|
|
 |
|
Saham Bosowa, Lebih Enak Lewat Belakang
|
| Kun Wahyu Winasis, Nurul Kolbi, dan Syarif Hidayat |
| |
AMBISI Bosowa untuk eksis di bisnis infrastruktur tampaknya sudah bulat benar. Untuk memuluskan tekad itu, sejumlah cara ditempuh. Salah satunya yakni ikut melantai di Bursa Efek Jakarta. Yang menarik di sini, untuk mengubah statusnya menjadi perusahaan terbuka, Bosowa justru tidak melakukan penawaran saham perdana atau IPO. Melalui bendera PT Nusantara Konstruksi Indonesia (NKI), Bosowa hanya melakukan backdoor listing dengan PT Nusantara Infrastructure Tbk. Perusahaan yang disebut terakhir itu, dulunya, adalah sebuah perusahaan teknologi informasi dengan bendera Media Technology Tbk.
Pilihan NKI terhadap Nusantara Infrastructure sesungguhnya bukan tanpa dasar. Ihsan Binarto, analis Mega Capital Indonesia, mengungkapkan bahwa sejak tahun 2002 hingga tahun lalu, Nusantara Infrastructure nyaris tak pernah mencatatkan keuntungan. Prospek usahanya pun tidak menjanjikan. ”Dalam tiga tahun, Nusantara Infrastructure masih merugi,” katanya. Makanya, dengan fundamental seperti itu, besar kemungkinan dana yang dikucurkan NKI untuk mengambil alih Nusantara Infrastructure tidak begitu besar.
Analis lain menimpali, dengan menguasai Nusantara Infrastructure, NKI tak perlu repot-repot melakukan IPO. Asal tahu saja, NKI adalah perusahaan yang terafiliasi dengan Grup Bosowa milik Aksa Mahmud. Dan anggota dewan perwakilan daerah itu diketahui masih punya ikatan keluarga dengan orang nomor dua di republik ini.
Untuk menjalankan usahanya, NKI memiliki dua anak perusahaan, yakni PT Bosowa Marga Nusantara (BMN) dan PT Bintaro Serpong Damai (BSD). Keduanya sama-sama bergerak dalam bisnis jalan tol. BSD mengelola jalan tol Serpong-Pondok Aren sepanjang 7,2 km dengan masa konsesi selama 35 tahun sejak 22 Februari 1999. Di perusahaan ini, saham NKI mencapai 88,93%. Sementara BMN telah mengelola jalan tol di Makassar, mulai dari seksi I sampai seksi IV. Yang sudah beroperasi adalah seksi I dan II, yang memiliki panjang masing-masing 3 km dan dioperasikan sejak 29 April 1998. Akan halnya proyek jalan tol seksi III dan IV dengan panjang 4,2 km dan 11,57 km, hingga saat ini masih dalam proses pembangunan.
Di BMN, NKI menguasai 90% saham. Sisanya dikuasai oleh PT Jasa Marga. Khusus untuk pembangunan jalan tol seksi IV yang berlokasi di Makassar, rencananya BMN akan berkolaborasi dengan Bosowa Investama. Porsi kepemilikannya 90% BMN dan 10% Bosowa Investama.
Pertanyaannya, bagaimana prospek saham Nusantara Infrastructure (META) pascamerger? Menurut Ihsan, setelah merger, nilai pasar perseroan akan meningkat dari Rp 314,34 miliar menjadi Rp 449,06 miliar. Sementara prospek usahanya dinilai akan membaik. Memang, dengan tingkat suku bunga kredit yang masih tinggi, proyek-proyek infrastruktur tahun ini masih akan tersendat. Tapi, melihat besarnya kebutuhan pembangunan infrastruktur, dalam jangka panjang, pertumbuhan bisnis di sektor ini akan melaju kencang. Jangan lupa, kata seorang analis, perusahaan ini juga dekat dengan kekuasaan. ”Mereka pasti akan cepat mendapat proyek-proyek baru,” tuturnya.
M. Ramdani Basri, Presiden Direktur Nusantara Infrastructure, menuturkan bahwa di masa depan pihaknya akan terus berusaha mendapatkan konsesi baru. Paling tidak, perseroan menargetkan tahun depan bisa mendapatkan satu proyek jalan tol baru, dan selanjutnya di tahun 2009 diharapkan meningkat menjadi 2 proyek. Nah, untuk mendanai proyek-proyek tersebut, pihaknya akan mencari pinjaman. ”Itu bisa kami peroleh dari lembaga asing dan lokal,” katanya.
Menilik kondisi perusahaan dan prospek usahanya, Ihsan memperkirakan dalam jangka panjang saham ini berpotensi untuk naik. Apalagi jika perseroan mampu mewujudkan targetnya: membangun sejumlah ruas tol baru. Hanya saja, untuk jangka pendek, saham yang pekan lalu berada di kisaran Rp 135-Rp 140 ini diyakini belum akan mengalami perubahan berarti. ”Untuk sementara jauhi dulu. Tunggu sampai semuanya menjadi jelas,” kata Ihsan, menyarankan. o
Berikan Komentar untuk artikel ini
Lihat Komentar untuk artikel ini
|
|
 |
|
 |
Edisi 09 - 10 Tahun VI 31 Desember - 6 Januari 2007 |
 |
|
 |
|