Jumat, 3 September 2010 | Berlangganan Majalah TRUST 
Sub Rubrik:

Tambang Sang Primadona

Budi Kusumah, Hendra Gunawan, dan Eko Zulham
 
BAGI kolektor saham dan yang mengantongi dolar dalam jumlah besar, pekan lalu, merupakan minggu yang mendebarkan. Yang koceknya disesaki mata uang AS, jantungnya berdebar lantaran rasa girang yang meluap-luap. Soalnya, nilai tukar US$ terhadap rupiah terus menguat, bahkan sempat menyentuh Rp 9.400. Sementara, pemegang saham banyak yang deg-degan lantaran gugurnya harga sejumlah saham unggulan.
Saham Telkom, misalnya. Setelah terpukul oleh keputusan KPPU untuk Temasek, hingga kini harganya belum pulih benar. TLKM, Jumat lalu (23/11), ditutup pada level Rp 10.050 alias turun 4,28% dibanding penutupan sepekan sebelumnya. Sementara saham Indosat (ISAT) telah berhasil kembali ke harga semula, yakni Rp 8.800.
Musim gugur juga terjadi di saham perbankan. Harga saham Bank Mandiri (BMRI), BBCA, Danamon (BDMN), dan BBNI juga mengalami penurunan yang lumayan dalam. Bahkan, BBNI makin menjauhi harga perdananya—yang Rp 2.050—menjadi tinggal Rp 1.830.

 Artikel Lain
Mari Kita Tunggu di Bawah
Makin Berkilau di Akhir Tahun
Menunggu Reaksi BI
Kinclong, tapi Mahal Banget
Tambang Sang Primadona
Yang Tersungkur Setelah IPO
Naik Berkat Beleid Single Presence Policy
Waktunya Second Liner
Siapa yang Memborong?
Awas Bahaya Minyak
Efek terbitan Kelompok Astra, yang biasanya tampil gagah perkasa, pun ikut tertatih-tatih. Saham Astra Agro Lestari (AALI) misalnya, Jumat lalu (23/11) ditutup pada Rp 21.950 atau melemah Rp 200 dibanding sepekan sebelumnya. Sementara Astra International (ASII) turun Rp 350 ke Rp 23.200.
Begitulah, rontoknya saham-saham kelas satu itu telah membuat indeks harga saham gabungan (IHSG) berfluktuasi dengan tajam. Di pekan lalu itu, mulai dari Senin hingga Kamis koreksi terus terjadi. Hanya pada hari Jumat tercatat sedikit penguatan, 15 poin ke 2.584. tapi jika ditotal, sepanjang enam hari perdagangan kemarin, IHSG telah mengalami penurunan sebesar 84,36 atau sekitar 3%.
Telah berlalukah badai koreksi yang didorong oleh aksi jual itu? Belum, ternyata. Kata Gunawan Tjandra, kemungkinan terjadinya koreksi masih cukup besar. Tergantung pada kondisi regional. Jika yen menguat terhadap US$ dan bursa regional terus menukik dalam dua hari berturut-turut, ”Indeks kita bakal terjungkal ke level 2.400-an,” kata Kepala Riset PT Corfina Capital ini.
Pekan lalu juga, kata Gunawan, sebenarnya, indeks berpotensi terseret jauh ke bawah. Hanya saja, penurunannya terganjal oleh kekuatan saham-saham dari sektor pertambangan dan energi. Dan ia memperkirakan, pekan ini, saham-saham tersebut masih akan menjadi penopang yang bisa menahan indeks longsor lebih dalam. Alasannya, ia belum melihat adanya ”cahaya” di saham-saham sektor lainnya.
”Saat ini banyak investor yang rela melepas saham telekomunikasi dan perbankan untuk masuk ke pertambangan,” ujar Gunawan. Ia memprediksi, di hari-hari ini, ANTM—yang di akhir pekan lalu ditutup pada harga Rp 4.650—akan mendekat ke angka goceng. Begitu pula halnya dengan saham Bumi Resources (BUMI). Maklum, kebetulan, harga dua saham tersebut pada Jumat lalu berada di posisi yang sama.
Kelak, lanjut Gunawan, jika kenaikan ANTM dan BUMI sudah terlalu tinggi dan dianggap kemahalan, investor akan kembali ke ”habitat” semula, yakni masuk ke telekomunikasi dan perbankan. Persoalannya, yang selalu menjadi pertanyaan selama ini, kapan saham-saham tambang itu dianggap telah masuk ke area mahal? Kok harganya malah terus menanjak?
Sayang, seperti para analis pasar saham lainnya, Gunawan juga tak mampu memprediksi harga puncak kedua saham tersebut. Ia hanya bisa menambahkan rekomendasinya dengan menyorongkan saham perkebunan sebagai pilihan lain bagi investor. Setelah melihat kinerjanya di kuartal III, ia me-nyarankan investor untuk mempertimbangkan saham AALI (Astra Agro Lestari). Setelah ditutup pada harga Rp 21.950 (23/11), di akhir tahun saham ini diperkirakan bakal menclok di level Rp 25.000.

JANGAN LUPAKAN TELKOM
Masih adanya potensi penguatan pada saham-saham pertambangan, juga diyakini oleh Dandy Fajar Musratmo. Menurut analis dari Eficorp Sekuritas ini, naiknya harga minyak dunia telah mendorong harga bahan-bahan tambang ikut melonjak. Inilah yang membuat pendapatan emiten di sektor ini makin tinggi, sehingga sahamnya pun terus menguat.
Menariknya, penguatan itu diperkirakan masih akan terus berlangsung. ”Jadi, pekan ini, indeks masih akan ditopang oleh sektor pertambangan,” kata Dandy yang memprediksi IHSG akan bergerak di rentang 2.590-2.640.
Sama dengan rekannya, Dandy juga merekomendasikan beli untuk ANTM dan BUMI. Bedanya, angka Rp 5.000 diperkirakan akan dicapai ANTM dalam jangka menengah. Sementara untuk jangka investasi yang sama, harga BUMI bakal menyentuh Rp 5.200.
Di luar itu, Dandy, juga menyodorkan saham Timah (TINS) dan INCO sebagai pilihan lainnya. TINS dalam jangka pendek diduga akan merangkak dari Rp 21.600 (23/11) ke Rp 21.800. Setelah itu saham ini akan merayap naik ke level Rp 23.000.
Prediksi bernada optimistis juga ditujukan pada saham INCO. Kendati manajemen disibukkan oleh kegiatan negosiasi dengan ratusan karyawannya yang mogok kerja, para analis yakin, kinerja perusahaan tambang tersebut masih bisa terjaga. Bahkan seorang kepala riset dari sekuritas asing membisikkan, jatuhnya harga INCO—akibat aksi mogok itu—merupakan saat yang tepat untuk membeli.
Seperti kita saksikan bersama, aksi pemogokan karyawan INCO telah membuat harga saham perusahaan nikel ini longsor berat. Senin pekan lalu, saham perusahaan tambang dari Sorowako ini masih menclok di level Rp 107.700. Tapi, kemudian terus merosot sehingga, pada Jumat lalu, ditutup di harga Rp 95.500 atau turun 11,3% dalam waktu lima hari.
Oleh sebab itu, belilah selagi murah. Sebab, menurut hasil peneropongan Dandy, dalam jangka pendek INCO akan kembali naik ke Rp 108.000 dan ke Rp 112.000 dalam jangka menengah. Bahkan, beberapa analis lain berani memprediksi saham ini ke depan bakal menggapai level Rp 125.000.
Jika merujuk pada keterangan yang disampaikan manajemen INCO, prediksi nan optimistis itu memang masuk akal juga. Soalnya, menurut pengakuan seorang manajernya, yang melakukan aksi mogok tidak sampai 500 orang seperti yang dilansir sejumlah media massa, melainkan hanya sekitar 200-an. Itu pun tidak seluruhnya berasal dari bagian penambangan. Dengan demikian, manajemen tetap yakin target produksi nikel sebanyak 165 juta pon tahun ini bakal tercapai.
Kalau perhitungan ini benar adanya, maka laba yang dipatok pun akan semakin melambung tinggi. Apalagi, harga nikel di pasar dunia kini sudah mencapai US$ 37.000 per metrik ton. Asal tahu saja, hingga akhir September kemarin, INCO berhasil mencatatkan laba bersih US$ 973 juta atau sekitar Rp 89,5 triliun.
Benar-benar menawan. Tapi, ingat, jangan lupakan saham bagus lainnya. TLKM dan ISAT yang kemarin diterjang vonis KPPU, misalnya. Kata Dandy, keduanya masih berpotensi untuk menguat. ”Untuk jangka panjang, keputusan itu tidak berpengaruh pada pergerakan harga sahamnya. Jadi, masih layak dikoleksi,” katanya.
Harga ISAT diperkirakan Dandy akan terus merapat ke posisi TLKM saat ini, yakni di jajaran Rp 10.000-an. Setelah dalam jangka pendek menggapai angka Rp 9.000 per saham, selanjutnya saham ini—dalam jangka menengah—diduga bakal menclok di Rp 10.200. Tapi, harga TLKM pun tak akan jalan di tempat. Ia akan bergerak ke level Rp 11.750 (jangka pendek) untuk kemudian menuju ke Rp 14.000.
Betul, keputusan KPPU—yang meng-haruskan penurunan tarif sebesar 15%—akan membuat pendapatan emiten ini menciut. Tapi, kata Dandy, tetap saja prospek bisnis telekomunikasi akan mencorong. Inilah yang membuat sahamnya masih layak dikoleksi untuk jangka panjang.

RUPIAH BELUM AMAN
Kendati tampak mulai menghangat, perdagangan saham di bursa tetap masih dalam bayang-bayang koreksi. Dan kondisi seperti ini terjadi juga di pasar valuta. Penguatan nilai tukar rupiah, yang pekan lalu sedikit menggeliat ke level Rp 9.370, tidak bisa dijadikan sebagai ”jaminan.” Soalnya, sudah menjadi kebiasaan bagi investor asing melakukan profit taking pada akhir tahun. Dan biasanya, aksi ”lepas barang beli dolar” yang dilakukan asing diikuti oleh para pemilik modal lokal. Sehingga, tekanan terhadap rupiah pun menjadi semakin berat.
Jika itu terjadi, kata Anton Gunawan, bukan mustahil mata uang kebanggaan RI itu kembali ke tataran Rp 9.400. Itu sebabnya, ekonom Citigroup ini mengimbau agar lebih ketat dalam menjaga pasar. Apalagi, para pemodal itu kini tengah menunggu kepastian pemerintah dalam mengambil kebijakan untuk menghadapi tingginya harga minyak dunia. ”Satu-satunya cara untuk mengamankan rupiah, BI harus intervensi,” katanya.
Kekhawatiran terhadap derasnya capital outflow, memang, bukan mengada-ada. Lihat saja buktinya. Gara-gara krisis kredit perumahan yang terjadi di Amerika, investor global terus menarik dananya dari negara-negara berkembang. Tak terkecuali dari Indonesia. ”Ini akan terus berlanjut. Apalagi, krisis subprime mortgage diperkirakan baru akan berakhir semester I tahun depan,” kata All Berami, analis valas dari Bank BNI.
Indikasi terjadinya penarikan hot money tersebut, tampak, pada perdagangan saham, Sertifikat Bank Indonesia (SBI), dan surat utang negara (SUN). Diperkirakan, dalam sepekan terakhir, dana asing yang terbang dari negeri ini telah mencapai lebih dari Rp 6 triliun.
Yang menambah suasana lebih parah adalah naiknya permintaan dolar untuk mengimpor minyak dan memenuhi kewajiban valas korporasi. Tapi, syukurlah, kebutuhan valas ini diperkirakan mulai berkurang banyak. Sehingga All Berami memprediksi, nilai tukar US$-rupiah akan bergerak di kisaran Rp 9.250-Rp 9.450.
Kok rentangnya begitu lebar? Inilah yang sulit dicari jawabnya. Maklum, banyak faktor eksternal yang tak bisa diduga. Makanya, sejumlah pengamat pasar uang hanya bisa menyarankan agar otoritas moneter membuat aturan, agar hot money tidak bisa keluar masuk seenaknya ke negeri ini. ”Jangan membuat pembatasan, karena itu akan mengurangi kepercayaan terhadap dunia investasi kita. Tapi, buatlah aturan yang ketat, seperti di Australia dan Selandia Baru,” kata All Berami.
Ah, saran seperti itu, rasanya sudah sejak lama dikumandangkan oleh para ahli. Tapi, entah kenapa, otoritas moneter kita kelihatannya tak mau peduli. 


Berikan Komentar untuk artikel ini
Lihat Komentar untuk artikel ini

Edisi 09 - 10 Tahun VI
31 Desember - 6 Januari 2007
www.mnc.co.id