Rabu, 7 Januari 2009 | Berlangganan Majalah TRUST 
Sub Rubrik:

Upaya Mega Mendongkrak Laba

Budi Kusumah dan Hendra Gunawan
 
DALAM sebuah pertemuan dengan sejumlah pimpinan media massa, Jumat malam pekan lalu, Gubernur Bank Indonesia Burhanuddin Abdullah terdengar berkeluh kesah. Kata dia, BI Rate telah diturunkan secara terus-menerus tapi kucuran pada sektor riil tetap mampet alias tidak jalan. Itu karena mayoritas bank yang ada tetap mempertahankan bunga kredit pada level yang tinggi. Para bankir itu kelihatannya tetap belum yakin kredit yang disalurkannya ke dunia usaha tidak akan menjadi kredit macet. Itu sebabnya banyak bank kini tetap berkonsentrasi pada kredit konsumer.
Berbagai upaya dilakukan untuk menggaet nasabah perorangan yang membutuhkan dana konsumsi. Dan kadang, iming-iming yang ditawarkan kerap terdengar ”aneh” dan—selintas—tak masuk akal. Contohnya kredit konsumsi berlabel Mega Refund (MR) yang kini sedang giat dijajakan oleh Bank Mega. Bagi orang awam, produk ini sungguh mengherankan. Sebab, setelah jangka waktu tertentu, bank akan mengembalikan seluruh pokok pinjaman kepada nasabah yang bersangkutan. Aneh kan?
Pokok pinjaman yang telah dibayarkan secara mencicil oleh nasabah malah dikembalikan? Misalnya begini. Rio, yang berusia 30 tahun, mengambil kredit pemilikan rumah alias KPR sebesar Rp 400 juta dengan jangka waktu pembayaran 10 tahun. Setelah lunas, ia tinggal menunggu saat investasi jatuh tempo selama 20 tahun (30 tahun dikurangi masa cicilan 10 tahun) tanpa membayar apa-apa lagi. Sehingga, ketika berusia 60 tahun, Rio akan mendapatkan dana sebesar Rp 435 juta. Rinciannya, yang Rp 400 juta merupakan jumlah cicilan pokok yang telah dibayarkan, sedangkan yang Rp 35 juta merupakan premi yang dibayarkan nasabah ketika melakukan akad kredit.

 Artikel Lain
Dua Tahun 5%, Apa Bisa?
Bajak-membajak Makin Marak
Supaya Kredit Makin Encer
Saham Panas di Bank Mandiri
Upaya Mega Mendongkrak Laba
Kecil Itu Tidak Selalu Indah
Kenapa SPP Harus Pilih Bulu?
Bukan Omong Kosong
Sukuk, Syariah yang Terganjal Undang-Undang
Mengincar Rezeki Para TKI
”Besaran premi ditentukan berdasarkan umur dan jangka waktu kredit. Itu ada rumus hitung-hitungannya,” kata Jopie Jusup, Vice President Consumer Bossiness Division Head Bank Mega. Premi itulah, kata Jopie, yang disetorkan bank kepada perusahaan asuransi Mega Life. Sehingga, pengembalian cicilan pokok plus premi tadi tidak menjadi tanggungan bank. Sebab, perusahaan asuransilah yang akan memutar dana tersebut pada sejumlah keranjang investasi.
Prosesnya pun tidak ada yang terlalu aneh. Jika pada saat mencicil si nasabah meninggal dunia, perusahaan asuransi akan membayarkan seluruh kewajiban nasabah kepada bank. Refund yang menjadi hak nasabah juga akan ditanggung sepenuhnya oleh Mega Life.
Menurut Jopie, produk ini cukup laris. Sejak diluncurkan pada September lalu, pihaknya telah berhasil menggaet sejumlah nasabah dengan nilai kredit Rp 500 miliar. ”Target kami, hingga akhir tahun nanti bisa mencapai Rp 700 miliar,” katanya. Selain itu, masih ada sederet pengembang yang kini tengah antre untuk menjalin kerja sama dengan Bank Mega.
Lantas apa yang menjadi sasaran akhir Bank Mega melalui produk anyarnya ini? Yang pertama, tentu saja, untuk mendapatkan bunga dengan cara yang aman. Sebab, kredit konsumsi—seperti KPR, kredit pemilikan mobil (KPM), dan kredit multiguna—merupakan jalur yang relatif aman karena memiliki jaminan yang jelas. Selain itu, bunganya pun cukup menggiurkan bank. Saat ini, misalnya, bunga KPR di Bank Mega masih bertengger di kisaran 14%-15%, KPM 7% flat, dan multiguna 17%.
Menggenjot kredit yang aman demi memperoleh pendapatan bunga yang lebih tinggi memang menjadi tujuan utama bank ini. Maklum, berdasarkan laporan keuangan per 30 September, Bank Mega hanya mencatatkan kredit sebesar Rp 10,5 triliun. Itu berarti, dalam setahun, kredit yang disalurkan hanya mengalami peningkatan Rp 183 miliar alias 1,7%.
Akibatnya, pendapatan bunga bersihnya turun Rp 138,7 miliar. Itu terjadi lantaran beban bunga yang harus dibayar mengalami kenaikan hampir Rp 800 miliar. Dan buntut dari itu semua, per akhir September lalu laba bersihnya menukik Rp 38 miliar menjadi tinggal Rp 147 miliar. o


Berikan Komentar untuk artikel ini

Edisi 09 - 10 Tahun VI
31 Desember - 6 Januari 2007
www.mnc.co.id