Jumat, 12 Maret 2010 | Berlangganan Majalah TRUST 
Sub Rubrik:

Indah Kiat, Masih Indah

Priyanto Sukandar, Dikdik Taufik Hidayat, Diah Amelia, Teddy Unggik, dan Julianto
 
Nasib PT Indah Kiat Pulp and Paper Tbk. (INKP) sedang apes. Di kala kinerjanya mulai membaik, salah satu lini usaha Sinarmas Group ini justru tertimpa musibah. Gudang tempat menyimpan 35.000 ton kertas fotokopi, pekan lalu, hangus dilalap si jago merah. Akibatnya, produsen kertas dan pulp terbesar kedua di dunia ini harus menanggung kerugian sebesar US$ 31 juta atau sekitar Rp 310 miliar.

Besar, memang. Apalagi Indah Kiat kini tengah menjalani pembayaran utang yang baru saja direstrukturisasi. Kewajibannya, yang mencapai US$ 1,5 miliar, terbagi menjadi tiga bagian. Tranche A sebesar US$ 300.887.672 dengan jatuh tempo April 2015. Lantas, tranche B senilai US$ 789.809.976 harus dilunasi pada bulan April 2018. Dan yang terakhir, tranche C sebesar US$ 487,669,107, harus dibayar pada April 2024.

 Artikel Lain
Kenapa ISAT Letoi?
Short Selling Agar Bursa Makin Ramai
Kalau Tak Rela, Mau Apa Lagi?
Jika Sabar, Bisa Menguntungkan
Indah Kiat, Masih Indah
Redemption Reksadana Kasusnya Bakal Makin Panas
Karena Aqua Tak Ingin Berbagi
Bumi yang Kembali Menggoda
Karena Garuda Adalah Saudara
Inikah Awal Kebangkitan Itu?

Restrukturisasi tadi sebenarnya merupakan berkah bagi Indah Kiat. Sebab, bila sebelumnya perusahaan ini selalu menanggung rugi, besar kemungkinan tahun ini neraca keuangannya bakal membiru. Bagaimana tidak? Hingga kuartal III-2005 saja, Indah Kiat mampu mencatat laba bersih Rp 25,275 miliar. Sementara pada periode yang sama di tahun 2004, perusahaan ini masih merugi hingga Rp 139,84 miliar.

Membaiknya kinerja tadi, selain didukung oleh peningkatan penjualan yang naik dari Rp 1,059 triliun menjadi Rp 1,072 triliun, juga dikarenakan anjloknya beban bunga. Di tahun 2004, beban bunga yang ditanggung mencapai Rp 190,583 miliar, sementara di tahun 2005 mengempis menjadi Rp 55,103 miliar. Gandi Sulistiyanto (Wakil Presiden Komisaris Indah Kiat) optimistis bahwa sampai akhir tahun laba perseroan bakal meningkat 2%-4%.

Lantas bagaimana dampak kebakaran gudang tadi? Investor tak usah panik. Sebab, kata Gandi, semua obyek yang terbakar telah diasuransikan. Total nilai pertanggungan asuransi Indah Kiat mencapai US$ 5 miliar. Namun, untuk setiap kejadian, termasuk di dalamnya kebakaran, nilainya sebesar US$ 600 juta. “Asuransinya dari PT Jasindo, sedangkan broker asuransinya adalah AON dari Singapura,” ungkap Gandi.

Manajemen Indah Kiat juga yakin musibah itu tidak akan mengganggu kinerja perseroan, termasuk terhadap pengiriman barang pesanan milik para buyer di luar negeri. Asal tahu saja, hampir 60% produk perusahaan ini dilepas ke pasar ekspor. Menurut Gandi, gudang yang dimiliki Indah Kiat cukup banyak dan tempatnya terpisah dengan gedung yang terbakar. Itu sebabnya stok yang terbakar pekan lalu dapat dipenuhi kembali hanya dalam hitungan hari.

Beberapa analis di bursa pun tampaknya percaya pada pernyataan para petinggi Indah Kiat. Menurut Edwin A. Sinaga, Kepala Riset Kuo Kapital Raharja, selain lokasi kebakaran cukup jauh dari pabrik pengolahan yang dimiliki oleh Indah Kiat, gudang yang terbakar juga sudah diasuransikan. Jadi, kata dia, kerugian perseroan relatif tidak ada.

Tapi, Bonny Setiawan, analis PT Danareksa, punya pandangan lain. Menurutnya, kendati kinerja Indah Kiat tidak terganggu, emiten ini tergolong kurang efisien. Terbukti, laba perusahaan hanya dipatok meningkat 2%-4% pada tahun ini. Sedangkan margin keuntungan hanya 2% hingga 5%. Analis tadi menduga inefisiensi itu terjadi lantaran bahan bakunya masih dibeli dengan harga tinggi.

Selama ini, 70% bahan baku yang dimaksud berasal dari PT Arara Abadi, perusahaan yang masih terafiliasi dengan Sinarmas. Pembelian kayu jenis acacia dan eucalyptus dari perusahaan ini mencapai US$ 311 per ton. Padahal, produsen kertas lain seperti Aracruz Celulose’s dari Brasil bisa mendapatkan harga US$ 250 per ton untuk jenis kayu yang sama. Makanya, jika manajemen tidak bisa menekan biaya tadi, Bonny tidak terlalu yakin kinerja Indah Kiat bisa semakin kinclong. “Untuk sementara, saham ini belum layak dikoleksi,” katanya.

Tapi, Budi Ruseno (Direktur Bhakti Capital Indonesia) menilai saham Indah Kiat masih cukup menarik. Paling tidak, dalam perhitungannya, harga wajar INKP adalah Rp 1.350 per saham. Pekan lalu, saham ini masih bertengger di posisi Rp 1.090 per saham (29/12).


Berikan Komentar untuk artikel ini

Edisi 09 - 10 Tahun VI
31 Desember - 6 Januari 2007
www.mnc.co.id