Minggu, 14 Maret 2010 | Berlangganan Majalah TRUST 
Sub Rubrik:

Saham Barito
Kisah di Balik Geliat Saham Barito

Kun Wahyu Winasis, Teguh Usia Imam, Syarif Hidayat, dan Diah Amelia
 
SETELAH bertapa cukup lama, saham Barito Pacific Timber tiba-tiba menggeliat dalam dua pekan terakhir. Hanya dalam rentang yang cukup singkat (dari tanggal 5 hingga 12/9), harga saham berkode BRPT ini meloncat 34% ke level Rp 490 (12/9). Volume transaksinya pun sungguh luar biasa. Dalam empat bulan terakhir, rata-rata transaksi harian BRPT tak lebih dari dua juta saham. Namun, belakangan ini jumlah saham yang berpindah tangan melonjak pesat. Bahkan, selama lima hari itu, rata-rata transaksi per hari mencapai 40 juta saham. Sungguh mencengangkan.
Ada apa gerangan? Ini yang masih belum jelas benar. Sebab, secara fundamental, perusahaan ini sesungguhnya tidak terlalu meyakinkan. Benar, di semester I-2006 laba bersihnya naik tajam hingga 179,0% menjadi Rp 188,13 miliar. Melambungnya keuntungan perseroan tadi bukan didorong oleh kinerja usaha, melainkan dampak dari restrukturisasi yang telah dijalankan.
Seperti diketahui, untuk meringankan beban utangnya, Barito telah melakukan restrukturisasi dengan Commerzbank International Trust (Singapore) Ltd. alias CITS dengan menerbitkan exchangeable bond (EB). Selanjutnya EB tadi dipertukarkan dengan aset perseroan berupa 39,55% saham di PT Musi Hutan Persada (MHP) dan 40% saham di PT Tanjung Enim Lestari Pulp & Paper (TEL).

 Artikel Lain
Masih Banyak Saham yang Layak Lirik
Saham Indosat : Saatnya untuk Melesat
Saham Bosowa, Lebih Enak Lewat Belakang
Roekman Prawirasasra, Presdir PT Indonesia Air Transport Tbk: ”Jangan sampai Dicaci Maki Investor”
Saham Barito
Setelah Amukan Minyak Mereda
Buat Si Kutu Loncat
Bumi Makin Hot
Saham Properti Jangan Ragu untuk Jadi Kolektor
Akrobat ala Siwani
Dengan restrukturisasi itu, kewajiban Barito senilai US$ 215,886 juta dianggap lunas. Selain itu, perseroan juga menerima kucuran dana segar senilai US$ 92 juta. Duit sebesar itu masuk ke kantong Barito dalam beberapa termin. Salah satunya muncul di semester I-2006. Itu bisa disimak pada penerimaan Barito dari pos lain-lain yang mencapai Rp 266 miliar. Padahal, tahun lalu, di pos yang sama perseroan justru merugi Rp 78 miliar.
Sementara dari sisi kinerja, yang diraih perusahaan milik Prajogo Pangestu ini justru melorot tajam. Rugi usaha perseroan meningkat 68,3% menjadi Rp 85,5 miliar. Melesatnya kerugian itu, salah satunya, dipicu oleh beban penjualan yang mencapai Rp 287,9 miliar. Padahal pendapatan bersih yang diperoleh Barito cuma Rp 254,9 miliar.
Makanya, dengan fundamental seperti itu, banyak analis dibuat terkaget-kaget dengan gejolak yang terjadi pada BRPT dalam dua pekan terakhir. ”Secara fundamental saham ini tidak menarik. Prospek usahanya juga kurang meyakinkan,” tutur seorang analis. Ami Tantri, analis JP Morgan, menilai melesatnya harga saham BRPT belakangan ini dipengaruhi dua hal.
Pertama, sentimen positif dari naiknya harga plywood dunia akhir-akhir ini. Kedua, berkaitan dengan kencangnya isu backdoor listing PT Chandra Asri melalui Barito Pacific Timber. Memang, manajemen Barito telah berulang kali membantah kabar tersebut. Salwati Agustina, Direktur Barito, menegaskan bahwa perseroan tidak memiliki rencana apa pun dalam waktu dekat. ”Kita tanyakan ke Chandra Asri rencana itu juga tidak ada,” katanya.
Salwati menambahkan, saat ini konsentrasi perseroan adalah melakukan konsolidasi untuk mencapai tingkat efisiensi yang optimal. Salah satu contoh perampingan itu adalah pelepasan saham Barito di PT Tunggal Yudi Sawmill Plywood kepada PT Haluan Mitra Abadi. Selain itu, Barito juga akan menjual PT Mangole Timber Product. Dan yang tak kalah pentingnya, perseroan akan segera masuk ke bisnis perkebunan, khususnya kelapa sawit.
Hanya saja, kendati pihak Barito tegas-tegas menolak kemungkinan backdoor listing dengan Chandra Asri, namun para pelaku pasar sepertinya sudah termakan isu tersebut. Apalagi, konon, informasi itu muncul dari orang dalam Barito. ”Makanya, ini (back door listing) dianggap sebagai kebenaran,” tutur seorang analis.

CHANDRA ASRI ITU MILIK TEMASEK
Pihak Chandra Asri sendiri membantah, sejauh ini kemungkinan terjadinya backdoor listing dengan BRPT belum ada. Yang perlu diperhatikan, kata sang sumber, saat ini Chandra Asri tak lagi dikuasai oleh Prajogo Pangestu. Sebab konglomerat zaman Orde Baru ini sekarang hanya memiliki sekitar 14% saham. Sedangkan sebagian besar lainnya (50,45%) telah dikuasai Temasek.
Itu sebabnya, sumber TRUST melihat, munculnya isu backdoor listing sengaja ditiupkan untuk mengatrol harga saham BRPT. ”Ada pihak yang sengaja ingin menggoreng saham ini,” tandasnya.
Ami Tantri melihat kemungkinan Chandra Asri back door listing dengan BRPT cukup terbuka. Lagi pula, langkah itu (back door listing) bisa dilakukan oleh perusahaan yang tidak memiliki bisnis sejenis. Apalagi, jika melihat kondisi yang ada, sebenarnya dalam jangka panjang fundamental perseroan bisa kembali pulih.
Ada beberapa hal yang mendasari analisis itu. Pertama, Barito saat ini termasuk salah satu perusahaan yang memiliki hutan tanaman industri yang cukup luas. Di tengah gencarnya perang terhadap illegal logging, peluang perseroan untuk meningkatkan penjualannya di masa depan terbuka lebar. Pasalnya, selama ini pasokan bahan baku industri kayu di Malaysia dan juga Cina—yang menjadi pesaing utama produsen Indonesia—banyak berasal dari praktik pembalakan liar tersebut.
Nah, apabila kedua negara tadi kesulitan mendapatkan bahan baku, otomatis produksinya pasti akan melorot. Di sinilah peluang bagi perusahaan-perusahaan asal Indonesia, termasuk Barito, untuk meningkatkan market share-nya. ”Saingan kita sekarang adalah Brazil,” kata Ami. Faktor kedua terkait dengan kenaikan harga. Berkurangnya suplai, kata Ami, secara langsung akan ikut menaikkan harga komoditi kayu.
Yang perlu mendapat perhatian dari Barito sebenarnya adalah masalah efisiensi. Sejak harga BBM melonjak tajam, beban operasional perusahaan ikut membengkak. Apabila kondisi ini tidak secepatnya diatasi, maka peluang bagi perseroan untuk mendulang untung lebih besar bakal mengempis. Pada gilirannya, bukannya membaik, fundamental Barito bisa jadi malah jatuh. ”Tapi saya pikir mereka kini sudah mulai berusaha menekan ongkos produksi serendah mungkin. Ini akan positif bagi mereka,” jelasnya.
Hasoloan Napitulu, analis Brent Securities, juga sependapat dengan koleganya. Menurut dia, prospek usaha Barito masih positif. Sikap tegas pemerintah dalam memberantas illegal logging akan memberi sentimen positif bagi perseroan. Makanya dalam jangka panjang, Hasoloan optimistis harga BRPT bisa terkerek sampai level Rp 600. ”Target saya, angka itu bisa tercapai di akhir tahun,” katanya kepada Pringgo Sanyoto dari TRUST.
Proyeksi dari M. Habdi juga tidak berbeda jauh. Menurut analis Meridien Capital ini, peluang terjadinya penguatan saham BRPT masih terbuka. Setidaknya di akhir tahun harganya bisa melonjak di atas level Rp 60. Itu sebabnya, Habdi merekomendasikan beli terhadap saham ini. o


Berikan Komentar untuk artikel ini

Edisi 09 - 10 Tahun VI
31 Desember - 6 Januari 2007
www.mnc.co.id