Rabu, 7 Januari 2009 | Berlangganan Majalah TRUST 
Sub Rubrik:

Bumi Makin Hot

Kun Wahyu Winasis, Priyanto Sukandar, Diah Amelia, dan Rintho Manunggal
 
Kalau ada perusahaan yang selalu membuat jantung investornya berdetak lebih cepat, BUMI Resources rasanya pantas ditempatkan di nomor urut satu. Selain menyimpan banyak misteri, emiten ini sering kali melahirkan cerita-cerita heboh. Penjualan Kaltim Prima Coal (KPC), Arutmin, dan Indocoal Resources Limited, yang dilakukan perseroan pekan lalu, seolah menjadi puncak dari berbagai kehebohan yang mengiringi perjalanan BUMI di Bursa Efek Jakarta (BEJ).

Terlepas dari berbagai kontroversi yang muncul, manajemen BUMI harus diakui piawai dalam menjalankan roda bisnisnya. Buktinya, mereka sukses melepas tiga “ladang emasnya” itu dengan nilai penjualan yang sangat fantastis, US$ 3,2 miliar atau setara dengan Rp 29,1 triliun (kurs US$ 1 = Rp 9.100). Yang menjadi pertanyaan besar, siapa gerangan orang yang berada di balik PT Borneo Lumbung Energi, pemilik baru ketiga perusahaan itu. Maklum, di perusahaan “anyar” tadi muncul nama Renaissance Capital.

 Artikel Lain
Roekman Prawirasasra, Presdir PT Indonesia Air Transport Tbk: ”Jangan sampai Dicaci Maki Investor”
Saham Barito
Setelah Amukan Minyak Mereda
Buat Si Kutu Loncat
Bumi Makin Hot
Saham Properti Jangan Ragu untuk Jadi Kolektor
Akrobat ala Siwani
Kenapa ISAT Letoi?
Short Selling Agar Bursa Makin Ramai
Kalau Tak Rela, Mau Apa Lagi?

Akhirnya sejumlah analis berkesimpulan, transaksi itu sebenarnya hanya akal-akalan semata. Sebab, orang-orang yang mengelola Renaissance masih terafiliasi dengan Grup Bakrie. Asal tahu saja, Renaissance sesungguhnya adalah reinkarnasi dari PT Rifan Financindo, sebuah entitas bisnis yang sebelumnya banyak terlibat dalam transaksi grup usaha Bakrie. Walaupun melibatkan Credit Suisse First Boston sebagai penasihat keuangan, sejumlah analis menganggap emiten ini perlu untuk menjelaskan lebih detail tentang siapa Borneo.

Apalagi, selama ini dalam setiap transaksi yang dilakukan BUMI sering melahirkan kontroversi. Terbukti, sejak 2003, BEJ telah belasan kali menghentikan perdagangan sahamnya gara-gara corporate action yang muncul mendadak. Sungguhpun begitu, bagi investor di bursa, BUMI tetap selalu menggoda untuk dijamah. Maklum, pergerakan harga sahamnya yang sangat likuid membuat peluang investor meraih gain sangat tinggi.

Tentu, para pelaku pasar masih ingat, bagaimana saham BUMI selama hampir 2 tahun terus mendengkur. Ia juga sempat nyaris ditendang dari bursa karena hanya dihargai kurang dari Rp 25--bahkan sempat jatuh di Rp 15. Tapi, tiba-tiba BUMI kembali tampil perkasa. Betul, setelah sukses mengakuisisi saham KPC senilai US$ 500 juta, pada 9 Juli 2003, sahamnya langsung melesat bak meteor. Di akhir 2003 itu, harga BUMI telah meloncat dari Rp 35 (18/7/2003) menjadi Rp 500 per saham atau naik 1.300%.

Lantas bagaimana nasib BUMI pascatransaksi yang terakhir ini? Kabar yang bertiup menyebutkan, emiten ini berniat untuk secepatnya mengakuisisi Energi Mega Persada, perusahaan Tbk. yang masih dalam satu kelompok usaha. Selanjutnya, di masa depan, BUMI berambisi menjadi perusahaan energi dan sumber daya alam nasional terbesar.

Usahanya tak hanya terbatas pada produksi batu bara, tetapi juga minyak, gas bumi, dan berbagai alternatif lain, seperti coal to liquid, biomass, upgraded brown coal, briquette, bio-diesel, dan power plant. ”Investasi dalam sektor ini memerlukan dana investasi yang besar,” kata Geroad Jusuf, Corporate Secretary BUMI, kepada BEJ.

Menurut Ari Hudaya, Dirut BUMI Resources, setelah mengambil alih Energi, perusahaannya juga berniat menggandeng SOAL. Perusahaan tambang terbesar di Afrika Selatan itu memiliki teknologi membuat coal to liquid. Rencananya, tambang batu bara BUMI yang berlokasi di Sumatra Selatan akan dijadikan awal usaha baru tersebut. Seorang analis asing memperkirakan, jika akuisisi berlangsung mulus, BUMI akan menjadi salah satu perusahaan energi terbesar di Indonesia, bahkan Asia.

Kembali ke Freeport?

Paling tidak, kapitalisasi pasar BUMI yang saat ini mencapai Rp 16,5 triliun akan membengkak menjadi Rp 28,5 triliun. Itu terjadi lantaran saat ini kapitalisasi Energi sudah mencapai Rp 12 triliun. Nah, dengan tampilan seperti itu, kapitalisasi pasarnya akan jauh lebih besar ketimbang perusahaan energi yang sudah mapan seperti Medco Energi. Perlu diketahui, kapitalisasi pasar perusahaan milik Arifin Panigoro itu baru sebesar Rp 13,7 triliun.

Tapi Yusuf Adiwinoto, analis saham PT Reliance, mengingatkan agar investor tetap berhati-hati sebelum melakukan transaksi saham ini. Benar, manajemen telah mengungkapkan rencananya untuk mengambil alih Energi. Namun, transaksi itu belum jelas benar. “Berapa besar BUMI akan membayar saham Energi,” tutur Yusuf. Nah, jika harga pembeliannya sangat tinggi, si analis menilai, investor BUMI dan Energi yang akan dirugikan. Maklum di pasar harga sahamnya sudah sangat mahal.

Pascapenjualan tiga perusahaan itu, saham BUMI melesat dari Rp 940 ke level Rp 980 per saham (16/3). Dengan harga sebesar itu plus tanda tanya besar yang mengiringi aksi berikutnya dari BUMI, Hendri Effendi (analis Citi Pacifik Investasi) menyarankan investor keluar dari saham ini. “Ada baiknya dilepas dulu. Apalagi harganya sudah mendekati harga wajar,” jelasnya.

Walaupun agak kontroversial, Alfiansyah, Analis Sinarmas Sekuritas, cukup memahami transaksi yang dilakukan BUMI. Alasannya, dari transaksi itu, BUMI mendapatkan harga yang benar-benar premium. Dengan asumsi harga KPC senilai US$ 2 miliar dan Arutmin US$ 1,2 miliar, keuntungan yang diperoleh emiten ini, kata si analis, benar-benar menggiurkan. Sebab, ketika mengambil alih KPC, BUMI hanya membayar US$ 500 juta. Sementara nilai akuisisi Arutmin di tahun 2001 pun cuma US$ 105 juta. Akan halnya Indocoal, selama ini hanyalah perusahaan operator batu bara yang membantu produksi dan pemasaran BUMI.

Sayangnya, hingga kini informasi soal penggunaan dana tadi masih belum jelas. Ada kabar, BUMI berniat untuk membeli saham Indonesian Power (IP) dan Freeport. Namun peluang masuknya BUMI ke IP, kata Alfiansah, relatif kecil lantaran perusahaan itu termasuk BUMN. Kecuali jika mereka membeli sahamnya melalui pasar ketika IP sudah beredar di BEJ kelak.

Alfiansyah justru menduga, bidikan utama BUMI saat ini adalah Freeport. Selain harga emas masih sangat menjanjikan, potensi emas di perusahaan itu diyakini masih yang terbesar di dunia. Dan jangan dilupakan, Bakrie sesungguhnya masih berhasrat untuk kembali ke tanah Papua. Asal tahu saja, pada tahun 1994, Bakrie sempat menguasai 100% saham PT Indocopper Investama Corporation, pemilik 9,4% saham PT Freeport Indonesia. Ketika itu, Bakrie membeli saham Indocopper melalui right issue senilai Rp 583,88 miliar.

Tiga tahun berselang, pada Februari 1997, kepemilikan Bakrie di Indocopper dibeli oleh PT Nusamba Mineral Industri milik Muhammad “Bob” Hasan (51%) dengan harga Rp 724,24 miliar. Belakangan baru diketahui, Bakrie juga telah melepaskan 49% sahamnya ke Freeport McMoRan Gold and Cooper, pemilik 81,6% Freeport Indonesia. Bob Hasan hanya bertahan 5 tahun di Indocopper. Itu karena terbelit utang yang sudah jatuh tempo sebesar US$ 250 juta. Bob menjual semua sahamnya di Indocopper kepada FCX.

Peluang Bakrie masuk kembali ke Indocopper sesungguhnya terbuka lebar. Sebab, sesuai kesepakatan dengan pemerintah RI, FCX harus melepas seluruh sahamnya di Indocopper pada awal 2005 silam. Hingga kini rencana itu belum kesampaian. Kalau toh BUMI berniat masuk ke Freeport, modal yang dibutuhkannya sangat besar. Maklum, harga emas saat ini sedang gila-gilaan. Kalaupun mau melepas Indocopper, pastinya FCX akan meminta harga yang tinggi. “Mumpung lagi ‘panas’, BUMI bisa masuk lagi ke Freeport,” ujar seorang sumber.

Nah, akankah ambisi besar itu bakal tercapai? Mari kita tunggu action berikutnya.


Berikan Komentar untuk artikel ini
Lihat Komentar untuk artikel ini

Edisi 09 - 10 Tahun VI
31 Desember - 6 Januari 2007
www.mnc.co.id