Rabu, 7 Januari 2009 | Berlangganan Majalah TRUST 
Sub Rubrik:

Setelah Amukan Minyak Mereda
Rupiah masih tetap berjaya. Sedangkan di bursa efek masih banyak saham yang menjanjikan gain.

Budi Kusumah, Pringgo Sanyoto,
 
SEPERTI yang sudah diperhitungkan sebelumnya, pelan tapi pasti, harga minyak mentah dunia terus menurun. Level US$ 70 per barel sudah jauh ditinggalkan. Dan pada akhir pekan lalu, untuk pengiriman bulan Oktober, harga minyak ringan di New York kembali turun 75 sen dolar menjadi US$ 63,22 per barel. Akan halnya di London, setelah sempat diperdagangkan pada harga US$ 61,96, minyak Laut Utara Brent ditutup US$ 62,24 per barel.
Banyak yang memperkirakan, penurunan masih akan berlangsung dalam sepekan ini. Bahkan beberapa pedagang di pasar dunia menyebutkan, bukan hal yang mustahil harga si emas hitam akan menyentuh angka US$ 60 per barel.
Melunaknya harga terjadi setelah para pekerja minyak di Nigeria (negara penghasil migas terbesar di Afrika) menunda rencana pemogokan kerja mereka. Selain itu, persediaan gas alam AS juga ternyata mengalami kenaikan (kini posisinya 12% di atas normal).

 Artikel Lain
Saham Indosat : Saatnya untuk Melesat
Saham Bosowa, Lebih Enak Lewat Belakang
Roekman Prawirasasra, Presdir PT Indonesia Air Transport Tbk: ”Jangan sampai Dicaci Maki Investor”
Saham Barito
Setelah Amukan Minyak Mereda
Buat Si Kutu Loncat
Bumi Makin Hot
Saham Properti Jangan Ragu untuk Jadi Kolektor
Akrobat ala Siwani
Kenapa ISAT Letoi?
Faktor lain yang juga menarik harga si emas hitam ke bawah adalah ”keperkasaan” Iran dalam menghadapi Amerika dan para sekutunya. Sanksi yang akan dijatuhkan oleh PBB, jika Iran tidak menghentikan proyek pengayaan uraniumnya, hingga saat ini belum menjadi kenyataan. Padahal, tenggat waktu yang ditetapkan organisasi dunia itu (31 Agustus) telah terlewati. Yang terjadi malah sebaliknya, Mahmoud Ahmadinejad (komandan negeri para mullah itu) memperoleh dukungan dari rekan-rekannya kelompok Negara Non Blok, yang pekan lalu menyelenggarakan pertemuan di Havana, Kuba.
Dukungan secara tidak langsung juga datang dari Jepang. Pemerintah Negeri Matahari Terbit itu, kelihatannya, lebih mengutamakan kebutuhan minyak dalam negerinya ketimbang ikut-ikutan mendukung AS. Itu sebabnya, Jepang melanjutkan perundingan ihwal pengembangan ladang minyak raksasa Azadegan milik Iran.
Alhasil, dengan pasokan yang tetap melimpah, untuk sementara harga minyak akan berada di area aman. Dan kondisi ini, jelas akan ikut mendukung nilai rupiah untuk tetap bertahan di rentang yang ”stabil”. Sebab, konsumsi BBM bersubsidi di negeri ini juga sedang berada di tren yang menurun. Untuk tahun ini, diperkirakan hanya mencapai 37,9 juta kiloliter (kl) atau lebih rendah dari taksiran awal tahun yang mencantumkan angka 41,57 kl.
Kalau itu yang terjadi, jelas kebutuhan dolar yang akan dipakai untuk mengimpor minyak pun akan berkurang banyak. Nilai tukar rupiah, untuk sementara, tidak akan terganggu oleh aksi Pertamina memborong mata uang hijau.
Untuk sementara? Betul. Sebab, antengnya harga minyak ini diperkirakan tidak akan berlangsung lama. Pasalnya, masalah Iran dan Nigeria—sewaktu-waktu—masih memiliki kemungkinan untuk memanas kembali. Makanya, IMF memperkirakan, harga minyak di tahun depan akan kembali ke level US$ 70-US$ 75 per barel.
Pendapat senada dikemukakan Kurtubi. Ia mengatakan, selain stok AS meningkat, turunnya harga minyak juga karena menyusutnya konsumsi di negara-negara maju seiring berakhirnya musim panas. Tapi sebentar lagi, ketika musim dingin tiba, harga akan kembali meningkat. Soalnya, konsumsi minyak akan naik sebanyak 1,5 juta barel. Di bulan November, Kurtubi memproyeksikan harga akan kembali ke tataran US$ 70.

MASIH ADA PELUANG MEMETIK GAIN
Pertanyaannya, ketika harga minyak naik lagi, akan jadi berapa kurs rupiah yang kini anteng di rentang Rp 9.100-Rp 9.170 per dolar AS? Sulit ditebak. Yang pasti, beberapa pelaku di pasar uang begitu yakin, rentang itu masih akan tetap berlaku di pekan-pekan ini. Jadi, masih aman kan?
Seperti dikemukakan Alex Gunawan, Corporate Dealer Bank NISP. Ia mengakui, di hari-hari ini rupiah akan tertekan oleh beberapa hal. Salah satunya, oleh besarnya kebutuhan korporasi besar (termasuk BUMN) terhadap dolar. Perusahaan-perusahaan besar itu, kata Alex, tak akan berani berjudi dengan menunggu kurs berada di bawah Rp 9.100. Sehingga, ketika nilai tukar mendekati level tersebut, mereka akan langsung melakukan pembelian.
Selain itu, lanjut Alex, harga emas yang cenderung menurun juga membuat dolar menjadi barang buruan. Jika biasanya eksportir emas membuang dolar, kini sebaliknya, ”Mereka menangkap dolar untuk dikonversikan ke emas,” tuturnya. Dengan perhitungan, harga si kuning—yang sekarang menclok di kisaran US$ 625—akan mencapai di atas US$ 700 di akhir tahun nanti. Tapi, ya itu tadi, kendati menghadapi tekanan-tekanan, Alex memperkirakan, pekan ini rupiah tetap akan bermain di kisaran Rp 9.100-Rp 9.200 per dolar AS.
Nah, andai saja perkiraan para pedagang emas dunia itu menjadi kenyataan, jelas, ini merupakan berkah buat PT Aneka Tambang. Kinerja emiten ini, yang pada semester I-2006 begitu kinclong karena berhasil meningkatkan penjualannya 56% menjadi Rp 1,3triliun, dipastikan akan semakin mengilap. Apalagi, harga nikel juga ikut-ikutan merangkak naik.
Harga rata-rata nikel, pada periode Januari-Agustus, baru mencapai US$ 9,1/lb, tapi kini telah mencapai US$ 14/lb. Menurut Daniel Lustiady, harga yang sudah bagus ini didukung oleh meningkatnya permintaan nikel dunia sebesar 5,5%. Itu sebabnya, analis dari Pacific 2000 Investindo ini menyarankan investor untuk mengoleksi saham Antam. Sebab, ia memperkirakan, saham berkode ANTM ini—yang pekan lalu ditutup di harga Rp 5.350—berpotensi naik ke Rp 6.000.
Selain Antam, Daniel juga menyarankan pemodal untuk mempertimbangkan saham PGAS, yang pekan lalu ditutup pada harga Rp 12.700. Cerahnya bisnis gas, kata dia, akan mendorong harga saham ini merangkak ke Rp 15.000. Ini bukan sesuatu hal yang mustahil terjadi. Bahkan Menneg BUMN Sugiharto pernah mengungkapkan bahwa harga wajar PGAS berada di Rp 18.000 per saham.
Selain saham tambang, beberapa analis tetap merekomendasikan saham-saham properti. Ini berkaitan erat dengan tren penurunan tingkat suku bunga yang dimotori oleh Bank Indonesia. Arief Budi Satria, analis dari Cipta Dana Sekuritas, menunjuk saham Ciputra Development dan Ciputra Surya sebagai saham yang pantas dikoleksi. Saham-saham telekomunikasi (seperti Telkom dan Indosat) juga, lanjut Arief, masih berpotensi untuk menguat.
Melihat masih banyaknya peluang bagi investor untuk mengail gain, beberapa analis sepakat, indeks harga saham gabungan di pekan ini masih memiliki kemungkinan meningkat. Jika di pekan lalu indeks ditutup pada level 1.465,14 (15/9), kali ini diperkirakan akan merangkak ke kisaran 1.470. Sementara untuk jangka menengah, IHSG diduga akan bergeser ke rentang 1.480 –1.500. o


Berikan Komentar untuk artikel ini

Edisi 09 - 10 Tahun VI
31 Desember - 6 Januari 2007
www.mnc.co.id