Jumat, 21 November 2008 | Berlangganan Majalah TRUST 
Sub Rubrik:

Saham Indosat : Saatnya untuk Melesat

Marah Sutan Nasution, Pringgo Sanyoto, dan Syarif Hidayat
 
Setelah terpuruk di semester I, kalangan analis memperkirakan, kinerja Indosat akan jauh lebih baik di paruh kedua 2006. Banyak kabar positif yang akan membuat saham ISAT berpotensi naik hingga 29% di akhir tahun.

TAHUN Anjing Api, tampaknya, kurang bersahabat dengan PT Indosat Tbk. Selain ditinggalkan nakhodanya (Hasnul Suhaimi yang memilih hengkang ke pesaingnya, Excelcomindo), kinerja perseroan juga terlihat meredup. Paling tidak, itu tergambar dari hasil yang diperoleh sampai semester I 2006. Di saat para pesaingnya, seperti Telkom dan Excelcomindo, mencatat kenaikan laba yang cukup fantastis, peruntungan Indosat justru melorot.

 Artikel Lain
Beli Saham Dapat Kaveling
Menanti Rapor Kuar tal III
IPO Truba, Truba Menyetrum Bursa
Masih Banyak Saham yang Layak Lirik
Saham Indosat : Saatnya untuk Melesat
Saham Bosowa, Lebih Enak Lewat Belakang
Roekman Prawirasasra, Presdir PT Indonesia Air Transport Tbk: ”Jangan sampai Dicaci Maki Investor”
Saham Barito
Setelah Amukan Minyak Mereda
Buat Si Kutu Loncat
Penjualan Indosat turun dari Rp 5,78 triliun menjadi Rp 5,77 triliun. Demikian juga dengan pendapatan operasionalnya, mengempis hampir Rp 400 miliar. Penurunan itu terutama disebabkan oleh merosotnya pendapatan dari layanan seluler yang hanya mencapai Rp 4,29 triliun. Padahal, periode yang sama tahun lalu Indosat mampu meraih pendapatan sebesar Rp 4,31 triliun. Celakanya, dalam kondisi yang kurang menggembirakan itu, beban biaya yang harus dikeluarkan perseroan naik 8,8% menjadi Rp 4,2 triliun. Alhasil, laba bersih perusahaan ini ikut terpangkas sebanyak 30,21% menjadi tinggal Rp 548,71 miliar.
Edwin Sinaga, analis Kuo Capital Raharja, mengatakan, ada beberapa faktor yang membuat kinerja Indosat menurun. Pertama, secara administrasi, peraturan mengenai pelaporan pemakai kartu seluler prabayar menyebabkan banyak subscriber (pengguna kartu) yang tidak mendaftar. Sehingga, mereka tidak mengaktifkan kartunya kembali. Dalam masalah ini, dibandingkan perusahaan telekomunikasi lain, Indosat terlihat kurang siap menghadapi aturan tersebut.
Penyebab kedua menyangkut kekosongan jabatan direktur utama. Sepeninggal Hasnul, perseroan kehilangan leader yang bisa menerjemahkan visi dan misi yang jelas. ”Tidak adanya direktur utama menurut saya membuat koordinasi dari semua elemen bisnis Indosat menjadi lemah” tutur Edwin. Faktor ketiga, Edwin menambahkan, terkait dengan strategi pemasaran dan pengembangan produk. Dibandingkan kompetitornya, Indosat cenderung kurang agresif dan lamban.
Sementara, Willy Sanjaya, analis Mahakarya Securities, menilai jebloknya kinerja Indosat dipengaruhi juga oleh sikap pemerintah. Menurutnya, sejak saham perseroan dikuasai oleh Temasek, perhatian pemerintah terhadap Indosat menjadi berkurang. Bahkan, kesan yang muncul ke permukaan, pemerintah seperti tak mau tahu dengan kinerja perusahaan. Sebagai gambaran saja, ketika masih sama-sama dikuasai pemerintah, harga saham Indosat dan Telkom seperti dijaga agar tetap sama. Bahkan saham Indosat selalu dihargai lebih mahal ketimbang Telkom.
Sejak akhir tahun lalu—tepatnya ketika muncul rencana buy back saham Temasek oleh pemerintah—harga saham Indosat selalu berada di bawah Telkom. Contohnya seperti yang terjadi pekan kemarin. Ketika Indosat dihargai Rp 4.950 (21/9), saham Telkom sudah berada di level Rp 8.300. Makanya, tidak mengherankan jika banyak investor yang curiga bahwa penurunan saham Indosat itu sengaja dilakukan untuk memudahkan pihak-pihak tertentu yang ingin menguasai saham perseroan. Hanya saja, hingga kini kecurigaan itu belum terjawab. Pemerintah memang masih mengotot untuk membeli kembali sahamnya. Namun, Temasek pun dengan tegas telah melontarkan penolakan.

BANYAK RUMOR DI PASAR
Terlepas dari adanya tarik ulur antara pemerintah dan pemegang saham mayoritas Indosat, beberapa analis menilai, pamor emiten ini bakal membaik di paruh kedua 2006. Makanya, mereka menyarankan agar para investor tidak memandang remeh emiten ini. Promosi besar-besaran yang belakangan dilakukan perseroan terbukti cukup ampuh menjaring konsumen baru. Sebagai contoh, sepanjang kuartal II-2006, jumlah pelanggan baru bertambah 904 ribu. Sehingga, total pelanggan Indosat akhir Juni lalu mencapai 13,9 juta. Kabar baik yang lain, bisnis non-seluler milik perusahaan ini juga mulai memberikan hasil yang lumayan. Contohnya pendapatan dari jasa multimedia, komunikasi data, dan internet (MIDI) meningkat 13% menjadi Rp 927,33 miliar.
Adita Irawati menuturkan, manajemen akan terus meningkatkan kinerjanya. Salah satunya adalah mempersiapkan layanan 3G yang ditargetkan selesai akhir tahun ini. Untuk membangun fasilitas tersebut, perseroan telah menyiapkan dana sebesar US$ 30-40 juta. Duit sebesar itu akan dipakai untuk pemasangan sebanyak 300 BTS baru. ”Untuk sementara pemasangan BTS masih dibatasi di sekitar Jakarta dan Surabaya,” tutur Kepala Divisi Komunikasi Indosat itu.
Melihat tren positif tadi, beberapa analis pun ikut menaikkan target harga saham ini sampai akhir tahun. JP Morgan misalnya, menargetkan saham ISAT—begitu kodenya di bursa—naik sampai level Rp 5.900 per saham. Sementara target Danareksa sebesar Rp 5.200 dan Mahakarya Securities di level Rp 5.500. Prediksi UBS bahkan lebih hebat. Mereka meyakini saham ini masih berpotensi naik hingga 29% ke level Rp 6.400 per sahamnya. Sekadar informasi, dibandingkan awal Agustus silam, harga saham Indosat telah melonjak 16,4%.
Edwin pun memperkirakan, harga saham Indosat akan berada di level Rp 5.200-5.500. ”Melihat performa semester I 2006, saya memproyeksikan laba bersihnya berkisar antara Rp 1,3-Rp 1,5 triliun sampai dengan akhir tahun,” tutur Edwin. Robin Setiawan, analis AM Capital, berkeyakinan saham ISAT bakal tembus ke level Rp 6.000. ”Munculnya produk-produk baru akan membawa dampak positif pada emiten ini. Apalagi mereka (Indosat) kabarnya akan menggandeng anak perusahaan Temasek di Singapura,” katanya.
Selain perbaikan kinerja, seorang analis menuturkan, pergerakan saham ISAT dipengaruhi oleh beberapa rumor yang belakangan mencuat di pasar. Di antaranya soal rencana penunjukan Rudiantara, mantan Direktur Excelmindo Pratama, untuk mengisi posisi yang ditinggalkan Hasnul Suhaimi. Dalam sebuah acara, Rudiantara kepada TRUST memang masih menolak kabar itu. Hanya saja, mantan pekerja Indosat ini tidak memungkiri kemungkinan untuk bekerja di BUMN telekomunikasi.
Isu lain yang tak kalah hot menyangkut rencana masuknya Vodafone mengikuti jejak Rudiantara. Namun, kemungkinan itu langsung ditepis oleh Adita Irawati. ”Itu isu pasar yang tidak jelas. Sampai saat ini, tidak ada konfirmasi tentang apa pun kepada kami,” tegasnya. Guntur Siboro, Group Head Integrated Indosat, menambahkan, tidak mungkin bagi Vodafone masuk ke perusahaannya. Pasalnya, melalui perusahaan aliansinya di Malaysia, mereka telah membeli saham Excelcomindo.
Sedangkan soal kemungkinan pelepasan sebagian saham Temasek di Indosat, Adita mengaku tak tahu-menahu. Menurutnya, manajemen adalah pihak yang terakhir diberi tahu jika memang terjadi perubahan struktur kepemilikan di Indosat. Makanya, Adita menilai, informasi yang kini beredar kencang di pasar itu hanya isapan jempol belaka. o


Berikan Komentar untuk artikel ini
Lihat Komentar untuk artikel ini

Edisi 09 - 10 Tahun VI
31 Desember - 6 Januari 2007
www.mnc.co.id