Rabu, 7 Januari 2009 | Berlangganan Majalah TRUST 
Sub Rubrik:

Kalau Tak Rela, Mau Apa Lagi?

Priyanto Sukandar, Rintho Manunggal, Diah Amelia, dan Julianto
 
Awalnya, banyak investor yang berharap banyak dengan masuknya PT Excelcomindo Pratama (EXL) ke Bursa Efek Jakarta (BEJ). Benar, secara finansial keuntungan emiten ini masih kecil, sementara utangnya relatif besar. Total obligasinya saja mencapai US$ 600 juta. Namun, sebagai perusahaan telekomunikasi nomor tiga terbesar di Indonesia, prospek EXL cukup cerah. Apalagi, penetrasi pasar telepon seluler masih akan tumbuh 30% menjadi sekitar 60 juta pelanggan.

Sayang, harapan investor untuk melihat gemulainya saham Excelcom menari-nari di bursa tidak terbukti. Memang, sesaat dilepas ke pasar, saham ini sempat melesat dari Rp 2.000 (29/9/2005) ke level Rp 4.950 (18/10/2005). Tapi, harga itu terus terkoreksi dan akhirnya kini berada di kisaran Rp 2.200-Rp 2.300 per saham. Tidak hanya itu, volume transaksinya pun kian melemah.

 Artikel Lain
Saham Properti Jangan Ragu untuk Jadi Kolektor
Akrobat ala Siwani
Kenapa ISAT Letoi?
Short Selling Agar Bursa Makin Ramai
Kalau Tak Rela, Mau Apa Lagi?
Jika Sabar, Bisa Menguntungkan
Indah Kiat, Masih Indah
Redemption Reksadana Kasusnya Bakal Makin Panas
Karena Aqua Tak Ingin Berbagi
Bumi yang Kembali Menggoda

Merosotnya transaksi EXCL, demikian kode sahamnya, bukan karena perusahaan ini tak menarik. Melainkan akibat kecilnya jumlah saham publik yang beredar. Saat ini, jumlah saham EXCL di pasar tak mencapai 1%. Belakangan baru diketahui, walaupun saham yang dijual lumayan banyak (sekitar 20%), namun banyak yang dilahap oleh investor asing. Terutama Khazanah Nasional Berhad yang memborong 16,8%. Sehingga, komposisi pemegang Excelcomindo saat ini adalah Indocel Holding SDN.BHD atau Telekom Malaysia (56,92%), PT Telekomindo Primabhakti 15,97%, Khazanah Nasional Berhard 16,81%, AIF (Indonesia) Limited 10,14%, dan sisanya publik.

Kecilnya saham yang beredar di pasar ini, tentu saja membuat otoritas bursa merasa kecewa. Bahkan Eddy Sugito, Direktur Pencatatan BEJ, secara tidak langsung menyindir Excelcomindo untuk segera “pergi” dari bursa karena dianggap tak likuid.
Hanya saja, permintaan Eddy tadi serasa janggal. Sebab, apabila diteliti lebih cermat, berdasarkan kriteria pencatatan yang telah di buat BEJ, tidak ada satu klausul pun yang bisa memaksa EXCL untuk minggir. Dalam peraturan pencatatan BEJ disebutkan, kriteria delisting ada dua, yaitu force delisting dan voluntary delisting. Force delisting dilakukan oleh bursa disebabkan kinerja emiten yang memburuk. Contoh dari force delisting adalah PT Ryane Adibusana yang bisnisnya ambruk dan tidak memiliki prospek usaha lagi. Dalam kasus ini, langkah BEJ mengeluarkan Ryane dari bursa cukup tepat.

Sementara, voluntary delisting adalah penghapusan pencatatan akibat emiten yang meminta. Contohnya seperti yang akan dilakukan PT Aqua Golden Missisipi. Nah, dalam kasus Excelcomindo, manajemen tidak dalam posisi meminta dihapus dari bursa. “Tidak ada alasan bagi BEJ untuk mengeluarkan kami,” kata Rudiantara, Direktur Excelcomindo.

Setali tiga uang, Djoko Santoso Soenoe, Sekjen Masyarakat Investor Sekuritas Indonesia (MISSI), mengatakan bahwa jika PT Excelcomindo Pratama tak layak untuk melantai di bursa, mestinya BEJ sudah tahu sejak awal. Sebab, emiten ini sudah menjelaskan semuanya dalam prospektus. Makanya, kata Joko, seharusnya BEJ yang disalahkan.

Rudiantara menambahkan, seluruh alokasi 20% saham perusahaannya telah diserahkan kepada CIMB Niaga Securities sebagai penjamin emisi. Dan manajemen tidak ikut campur dalam hal pendistribusiannya. Pihak manajemen pun, lanjutnya, tidak bisa berbuat banyak. Pasalnya penambahan saham publik di bursa, jelas harus melalui rapat pemegang saham terlebih dahulu.

Dan jangan dilupakan, bagi pemegang saham pendiri, ada masa lock up selama setahun. Artinya, kalau toh dua perusahaan tadi berbaik hati mau melepas sahamnya di pasar, hal itu baru dimungkinkan terjadi September nanti.


Berikan Komentar untuk artikel ini
Lihat Komentar untuk artikel ini

Edisi 09 - 10 Tahun VI
31 Desember - 6 Januari 2007
www.mnc.co.id