUMI turun Rp 225 menjadi Rp 4.600, dan PTBA terkoreksi Rp 300 ke posisi Rp 10.650. Adapun harga saham AALI menclok di Rp 22.750 atau turun 3% dalam sepekan.
Di mata sejumlah analis, koreksi yang dilakukan investor sangat wajar. Selain harga berbagai saham sudah terlalu mahal, aksi itu juga akan mendorong transaksi kembali ramai pekan ini. Seorang broker asing bilang, aksi profit taking masih akan berlanjut. Hanya saja, saham-saham tambang, seperti INCO, PTBA, ANTM, BUMI, dan TINS, masih akan menjadi buruan investor. Bagi pemodal jangka panjang, masuk saat ini tetap menguntungkan. ”Dalam tiga bulan harga minyak masih belum stabil,” kata dia.

 Artikel Lain
Kinclong, tapi Mahal Banget
Tambang Sang Primadona
Yang Tersungkur Setelah IPO
Naik Berkat Beleid Single Presence Policy
Waktunya Second Liner
Siapa yang Memborong?
Awas Bahaya Minyak
Siapa yang Diuntungkan?
Makin Sehat Setelah Lebaran
Satu Lagi yang Layak Diburu
Saham PT Timah, misalnya. Lantaran harga komoditi itu sudah tembus di angka US$ 17.500 per ton, keuntungan yang diraih perseroan diyakini akan terus melambung. Hingga September kemarin, profit BUMN ini tumbuh 1.953% menjadi Rp 1,2 triliun dibandingkan periode sama 2006. Kabar positif lainnya, tahun depan perseroan bakal menaikkan produksinya menjadi 55.000-60.000 ton. Manajemen TINS juga optimistis harga komoditi ini akan terjaga di kisaran US$ 15.000 per ton. Jika asumsi itu betul, berarti PT Timah berpotensi meraih pendapatan sekitar US$ 750 juta-US$ 900 juta tahun depan.
Budi Ruseno, analis dari Bhakti Kapital, mengatakan, selama harga minyak masih tinggi, saham-saham berbasis energi bakal terus melaju. Sungguhpun demikian, kata Budi, investor tidak boleh melupakan saham-saham lain. Pasalnya, masih banyak saham-saham yang prospeknya tak kalah kinclong.
Sebut saja misalnya saham Bank Mandiri (BMRI) dan Bank BCA (BBCA). Khusus BBCA, rencana perseroan untuk melakukan stock split akan mendorong pergerakan sahamnya lebih likuid. Sementara BTEL bersama TLKM juga masih layak untuk dimainkan. Pekan ini, Budi memperkirakan pergerakan harga saham akan cenderung variatif. Di awal pekan koreksi masih akan terjadi. Selanjutnya harga kembali naik. Indeks, kata dia, akan bergerak di kisaran 2.600-2.713.
Saham-saham di sektor infrastruktur, seperti WIKA dan ADHI, juga masih menarik. Teguh Sunyoto, analis Kim Eng Securities, menargetkan harga saham ADHI bisa mencapai Rp 1.800 per saham. Pekan lalu, saham BUMN ini dibanderol pada level Rp 1.480. Hanya target harga tersebut tidak akan tercapai dalam jangka pendek. Jadi, bagi investor jangka panjang (12 bulan) saham ADHI berpotensi memberikan gain hingga 21%.
Second liner lain yang tak kalah menjanjikan adalah saham-saham berbasis konsumer. Misalnya Ramayana (RALS) dan Mayora (MYOR). Seorang broker lokal juga menyarankan investor untuk mengoleksi saham-saham properti dan rokok. Kinerja dua sektor itu, kata dia, akan tetap solid hingga tahun depan. Apalagi, bank-bank kian gencar menawarkan KPR dengan bunga miring.
Agustini Hamid, analis Recapital, menilai saham BII dan Niaga masih akan menjadi perhatian pasar. Rencana Kookmin Bank untuk mengakuisisi BII telah mendorong harga saham itu menembus harga Rp 315 (14/11). Demikian juga dengan saham Bank Niaga yang mengalami lompatan berkat isu merger dengan Lippo. Sepekan kemarin harga BNGA melesat hingga 20% ke posisi Rp 950 per saham.
Prediksi Suherman Santikno, kondisi bursa kita tak bakal mengalami perubahan. Kalau toh laju indeks bakal menyentuh 2.700, para investor akan langsung melakukan profit taking. Sebaliknya, jika indeks sudah di kisaran 2.650, aksi beli akan kembali ramai. Kepala Riset Grup Batavia ini menyarankan investor untuk bermain jangka pendek. Saham tambang dan energi dinilainya masih cukup prospektif memberikan gain.

RUPIAH LETOI
Fenomena tak kalah menarik diperlihatkan oleh pergerakan rupiah di pekan lalu. Di saat hampir semua mata uang dunia menguat terhadap US$, rupiah justru terjerembap ke level Rp 9.400 per dolar. Kenapa? Menurut Rosady T. A. Montol, Head of Research BNI, ada dua faktor penyebabnya. Pertama, pasar global cenderung melakukan aksi perpindahan dari high risk instrument ke low risk instrument. ”Investor juga melakukan konversi portofolio dari high risk country ke low risk country,” katanya.
Penyebab kedua adalah rendahnya daya serap SBI yang telah mendorong pemilik dana memborong US$. Pada lelang hari Rabu (14/11) BI hanya menyerap Rp 7,56 triliun. Padahal, SBI yang jatuh tempo 1 bulan nilainya Rp 42 triliun. Artinya, ada sekitar Rp 33,44 triliun yang tidak terserap. Nah, dana inilah yang banyak beralih ke valas, terutama US$. Kebetulan pada saat bersamaan investor di bursa melakukan aksi profit taking. Sehingga semakin mendorong terjun bebas ke posisi Rp 9.400 di akhir pekan.
Winang Budoyo, ekonom Bank Lippo, pesimistis rupiah bakal menguat pekan ini. Langkah BI menahan penurunan suku bunga telah membuat margin investasi di SUN semakin tipis. Alhasil, para pemodal asing pun ramai-ramai melakukan profit taking.
Simpang siur mengenai data pertumbuhan ekonomi juga membingungkan pasar. Menurut Winang, awalnya pemerintah bilang pertumbuhan kita hanya 6,2%. Tapi begitu laporan mengenai gross domestic product (GDP) keluar, angka pertumbuhan yang muncul justru 6,5%. ”Sebaiknya pemerintah tidak terlalu mengobral statement,” ujarnya.
Menilik kondisi yang ada, para pelaku pasar tidak terlalu yakin rupiah bakal menunjukkan taringnya dalam waktu dekat. Apalagi, persoalan yang terjadi di Amerika— krisis subprime mortgage—diyakini belum sepenuhnya tuntas. Joko Waluyo, seorang pialang valas, mengatakan, nilai tukar rupiah masih akan tertekan terhadap US$.
Minimnya sentimen positif dan ancaman inflasi inilah yang membuat para pemilik dana lebih enjoy menenteng valas. Joko bahkan meyakini rupiah bisa jatuh lebih dalam andai kata BI tak melakukan intervensi. Pekan ini, kata dia, ruang gerak rupiah berada di kisaran Rp 9.200-Rp 9.400 per dolar. 


Berikan Komentar untuk artikel ini

Edisi 09 - 10 Tahun VI
31 Desember - 6 Januari 2007
www.mnc.co.id