Jumat, 10 September 2010 | Berlangganan Majalah TRUST 
Sub Rubrik:

Bajak-membajak Makin Marak

Kun Wahyu Winasis, Pringgo Sanyoto, Hendra Gunawan, dan Windarto
 
MASUKNYA investor asing ke industri nasional memang telah memunculkan sentimen negatif. Pengamat perbankan, praktisi, hingga anggota parlemen menilai akuisisi bank-bank lokal oleh pemodal luar negeri akan berdampak kurang baik. Salah satunya terkait dengan pemberian kredit.
Menurut Dradjad Wibowo, anggota Komisi XI DPR, keberadaan asing di industri perbankan tidak memberikan kontribusi besar terhadap perekonomian nasional. Soalnya, setelah dikuasai asing, bank-bank lokal itu cenderung bermain di sektor konsumsi.
Di samping hal-hal yang negatif, harus diakui, masuknya asing juga telah membuat industri perbankan makin bergairah. Ini lantaran persaingan yang terjadi semakin ketat. Sehingga, mau tidak mau, agar bisa tetap eksis setiap bank mesti terus berbenah dan memperbaiki diri.

 Artikel Lain
Ketika Asuransi Diterjang Banjir Klaim
Ancaman buat Produk Terproteksi
Bank Sentral Terancam Defisit
Dua Tahun 5%, Apa Bisa?
Bajak-membajak Makin Marak
Supaya Kredit Makin Encer
Saham Panas di Bank Mandiri
Upaya Mega Mendongkrak Laba
Kecil Itu Tidak Selalu Indah
Kenapa SPP Harus Pilih Bulu?
Apabila kondisi bank makin sehat, bukan hanya pemiliknya yang senang. Pemerintah juga bakal beruntung lantaran setoran pajaknya ikut meningkat. Lalu, bagi nasabah, tidak sedikit pula keuntungan yang bisa diperoleh. Misalnya, produk yang ditawarkan bank akan semakin bervariasi. Selain itu, persaingan yang ketat biasanya akan menciptakan koreksi harga. Di sinilah peluang terjadinya penurunan suku bunga pinjaman semakin terbuka lebar.
Yang tak kalah menarik sebenarnya adalah keuntungan yang didapat oleh para bankir. Masuknya investor asing dengan modal kakap jelas merupakan peluang bagi mereka untuk mendapat kesempatan berkarir yang lebih besar. Apalagi, Bank Indonesia juga telah mengeluarkan aturan yang membatasi tenaga kerja asing.
Seorang bankir senior mengungkapkan, akuisisi yang dilakukan sejumlah investor asing terhadap bank-bank kecil akan membuat aksi bajak-membajak bankir makin ramai. Maklum, saat ini di pasar tidak terlalu banyak stok bankir berkualitas. ”Kalaupun ada, orang-orangnya itu-itu saja. Cuma harganya yang naik,” ungkap Maya Kartika, County Head Of Human Resources ABN-AMRO.
Firman Wibowo, salah satu pengajar di Institut Bankir Indonesia (IBI), menjelaskan, sedikitnya jumlah bankir berkualitas, banyak dipengaruhi oleh krisis yang melanda perbankan 10 tahun lalu. Akibat penutupan banyak bank itu, profesi bankir nyaris tak banyak dilirik orang. Dampaknya, regenerasi para bankir ikut tersendat. Padahal, untuk membentuk seorang menjadi bankir berkualitas butuh waktu panjang. ”Tidak bisa instan,” kata Firman.
Pendapat Sukadmo Padmosukarso sami mawon. Menurut Direktur Bank Internasional Indonesia ini, sejak perbankan ramai-ramai masuk ke sektor konsumen dan small medium enterprise (SME), lalu lintas perpindahan pegawai menjadi semakin padat. Nah, sebagai salah satu bank yang sudah berpengalaman di kedua segmen bisnis tadi, otomatis pegawai BII selalu menjadi target incaran.
Lihat saja buktinya di lapangan. Begitu Citibank, NISP, ABN-AMRO, HSBC, serta Bank Lippo menggarap dengan serius sektor konsumen dan SME, banyak awak BII yang berganti baju. Pegawai di level officer yang baru memiliki pengalaman tiga tahun, kata Sukadmo, di tempat baru biasanya ditawari gaji dua kali lipat. Selain itu, jabatannya naik minimal menjadi kepala bagian. ”Biasanya mereka (karyawan) pindah dengan satu pasukan. Istilahnya bedol deso,” ujarnya.

KEBUTUHAN PASAR CUKUP BESAR
Salah satu bankir papan atas bercerita, tren bajak-membajak bankir itu sudah ramai sejak 2003. Ia lantas menunjuk kasus di Bank BNI. Ketika Bank Danamon hendak membesarkan Danamon Simpan Pinjam (DSP) tahun 2003, banyak SDM BNI yang pindah ke sana. Kebetulan, pada saat bersamaan, manajemen BNI di bawah Sigit Pramono menutup usaha layanan mikro yang telah dikembangkan oleh direksi sebelumnya, Saefuddin Hasan. Para SDM itu, katanya, biasanya pergi dengan membawa klien mereka.
Maya Kartika tidak memungkiri jika perusahaannya juga merekrut tenaga kerja dari bank-bank lain. Terutama yang berada di middle management yang kini jumlahnya mencapai 300 orang. ”Sebelum masuk ABN-AMRO, rata-rata mereka berasal dari industri perbankan juga,” ungkapnya.
Untuk bisa menggaet para bankir itu, banyak cara yang dilakukan perusahaan asal Belanda ini. Misalnya dalam hal gaji. Selama setahun, ABN-AMRO, lanjut Maya, selalu memberikan 15 kali gaji. Di luar itu masih ada fasilitas lain seperti tunjangan rumah, mobil, dan medical benefits yang kompetitif di pasar tenaga kerja industri perbankan.
Maya juga tidak memungkiri, para pegawai ABN-AMRO bisa saja ganti dibajak oleh bank lain. Apalagi, belakangan ini, beberapa bank lokal terlihat begitu agresif menggarap bisnis konsumen yang selama ini lebih didominasi bank asing. ”Biasanya bank lokal berani memberi gaji tinggi,” paparnya.
Aksi rebutan bankir di level atas memang tak pernah sepi. Sumber TRUST lantas bercerita. Ketika Santubong—investor Malaysia—menguasai Bank Lippo, banyak pegawai yang kinerjanya dianggap sudah mentok diminta pensiun dini dengan imbalan besar. Nah, sebagai gantinya, kata si sumber, Lippo lalu menggaet sejumlah bankir yang sudah mapan. Ada yang berasal dari Citibank dan bank nasional lain.
Yang menyakitkan, kata si bankir, bukan hanya pemimpinnya yang dibajak, banyak anak buahnya pun ikut pindah. Dengan strategi seperti itu, katanya menambahkan, Lippo tak perlu repot-repot mengembangkan sistem sendiri. Soalnya, melalui pegawai yang dibajak tadi, manajemen bisa dengan mudah menyontek sistem yang telah dikembangkan dan teruji di tempat lama. Sayang, manajemen Lippo enggan memberi komentar seputar masalah ini.
Menurut Firman, fenomena pembajakan eksekutif di perbankan masih dalam koridor yang wajar. Soalnya, untuk mengembangkan bisnis, bank memang membutuhkan SDM yang andal. Dosen yang juga Wakil Corporate Secretary Bank BNI ini menuturkan, kekuatan perbankan itu sejatinya terletak pada empat elemen dasar, yakni finance, marketing, operation, dan SDM. Intinya, tanpa SDM yang mumpuni akan sulit bagi sebuah bank untuk bisa bersaing.
Terlepas dari aksi bajak-membajak itu—yang pastinya bakal semakin ramai—kebutuhan tenaga bankir di masa depan diperkirakan bakal terus membesar. Bank Danamon misalnya. Tahun ini, kata Muliadi Rahardja (Direktur Bank Danamon), perseroan berniat merekrut 3.000 tenaga kerja baru. Sementara tahun lalu jumlah pegawai baru Danamon mencapai 4.067 orang.
Tingginya kebutuhan bankir baru, kata Muliadi, lebih disebabkan oleh pertumbuhan bisnis perusahaan yang cukup tinggi. Makanya, level pegawai yang diambil Danamon kebanyakan berada di tingkatan bawah. ”Tapi ada juga bankir senior yang kami ambil untuk mengisi pos yang ditinggalkan pegawai lama,” paparnya. Saat ini, total pegawai di Bank Danamon mencapai 19 ribu lebih.
Menyimak kebutuhan yang demikian besar, profesi yang satu ini tampaknya bakal kembali menjadi incaran banyak orang. Maklum, selain bergaji wah, menjadi bankir juga memiliki gengsi tersendiri di masyarakat. o


Berikan Komentar untuk artikel ini

Edisi 09 - 10 Tahun VI
31 Desember - 6 Januari 2007
www.mnc.co.id