Sabtu, 20 Maret 2010 | Berlangganan Majalah TRUST 
Sub Rubrik:

Yang Tersungkur Setelah IPO
Saham Properti

Febry Mahimza dan Windarto
 
NADA suara Ikhsan Binarto, saat dihubungi Jumat pekan lalu, terdengar ”sumbang”. Sedang memendam rasa kesal? Memang. Pasalnya, saham PT Ciputra Property (CTRP) yang dibelinya dengan harga Rp 700 per saham pada saat penawaran perdana awal November kemarin, langsung anjlok 90 poin ke posisi Rp 610. Itu terjadi pada hari pertama pencatatannya di BEJ, Rabu (7/11/2007). Yang membuat Ikhsan tambah pusing bukan kepalang adalah saham emiten yang merupakan anak perusahaan Ciputra Group ini malah terus melemah. Saat bursa ditutup Jumat pekan lalu, CTRP terduduk lemas di level Rp 590 per saham atau melorot 15,71% dari harga perdana.
”Banyak yang rugi akibat saham ini, termasuk saya,” ujar analis PT Optima Investama Securities ini pelan. Ia tak habis pikir, mengapa mainan barunya itu langsung loyo saat perdagangan perdana. Padahal, secara fundamental, saham-saham Grup Ciputra terbilang stabil. Bahkan, prospek bisnis perseroannya juga cukup bersinar. Sebab, dana segar sebesar Rp 4,8 triliun yang diperoleh dari IPO 49% saham CTRP itu, akan digunakan untuk membangun Ciputra World. Ini merupakan proyek superblok yang menggabungkan mal, apartemen, dan ruang perkantoran di lahan seluas 11 ha di kawasan Jalan Dr. Satrio, Kuningan, Jakarta Selatan.
Ikhsan, tampaknya, masih dibayangi oleh kejadian yang menimpa saham CTRP. Itu sebabnya, dia tak terlalu bersemangat mengomentari prospek saham PT Alam Sutera Realty. Rencana perseroan yang akan menjual 17,65% sahamnya pada awal Desember besok itu, menurutnya, tak akan seramai seperti saat IPO Ciputra Property. ”Akibat kejadian CTRP, sebagian besar investor jadi ekstra-hati-hati terhadap rencana IPO PT Alam Sutera Realty,” ujarnya saat ditanya tentang prospek kinerja saham PT Alam Sutera.

 Artikel Lain
Makin Berkilau di Akhir Tahun
Menunggu Reaksi BI
Kinclong, tapi Mahal Banget
Tambang Sang Primadona
Yang Tersungkur Setelah IPO
Naik Berkat Beleid Single Presence Policy
Waktunya Second Liner
Siapa yang Memborong?
Awas Bahaya Minyak
Siapa yang Diuntungkan?
Ada sejumlah hal yang harus diperhatikan investor sebelum mengoleksi saham pengembang perumahan mewah di kawasan Serpong, Tangerang itu. Di antaranya, jika merujuk harga nominalnya yang cuma dibanderol Rp 100 per saham, maka pada saat penawaran perdana, ”Harganya tidak boleh memiliki rentang terlalu jauh,” tegasnya. Harga perdana yang wajar untuk saham ini, kata Ikhsan, berada di kisaran Rp 200 per saham. Jika lebih tinggi dari itu, ”Terlalu berisiko buat investor. Apalagi ba-nyak orang yang belum familiar dengan pengembang Alam Sutera,” paparnya.
Kendati menyasar konsumen kelas atas, konsep perumahan mewah Alam Sutera seluas 700 hektare itu boleh dibilang sudah kuno. Soalnya, sebagian pengembang yang sudah melantai di bursa, kini tengah giat-giatnya membangun properti berkonsep superblok di tengah kota. Sayang, saat ditanya mengenai rencana bisnis perusahaannya, Sales Manager PT Alam Sutera Realty, Erwyanto Tedjakusuma, tidak mau banyak berkomentar. ”Tunggu saja publik eksposnya hari Senin (19/11/07),” ujarnya singkat. Yang pasti, seluruh dana dari IPO tersebut akan digunakan untuk membangun pusat belanja modern serta penambahan lahan di daerah strategis.
Jika menilik kinerja keuangannya, calon emiten ini memang tak buruk-buruk amat. Hingga 31 Agustus 2007, perseroan membukukan penjualan sebesar Rp 182,38 miliar, dengan laba bersih sebesar Rp 3,77 miliar. Cukup lumayan jika melihat pencapaian pada Desember 2006, saat laba bersihnya hanya sebesar Rp 1,46 miliar. Kendati demikian, sekali lagi, Ikhsan menyarankan agar investor hati-hati terhadap saham ini. ”Kalau tidak yakin, lebih baik simpan saja uangnya,” begitu rekomendasinya.
Akankah saham ini bernasib sama dengan saham PT Ciputra Property atau malah sebaliknya? Kita lihat saja nanti. 


Berikan Komentar untuk artikel ini

Edisi 09 - 10 Tahun VI
31 Desember - 6 Januari 2007
www.mnc.co.id