|
|
 |
|
Buat Si Kutu Loncat
|
| Kun Wahyu Winasis, Priyanto Sukandar, dan Diah Amelia |
| |
Keputusan Bank Indonesia untuk mempertahankan kebijakan uang ketat, jelas memusingkan para bankir. Terutama manajemen bank papan bawah. Likuiditasnya yang terbatas membuat bank sulit untuk melakukan ekspansi kredit. Tanpa pertumbuhan kredit, pendapatan jelas bakal kian menipis. Sementara di sisi lain, untuk bisa mempertahankan dana pihak ketiga, bank-bank kecil harus mau membayar bunga lebih mahal.
Maklum, sejak Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) memangkas nilai penjaminan hanya yang di bawah Rp 5 miliar, risiko menyimpan dana di bank gurem menjadi semakin lebih tinggi. Bisa dipahami jika banyak bankir di bank-bank kecil mulai memutar otak untuk mencari sumber dana baru.
Salah satu cara yang ditempuh adalah dengan mengail dana dari pasar modal. Seperti yang akan dilakukan Bank Bumi Artha. Jika tak ada hambatan, bank beraset sekitar Rp 1,2 triliun ini Mei mendatang akan melepas sebagian sahamnya ke bursa. Rencananya, 70% dari hasil penjualan saham itu akan dipakai untuk membiayai kredit. Sisanya dialokasikan untuk menambah jaringan dan meningkatkan kualitas SDM serta teknologi informasinya.
Lantas bagaimana prospek sahamnya? Jika menyimak pendapat sejumlah analis, kelihatannya nasib saham ini tidak akan mencorong. Apalagi, jika dibanding 2004, tahun lalu asetnya mengalami penurunan 25%. Sementara laba bersihnya juga anjlok 14% menjadi Rp 23,3 miliar. Hanya, memang, ekuitas bank yang 50% sahamnya dikuasai PT Surya Husada Investment ini masih cukup besar, senilai Rp 298,2 miliar. Bahkan angka kecukupan modalnya (CAR) mencapai 26,79%.
Betrand Raynaldi, analis Panca Global, menilai Bank Bumi Artha-- yang memiliki 9 kantor cabang, 17 kantor cabang pembantu, 7 kantor kas, dan 17 payment points--memiliki keunikan tersendiri. Menurut dia, bank ini hampir mirip dengan Bank Buana sebelum go public, konservatif dan memiliki nasabah loyal.
Dalam pandangan Arhya Satyagraha, analis Trimegah Securities, angka-angka tadi tidak serta merta akan mampu meyakinkan investor. Terlebih lagi, saat ini industri perbankan sedang kepayahan akibat naiknya suku bunga dan memburuknya makro ekonomi nasional. Atas dasar itu Arhya menilai, jika IPO Bank Bumi Artha dipaksakan semester I, hasilnya tidak akan maksimal.
Bagi investor yang bernyali besar, saham bank ini merupakan tantangan yang pantas diladeni. Sebab, Aryha melihat, adanya peluang untuk mengais gain. Bagaimanapun, katanya, di bursa ada mitos bahwa harga saham IPO bakal naik.
M. Alfatih, analis Sarijaya Sekuritas, menambahkan, jumlah saham Artha yang dilepas hanya 210 juta atau 9,1% saja. Jumlah sekecil itu menjadikan saham Bumi Artha sangat rawan untuk masuk penggorengan. “Saham yang likuiditasnya kecil, naik turunnya cepat,” ujar Bagus Hananto, analis AAA Securities kepada Julianto dari TRUST.
Dalam perhitungan Betrand, dengan nominal Rp 100, saham Bumi diperkirakan akan dilego dalam kisaran Rp 150-Rp 250. Jika menggunakan asumsi harga Rp 150, maka nilai bukunya (price book value/PBV) menjadi 1,16 kali. Sementara jika menggunakan asumsi Rp 250 per saham maka PBV-nya 1,9 kali. Betrand mengungkapkan, nilai buku saham perbankan saat ini kurang dari 2 kali.
Jika harga penawaran Bumi Artha berada di level Rp 150 per saham, menurut Betrand, saham ini layak dijadikan sebagai ladang spekulasi. “Peluang penguatannya bisa sampai ke Rp 320,” jelasnya. M. Alfatih juga menyarankan investor yang berminat terhadap saham ini untuk bermain singkat. Maksudnya, membeli di harga penawaran dan langsung melepaskannya begitu terjadi penguatan.
Sebagai perbandingan, Bank Swadesi Tbk., yang asetnya hanya Rp 925 miliar, sahamnya di pasar dihargai hingga Rp 420 per saham (29/3). Jumlah saham yang dikuasai publik pun tak lebih dari 10%. Sebab, PT Panca Mantra Jaya dan PT Putra Mahkota Perkasa masing-masing menguasai 39,52% saham. Sedangkan Victron Holdings memiliki 9,48%. Jadi? Apa yang dikatakan para analis tadi sepertinya pantas untuk dicoba. Siapa tahu nasib baik sedang berpihak.
Berikan Komentar untuk artikel ini
Lihat Komentar untuk artikel ini
|
|
 |
|
 |
Edisi 09 - 10 Tahun VI 31 Desember - 6 Januari 2007 |
 |
|
 |
|