Jumat, 3 September 2010 | Berlangganan Majalah TRUST 
Sub Rubrik:

Saham Properti Jangan Ragu untuk Jadi Kolektor

Priyanto Sukandar, Subhan Surya Atmaja, Diah Amelia, dan Dikdik Taufik Hidayat
 
Rencana pemerintah mengenakan cukai pada produk semen memang belum tentu terwujud. Apalagi Menteri Perindustrian secara lantang menolak bila opsi itu dilanjutkan. Maklum, jika semen dikenai cukai—besarnya bisa mencapai 20%--nanti akan terjadi efek domino. Selain pemerintah harus mengeluarkan duit lebih besar untuk membiayai proyek-proyek infrastrukturnya, masyarakat juga bakal semakin kesulitan mendapatkan tempat tinggal.

Pertanyaannya, bagaimana nasib emiten properti bila pemerintah benar-benar mengenakan cukai terhadap semen? Masihkah saham-saham sektor ini berpotensi memberikan gain? Berikut penelusuran TRUST dari berbagai sumber.

 Artikel Lain
Saham Barito
Setelah Amukan Minyak Mereda
Buat Si Kutu Loncat
Bumi Makin Hot
Saham Properti Jangan Ragu untuk Jadi Kolektor
Akrobat ala Siwani
Kenapa ISAT Letoi?
Short Selling Agar Bursa Makin Ramai
Kalau Tak Rela, Mau Apa Lagi?
Jika Sabar, Bisa Menguntungkan

PT Summarecon Agung Tbk. (SMRA)

Johannes Mardjuki, Direktur PT Summarecon Agung Tbk., mengaku keberatan jika semen dikenai cukai. Sebab, opsi itu bakal mendorong kenaikan harga. Padahal, katanya, setiap ada kenaikan semen sebesar 20%, maka harga properti akan naik sekitar 10%. Perubahan harga sebesar itu jelas akan menjadi beban konsumen.

Namun, kalaupun semen benar-benar dikenai cukai, Summarecon tak lantas berniat menaikkan harga. Soalnya, ya itu tadi, di tengah penjualan perumahan yang melesu, menaikkan harga jual bisa menjadi bumerang. Makanya, kata Johannes, untuk mengantisipasi naiknya harga semen, perusahaannya akan melakukan efisiensi dan menurunkan margin keuntungan.

Johannes mengungkapkan, tahun lalu, laba yang diperoleh perusahaannya tak berbeda jauh dengan perolehan di tahun 2004. Dengan kata lain, laba bersih Summarecon masih berada di kisaran Rp 147 miliar. Tahun ini, keuntungannya diharapkan bisa membaik. Makanya selain terus menggenjot penjualan perumahan, Summarecon juga akan melakukan diversifikasi usaha. Salah satunya yakni mengembangkan tempat komersial seperti mal di Kelapa Gading dan Serpong. Untuk ekspansi usaha itu, dana yang disiapkan mencapai Rp 350 miliar.

Menurut beberapa analis di bursa, secara fundamental, Summarecon cukup solid. Apalagi, sebagai penguasa kawasan Kelapa Gading, bisnis di wilayah itu terus berkembang. Sehingga, hal itu bisa memberikan kontribusi positif terhadap Summarecon.

Prayoga Ahmadi Triyono (Head of Bond & Equity Division PT Henan Putihrai Sekuritas) menilai bahwa saham SMRA masih cukup murah dan layak dikoleksi. Sebab, harga yang terbentuk saat ini, sekitar Rp 910 (3/3) masih di bawah harga wajarnya yang Rp 1.500. Perhitungan Robin Setiawan, analis PT AM (Arab-Malaysian) Capital, nyaris tak berbeda. Menurut si analis, untuk jangka panjang, saham ini patut dijadikan keranjang investasi.


PT Bakrieland Development Tbk. (ELTY)

Emiten ini boleh jadi tengah menuju masa keemasannya kembali. Hal itu tampak dari rencana ekspansi yang akan dilakukan perusahaan. Menurut Marudi Surachman (Dirut Bakrieland Development), tahun ini belanja modal yang dikeluarkan perusahaannya mencapai Rp 820 miliar. Sebagian besar dari dana tersebut (sekitar Rp 580 miliar) digunakan untuk city property, Rp 180 miliar untuk residensial, dan sisanya (Rp 60 miliar) untuk hotel dan resort.

Menariknya, untuk membiayai pembangunan proyek tadi, Bakrie tak terlalu banyak menggantungkan pendanaan dari bank. Sebab, sumber dananya berasal dari pembeli dan kontraktor dengan skema contractor financing. Dengan begitu, perseroan tidak mengalami dampak suku bunga. Yang menguntungkan lagi, pembeli proyek-proyek Bakrie lumayan pasti, karena berasal dari grup sendiri. “Kami sudah memiliki captive market. Jadi, soal pembeli, tidak ada masalah,” paparnya.
Dengan sejumlah ekspansi yang dilakukan tahun ini, Bakrie berharap penjualannya akan mencapai angka Rp 600 miliar, atau naik hampir dua kali lipat ketimbang angka di tahun 2005 yang hanya Rp 350 miliar. Sementara itu, laba bersih perseroan diperkirakan akan tumbuh 102% menjadi Rp 160 miliar. Dan dengan aset sekitar Rp 2 triliun, utang perseroan tergolong kecil, hanya Rp 60 miliar. Soal kemungkinan naiknya harga semen, Marudi juga tak terlalu ambil pusing. Selain hal itu masih berupa wacana, pasar yang digarap Bakrie juga tak terlalu terpengaruh oleh kenaikan harga.

Bila semua proyek tadi berjalan mulus, Robin Setiawan (analis saham PT Arab Malaysian Capital) menilai bahwa kinerja Bakrie bakal semakin solid. Apalagi, hasil yang diperoleh selama tahun 2005 cukup memuaskan. Atas dasar itu, si analis menilai saham ELTY--kini dilego di harga Rp 160 per saham--masih cukup murah dan layak dikoleksi. “Potensi terjadinya penguatan masih cukup tinggi,” tutur Robin. Analis lain menimpali, jika tidak ada aksi korporasi yang merugikan (seperti right issue), saham ini bisa kembali beredar di level Rp 200-Rp 300 per saham.


Lippo Karawaci Tbk (LPKR)

Emiten ini tergolong pintar dalam mendulang rezeki. Tahun lalu misalnya, di kala banyak perusahaan properti terjerembap akibat naiknya BBM, Lippo masih mampu menaikkan laba bersihnya hingga 22,9% menjadi Rp 358,94 miliar. Melambungnya laba bersih itu didorong oleh kenaikan penjualan yang naik 19,7% menjadi Rp 2 triliun. Sementara kapitalisasi pasar emiten ini naik hingga Rp 5,3 triliun.

Tahun ini, ada sejumlah aksi korporasi yang bakal dilakukan Lippo. Setelah sukses melepas obligasi valasnya senilai Rp 1,3 triliun, dengan kelebihan permintaan hingga 600%, Lippo juga berniat melakukan stock split. Tapi, rencana tadi masih menunggu keputusan RUPSLB bulan ini.

Sejumlah analis menilai, jika stock split terjadi, saham perseroan bisa tampil lebih elegan. Paling tidak, bertambahnya likuiditas akan membuat transaksi lebih encer. P.A. Triyono, analis Henan Putihrai Sekuritas, menilai valuasi saham Lippo masih cukup menarik. Oleh sebab itu, saham LPKR—kini beredar di level Rp 1.880 per saham (3/3)--masih layak dikoleksi.

Namun, analis lain mengingatkan, obligasi valas yang baru dilepas perseroan juga berpotensi menimbulkan masalah jika nilai tukar rupiah terhadap dolar AS melambung tinggi. Benar, Standard & Poor’s (S&P) memberikan peringkat “B+” untuk obligasi yang diterbitkan Lippo Karawaci Finance B.V. Lembaga pemeringkat internasional itu juga memberikan rating sama kepada Lippo Karawaci (LPKR) dengan outlook stabil. “Tapi, jika harga minyak naik dan rupiah letoi, peringkat itu bisa berubah kan?” katanya.

Sungguhpun begitu, Danang Kamayan Jati, Head of Corporate Communication PT Lippo Karawaci, optimistis kinerja perusahaannya akan terus membaik. Apalagi, diversifikasi yang dilakukan Lippo--dengan mendirikan mal--diyakini memiliki prospek cerah.


Ciputra Surya Tbk. (CTRS)

Bukan tanpa alasan jika banyak analis merekomendasikan saham ini sebagai lahan investasi. Selain harganya masih kelewat murah, kinerja perusahaan ini juga terus membaik. Tahun lalu, Ciputra diperkirakan sukses mencatat penjualan sebesar Rp 493 miliar atau meningkat 57,2% dibanding angka di tahun 2004. Peningkatan itu, kabarnya, disebabkan melambungnya penjualan tanah dan perumahan di kawasan Citra Raya Surabaya. Transaksi tersebut memberikan kontribusi hampir 90% dari total penjualan perseroan.

Tapi memang, menurut Marwan Lim, analis Trimegah Securities, naiknya BBM dan inflasi tahun lalu membuat laba operasi dan margin keuntungan perusahaan ini menurun. Laba operasi turun sekitar 20% sehingga untung bersihnya merosot 18%. Kendati demikian, Marwan menganggap saham ini masih bisa menguat. Sebab, harga wajarnya berada di level Rp 1.150 alias jauh di atas harga sekarang yang Rp 425 (3/3). Bahkan, P.A Triyono menilai harga wajar CTRS adalah Rp 3.500. “Harga saham ini masih terdiskon 86%,” ujarnya.



Berikan Komentar untuk artikel ini
Lihat Komentar untuk artikel ini

Edisi 09 - 10 Tahun VI
31 Desember - 6 Januari 2007
www.mnc.co.id