|
|
 |
|
Roekman Prawirasasra, Presdir PT Indonesia Air Transport Tbk: ”Jangan sampai Dicaci Maki Investor”
|
| Budi Kusumah |
| |
HAJATAN itu akhirnya selesai juga. Bukan hanya pemangku hajat yang bisa tersenyum lantaran sahamnya terjual laris manis. Para investor, yang kebagian jatah juga, tampak gembira. Maklum, setelah sukses memperebutkan saham PT Indonesia Air Transport Tbk. (IAT), yang permintaannya mencapai 2,5 kali lipat, di pasar perdana para pemodal itu berhasil mengantongi gain 7,69%. Soalnya, saat pencatatan dilakukan (13/9), saham berkode IATA itu diperdagangkan di harga Rp 140 alias naik Rp 10.
Beberapa analis yang dihubungi TRUST menyebutkan, ada kemungkinan harga IATA masih akan terdongkrak naik. Sebab, dengan harga yang terbentuk saat ini, PER alias price earning ratio (perbandingan antara harga saham dan laba per saham) baru mencapai 8 kali. ”Jadi harganya masih berpotensi merangkak ke Rp 150-Rp 160,” kata seorang analis dari sebuah sekuritas asing.
Tentu saja kenaikan harga tersebut tidak akan terjadi begitu saja. Potensi penguatan baru akan menjadi kenyataan kalau, di kemudian hari, anak perusahaan Bimantara itu menunjukkan peningkatan kinerja yang signifikan. Atau paling tidak, bisa mempertahankan posisi keuangannya seperti yang telah dicapai pada kuartal I lalu.
Hingga 31 April 2006, IAT mencatat laba bersih Rp 29,258 miliar. Artinya, jika angka itu bisa dipertahankan, maka di akhir tahun perseroan akan mengantongi laba bersih sekitar Rp 87,7 miliar. Dan sesuai dengan janji yang tertuang dalam prospektus—yang menyebutkan 20% keuntungan akan dibagikan sebagai dividen bila laba yang diraih berada di atas Rp 50 miliar—maka investor bolehlah berharap bakal mengantongi dividen Rp 40 per saham.
Pertanyaannya, apa mungkin kinerja perseroan bisa meningkat seperti yang diharapkan? Aksi korporasi apa saja yang akan dilakukan manajemen untuk mencapai target yang telah ditetapkan di awal tahun? Berikut petikan wawancara TRUST dengan Roekman Prawirasasra, Presiden Direktur PT Indonesia Air Transport Tbk.
APA SAJA RENCANA BISNIS IAT KE DEPAN?
Kami akan melakukan beberapa langkah diversifikasi usaha. Salah satunya mengoptimalkan usaha perawatan pesawat (AMO) dengan menggandeng mitra strategis. Selain itu, kami juga tengah menjajaki untuk masuk ke penerbangan berjadwal dan angkutan kargo. Permohonan izinnya sudah kami ajukan ke Departemen Perhubungan.
MEMANG IAT SUDAH MEMPUNYAI PESAWAT UNTUK MELAYANI PENERBANGAN BERJADWAL?
Sudah kami siapkan. Kami sudah membeli dua unit fixed wing ATR 42 dari Denmark dengan harga US$ 3 juta per unit. Ini pesawat buatan Prancis yang berkapasitas 50 penumpang dan akan kami terima pekan depan.
AKAN MENERBANGI RUTE MANA?
Untuk sementara Denpasar-Lombok. Namanya juga sambil belajarlah.
MEMANG ITU JALUR MENGUNTUNGKAN?
Insya Allah. Sebab, di rute itu kami sudah mengikat kontrak kerja sama untuk jangka enam tahun dengan perusahaan perjalanan Ramantha Ayu. Sesuai perjanjian, kami akan memperoleh pendapatan minimum dari 130 jam terbang per bulan per pesawat. Untuk setiap jamnya dihargai US$ 1.250.
KALAU UNTUK ANGKUTAN KARGO?
Kalau itu sedang dalam persiapan. Perlu waktu yang agak panjang untuk belajar. Soalnya kami kan belum berpengalaman.
APA KENDALANYA?
Ya, kalau angkutan dari dalam ke luar negeri itu saya kira bukan persoalan. Yang jadi masalah barang angkutan dari luar ke dalam. Jangan sampai pulang kosong. Jadi, di sini kami harus berhati-hati. Sebab yang kami pakai ini uang publik, jangan sampai kena caci maki investor.
BAGAIMANA DENGAN PELUANG BISNIS PESAWAT ANGKUTAN KHUSUS EKSEKUTIF?
Sudah jalan. Permintaan selalu ada. Makanya kami menyiapkan satu pesawat untuk standby. Bidang ini ramai kalau ada event-event tertentu, seperti pemilu.
SAAT INI BAGAIMANA POSISI IAT DI BISNIS PENERBANGAN CARTER?
Alhamdulillah. Kalau dalam penguasaan pasar kami berada di posisi kedua setelah Pelita Air Service.
DENGAN BEROPERASINYA 35 PERUSAHAAN PENERBANGAN CARTER, BUKANNYA PASAR DI BIDANG INI SUDAH SEMPIT SEKALI?
Tidak juga. Apalagi, pemerintah sekarang sedang menggiatkan produksi minyak dari 900 ribu barel ke 1,1 hingga 1,2 juta barel per hari. Artinya, pasar pesawat carter akan bertambah karena perusahaan minyak yang beroperasi juga bertambah banyak.
IAT MAMPU BERSAING?
Insya Allah. Kami kan sudah punya pelanggan tetap. Seperti Total Indonesie yang sudah memakai armada kami sejak 30 tahun lalu, Conoco 20 tahun, dan banyak lagi. Kemarin kami baru saja meneken kontrak dengan Eni BUKAT, perusahaan minyak dari Italia. Mudah-mudahan, satu kontrak baru lainnya bisa diteken di akhir tahun ini.
JADI TAHUN INI IAT PASTI UNTUNG?
Mudah-mudahan. Pendapatan yang sudah diperoleh kan cukup baik (laba bersih per 30 April Rp 29,25 miliar). Jadi, kemungkinan rugi itu kecil sekali.
KABARNYA DI JAJARAN ARMADA IAT ADA PESAWAT YANG IDLE?
Betul ada dua unit yang tidak boleh diterbangkan karena usianya sudah lebih dari 30 tahun. Itu sesuai dengan peraturan.
JADI MAU DIAPAKAN? DITIMBANG JADI BESI TUA?
Ya, tidaklah. Pesawat itu masih bagus dan bisa terbang dengan aman. Ini akan kami jual ke negara yang belum menerapkan aturan batas usia pesawat, seperti beberapa negara di Afrika.
BISNIS PENERBANGAN ERAT KAITANNYA DENGAN SUMBER DAYA MANUSIA. BAGAIMANA KESIAPAN SDM IAT, TERUTAMA UNTUK KRU TERBANG?
Kami total mempekerjakan sekitar 250 karyawan, 50 di antaranya berprofesi sebagai pilot. Jadi cukup memadailah. Tapi, terus terang, efisiensinya masih perlu ditingkatkan.
JADI AKAN MENAMBAH PESAWAT LAGI?
Rencananya begitu. Paling tidak, kami akan membeli beberapa helikopter baru. o
Berikan Komentar untuk artikel ini
Lihat Komentar untuk artikel ini
|
|
 |
|
 |
Edisi 09 - 10 Tahun VI 31 Desember - 6 Januari 2007 |
 |
|
 |
|