|
|
 |
|
Jika Sabar, Bisa Menguntungkan
|
| Kun Wahyu Winasis, Rinto Manunggal, Diah Amelia, Dikdik T. Hidayat, dan Subhan Surya Atmadja |
| |
Industri multifinance yang tampak kedodoran di paruh kedua 2005, kelihatannya masih akan menghadapi banyak cobaan di tahun ini. Selain karena perbankan mulai mengerem laju kreditnya ke sektor ini, suku bunga tinggi juga membuat banyak perusahaan pusing tak keruan. Maklum, melesatnya suku bunga telah membuat daya beli melemah dan mendorong terjadinya peningkatan non-performing loan (NPL).
Faktor lain yang membuat industri ini makin merana adalah ketatnya tingkat persaingan. Itu terjadi lantaran perusahaan-perusahaan multifinance cenderung bermain di pasar yang sama, yaitu pembiayaan mobil dan motor. Dan jika dirunut lebih sempit lagi, mayoritas konsumen yang menjadi target pembiayaan pun terkonsentrasi di wilayah Jabotabek.
Namun, itu tak berarti industri multifinance bakal mati. Setidaknya, begitulah keyakinan para pemain yang berbisnis di sektor ini. Bahkan, dengan tingkat penjualan sepeda motor yang mencapai Rp 4,5 juta tahun ini, Benny Wenas, Presdir Wahana Ottomitra Multiartha (WOM) Finance, mengatakan bahwa peluang pembiayaan bisa mencapai sekitar Rp 35 triliun. “Apabila satu motor harganya Rp 10 juta, maka nilai pasarnya Rp 45 triliun. Jika pembiayaannya 80%, berarti dibutuhkan dana Rp 35 triliun,” katanya.
Jika hitung-hitungan tadi benar, berarti pasar pembiayaan memang masih cukup menggiurkan. Pertanyaannya kemudian, akankah saham-saham multifinance yang banyak longsor di tahun 2005 bakal kembali menggeliat? Sejumlah analis memercayai kemungkinan itu. Namun, tidak sedikit pula yang pesimistis hal itu bisa kesampaian. Salah satunya disebabkan oleh masih rendahnya penerapan manajemen risiko. Makanya, “Kalau tahun ini bisa tumbuh 15% saja, itu sudah cukup baik bagi multifinance,” tutur Edwin Sinaga, analis Kuo Capital Raharja.
Lantas, seperti apa kinerja perusahaan-perusahaan multifinance yang sudah Tbk saat ini? Silakan simak analisis berikut ini.
PT Adira Dinamika Multi Finance Tbk. (ADMF)
Sebagai anak perusahaan Bank Danamon, Adira jelas mendapatkan banyak keuntungan. Di samping sumber pendanaan yang relatif lebih mudah, penetrasi pasarnya pun bisa meluas. Setidaknya, jika perusahaan ini memanfaatkan jaringan Bank Danamon yang cukup banyak, peluang untuk menggaet konsumen juga menjadi bertambah. Saat ini Adira memiliki sekitar 215 outlet. Cuma, kata Jenny Widjaja, Head of Investor Relation Adira, sebagian besar outlet tadi masih terkonsentrasi di Pulau Jawa. “Kami akan mulai memperbanyak jaringan di luar Jawa,” katanya.
Dengan strategi itu, Adira masih optimistis pembiayaannya bakal tumbuh hingga 30% tahun ini. Dibandingkan tahun lalu, target kali ini memang menurun. Selain faktor melesunya bisnis, optimisme yang berlebihan tampaknya juga mulai dihindari manajemen. Maklum, tahun lalu mereka sangat yakin bisa melepas dana hingga Rp 10 triliun. Tapi gara-gara naiknya suku bunga, semua target tersebut akhirnya berantakan.
Berkurangnya pembiayaan, jelas, bakal membuat pendapatan dan laba Adira ikut terpangkas. Asal tahu saja, pada tahun 2004, laba bersih perusahaan ini melesat hingga 94% menjadi Rp 301,35 miliar. Sementara di tahun lalu, kata Jenny, laba bersih perusahaan ditaksir hanya tumbuh 50% atau menjadi Rp 450 miliar.
Walaupun bakal menghadapi tahun yang berat, Ricardo Silaen (analis Kim Eng Securities) kepada Julianto dari TRUST, mengatakan bahwa saham Adira masih pantas untuk dilirik. Apalagi sepanjang 2005 lalu, harganya telah mengalami diskon besar. Bila di pertengahan 2005 (7/7/2005) ADMF masih dihargai Rp 2.500, pekan lalu nilainya telah berada di kisaran Rp 1.680 (5/1). Dengan kata lain, ADMF telah terdiskon hingga 32,8%. Menurut analis, saham ini masih bisa bergerak ke level Rp 1.800-Rp 2.000 per saham. Hanya memang, butuh kesabaran hingga kuartal III tahun ini.
PT Wahana Ottomitra Multiartha Tbk. (WOMF)
Sebagai perusahaan yang sahamnya di kuasai Bank Internasional Indonesia, WOM mestinya tak pusing memikirkan sumber pendanaan. Mungkin lantaran itu pula Benny Wenas, Presdir PT Wahana Ottomitra Multiartha Tbk., yakin tahun ini perusahaannya bisa melempar dana ke pasar hingga Rp 4 triliun.
Dengan pembiayaan sebesar itu, Benny percaya, peruntungan perusahaannya di Tahun Anjing Api ini bakal tetap mencorong. “Jika 2005 adalah tahunnya ATPM, sekarang tahunnya multifinance,” katanya. Selain tetap ekspansif, WOM juga melakukan sejumlah perbaikan, terutama dalam hal pengendalian risiko. Calon konsumen, di samping diwajibkan membayar uang muka, juga diseleksi dengan cukup ketat.
Selanjutnya, untuk mengatasi beban bunga tinggi (sekarang bunga yang dipatok WOM berkisar 34%-25% setahun), perusahaan ini juga melakukan perpanjangan jatuh tempo cicilan. “Strategi ini kami lakukan untuk menyiasati rendahnya daya beli,” tutur Benny.
Saham WOMF kini diperdagangkan di level Rp 500 (5/1). Artinya, dibandingkan Juli 2005, harga sahamnya telah terdiskon 33%. PA Triyono, analis dari Henan Putihrai Sekuritas, menilai saham ini masih berpeluang untuk kembali ke posisi seperti di bulan Juli. Edwin pun menilai WOMF masih cukup prospektif. Setidaknya, ada harapan kinerjanya bakal membaik di 2006.
PT BFI Finance Indonesia Tbk. (BFIN)
Hingga kuartal III-2005, kinerja BFI Finance cukup solid. Dana yang telah disalurkan sebesar Rp 1, 076 triliun, naik 73% ketimbang periode yang sama di tahun 2004. Menurut Cornellius Henry, Direktur BFI, alokasi kredit terbesar yakni pada pembiayaan kendaraan roda empat (78%). Sampai akhir tahun lalu, ia mengungkapkan, pembiayaan yang disalurkan perusahaannya tumbuh 40%.
Nah, untuk tahun ini, kendati masih terganjal faktor suku bunga, BFI optimistis pembiayaannya bisa mencapai Rp 1,5 triliun. Penjualan mobil yang masih berada di kisaran 500 ribu unit diyakini bisa mendorong pertumbuhan pembiayaan perusahaannya hingga 10%. Prospeknya diperkirakan akan semakin mencorong lantaran di semester II kelak suku bunga bakal turun. Ditambah lagi, selain inflasi akan menukik, rencana The Fed yang tidak akan menaikkan kembali suku bunganya juga bisa memberikan sentimen positif.
Mungkin itu sebabnya para analis percaya saham BFI yang kini diperdagangkan di harga Rp 900 (5/1) masih menarik untuk dilirik. “Secara fundamental, perusahaan ini masih bagus,” kata PA. Triyono.
PT Clipan Finance Indonesia (CFIN)
Mungkin inilah saham multifinance yang masih cukup likuid di bursa hingga sekarang. Para analis pun banyak yang merekomendasikan beli. Sebab, dengan kemampuan pendanaan yang cukup kuat, penetrasi kreditnya diyakini masih akan membesar di tahun ini. Apalagi, perusahaan ini tidak hanya membiayai kredit kendaraan bermotor, tapi juga bermain di segmen alat berat.
Nah, sektor alat berat inilah yang bisa memberi peluang bagi Clipan Finance Indonesia untuk unjuk gigi. Maklum, pasar alat berat diyakini bakal tumbuh hingga Rp 15 triliun di tahun 2006. Edwin Sinaga mengatakan, saham CFIN masih berpeluang menguat. Paling tidak, harga wajarnya berada di level Rp 500, sementara saat ini masih dihargai Rp 385 per saham (5/1).
Berikan Komentar untuk artikel ini
Lihat Komentar untuk artikel ini
|
|
 |
|
 |
Edisi 09 - 10 Tahun VI 31 Desember - 6 Januari 2007 |
 |
|
 |
|