Sabtu, 13 Maret 2010 | Berlangganan Majalah TRUST 
Sub Rubrik:

Kinclong, tapi Mahal Banget
IPO Indo Tambangraya Megah

Syarif Hidayat
 
SETELAH sempat tertunda akibat krisis subprime mortgage, PT Indo Tambangraya Megah (ITM) akhirnya jadi juga melantai di bursa saham. Kalau tak ada aral melintang, perusahaan ini akan menawarkan 20% sahamnya (atau setara 226 juta saham) pada 10-12 Desember mendatang. Yang menarik, efek bernominal Rp 500 ini akan ditawarkan dengan harga antara Rp 11.000-Rp 15.000 per saham. Sehingga, dari penjualan 226 juta saham ini perseroan berharap akan mengantongi dana segar senilai Rp US$ 270 juta-US$ 300 juta.
Tingginya harga penawaran yang dilempar ITM ini, cukup mencengangkan sejumlah para pelaku pasar. Kendati, perusahaan yang bergerak di bisnis pertambangan batu bara tersebut memiliki kinerja yang lumayan kinclong. Hingga semester I yang baru lalu misalnya, perseroan berhasil mencetak angka penjualan bersih sebesar US$ 315,687 juta. Dari situ laba bersih yang berhasil diraih mencapai US$ 22,683 juta. Dan hingga akhir tahun, manajemen menargetkan untung bersihnya naik menjadi US$ 40 juta. Tapi, ya itu tadi, walaupun rapornya sangat biru, harga saham yang ditawarkan tetap dianggap terlalu mahal.
”Tak Cuma mahal, tapi ini very-very expensive,” kata Prayoga Ahmadi Triyono. Analis dari Henan Putihrai ini mengaku benar-benar kaget ketika mendengar harga yang dipasang berkisar Rp 11.000-Rp 15.000. Sebab sebelumnya, ia memperkirakan, efek ITM akan dijajakan di rentang Rp 2.000-Rp 5.000 per saham.

 Artikel Lain
Supaya Tak Seperti Dulu
Mari Kita Tunggu di Bawah
Makin Berkilau di Akhir Tahun
Menunggu Reaksi BI
Kinclong, tapi Mahal Banget
Tambang Sang Primadona
Yang Tersungkur Setelah IPO
Naik Berkat Beleid Single Presence Policy
Waktunya Second Liner
Siapa yang Memborong?
Perkiraan itu muncul, kata Prayoga, karena saham BUMI (PT Bumi Resources) saja kini hanya dihargai pada level Rp 4.300-an. Padahal, BUMI merupakan pemain batu bara kelas satu atau dua tingkat di atas ITM. Itu sebabnya, jika memiliki modal yang cukup kuat, ia menyarankan sebaiknya investor membeli saham-saham perusahaan yang track record-nya sudah teruji. Misalnya saham PT Telkom (TLKM) dan PT Tambang Batubara Bukit Asam (PTBA) yang masih berada di level Rp 10.000-an. ”Sehebat-hebatnya mining, rasanya sangat sulit untuk mengalahkan kinerja perusahaan yang sudah eksis dan diketahui memiliki fundamental kuat,” katanya.
Pendapat senada dikemukakan Felix Sindhunata. Merujuk pada kinerja yang dicapai pada semester I-2007, kata Felix, bila saham ITM dijual pada harga Rp 11 ribu-Rp 15.000, maka price earning ratio-nya menjadi sebesar 29-40 kali. Jadi jatuhnya, ”Ya relatif mahal,” kata analis dari Mega Capital ini. Makanya, ia menyarankan, jumlah saham yang dijual diperbanyak agar bisa dijajakan dengan harga yang lebih rendah. ”Idealnya, yang ditawarkan 10 kali lipat atau dua miliar lebih,” tuturnya. Selain bisa lebih murah, pengalaman menunjukkan, IPO yang jumlahnya di bawah 800 juta, sahamnya tidak likuid.
Kalau begitu, akan lariskah saham ini? ”Saya optimistis, karena harga yang ditawarkan sudah sesuai dengan nilai perseroan dan harga batu bara yang sedang membubung,” kata Edward Manurung, Direktur Keuangan ITM. Menurut dia, 70% dana dari hasil IPO akan dipakai untuk pengembangan usaha pertambangan batu bara dan pembangkit tenaga listrik. Sedang sisanya akan digunakan untuk melunasi sebagian kewajibannya. Asal tahu saja, saat ini, perseroan masih memiliki kewajiban sebesar US$ 365.558.000.
Anda tertarik? Silakan koleksi. Sebab, di hari perdagangan pertama, saham baru biasanya menghasilkan gain yang menawan. Tapi, Prayoga menyarankan agar investor mau menunggu sampai harganya terkoreksi di pasar sekunder. Untuk sementara, kata dia, belilah saham BUMI yang, menurut perhitungannya, tak lama lagi bakal menggapai level Rp 6.500. 


Berikan Komentar untuk artikel ini

Edisi 09 - 10 Tahun VI
31 Desember - 6 Januari 2007
www.mnc.co.id