Jumat, 12 Maret 2010 | Berlangganan Majalah TRUST 
Sub Rubrik:

Dua Tahun 5%, Apa Bisa?

Kun Wahyu Winasis dan Hendra Gunawan
 
DIBANDINGKAN yang konvensional, perbankan syariah kita memang belum ada apa-apanya. Sampai akhir 2006 asetnya baru sekitar Rp 27,6 triliun. Jumlah tersebut hanya 1,56% dari total aset perbankan nasional yang telah mencapai Rp 1.634 triliun. Sementara jumlah banknya pun belum banyak, baru ada tiga bank umum syariah, 20 unit usaha syariah, dan 105 BPR syariah.
Kendati berkembang lamban, Bank Indonesia percaya prospek bisnis syariah masih menjanjikan. Bahkan, para pejabat di Kebon Sirih itu berani menargetkan aset perbankan syariah di akhir 2008 nanti akan mencapai 5% dari total aset perbankan nasional. Itu berarti, setiap tahunnya pertumbuhan bank syariah minimal harus mencapai 100%.
Lantas bagaimana BI mewujudkan ambisi itu? Harisman, Direktur Direktorat Perbankan Syariah BI, menuturkan, ada beberapa langkah yang akan dilakukan untuk mencapai target tersebut. Misalnya, mulai tahun ini BI akan menerapkan program akselerasi perbankan syariah.

 Artikel Lain
Tenang, Masih di Jalur Aman
Ketika Asuransi Diterjang Banjir Klaim
Ancaman buat Produk Terproteksi
Bank Sentral Terancam Defisit
Dua Tahun 5%, Apa Bisa?
Bajak-membajak Makin Marak
Supaya Kredit Makin Encer
Saham Panas di Bank Mandiri
Upaya Mega Mendongkrak Laba
Kecil Itu Tidak Selalu Indah
Ada dua hal yang bakal menjadi fokus perhatian bank sentral dalam program itu. Selain akan melakukan sosialisasi yang lebih intensif kepada masyarakat, BI juga akan mendorong pengayaan produk dan jasa serta outlet pelayanan keuangan syariah. Sehingga keberadaan bank syariah bisa menjangkau kebutuhan masyarakat secara lebih luas.
Semakin beragamnya produk di bank syariah juga diharapkan bisa membantu pendalaman pasar keuangan nasional. Di samping itu, BI juga akan berperan aktif mendorong masuknya investasi luar negeri melalui instrumen keuangan syariah. Nah, masuk-nya dana asing inilah yang diharapkan bisa mendongkrak aset bank syariah. Sebab, jika hanya tumbuh secara organik, target 5% dalam dua tahun sepertinya agak mustahil terwujud.
Menurut sumber TRUST di bank sentral, saat ini sudah ada tiga lembaga asing yang berencana menanamkan modalnya. Mereka adalah Kuwait Finance House, Qatar Islamic Bank, dan Al Baraqah Bank. Ada dua opsi yang akan ditempuh pemodal dari Timur Tengah tersebut, membuka cabang atau melakukan akuisisi terhadap bank lokal yang selanjutnya dikonversi menjadi bank syariah.

TUMBUH LEBIH CEPAT
Harisman mengatakan, untuk bisa mencapai target 5%, dalam dua tahun ini perbankan syariah paling tidak harus bisa tumbuh di atas 70% saban tahunnya. ”Kami berharap, melalui program akselerasi ini target tersebut bisa tercapai,” katanya.
Para Bankir syariah sendiri cukup antusias menyambut regulasi yang akan diluncurkan bank sentral tersebut. Menurut Ani Murdiati, Direktur Bisnis Bank Syariah Mega Indonesia (BSMI), dengan produk yang lebih beragam, masa depan industri perbankan syariah bakal semakin cerah.
Ani lantas mencontohkan perkembangan perusahaannya. Sampai akhir 2006, aset BSMI tercatat sebesar Rp 2,1 triliun. Itu berarti, dalam tempo setahun, kekayaan bank milik Grup Para ini tumbuh 134%. Tahun ini, BSMI punya ambisi lebih besar lagi. Menurut Ani manajemen menargetkan bisa meningkatkan asetnya hingga Rp 5 triliun atau tumbuh 140%. Selain itu, BSMI juga berharap pembiayaannya bisa bertambah sekitar Rp 2,7 triliun menjadi Rp 4,7 triliun.
Berbagai upaya akan dilakukan BSMI untuk merealisasikan ambisinya tersebut. Misalnya membuka 20 cabang baru dengan investasi sekitar Rp 60 miliar. ”Hadirnya cabang baru tersebut membuat jumlah tenaga kerja kami bertambah 200 orang,” katanya.
Untuk memperkuat permodalan, pemegang saham juga berencana memasukkan seluruh keuntungan bersih tahun lalu (senilai Rp 54 miliar) ke dalam struktur modal perusahaan. ”Kami masih menanti persetujuan pemegang saham dalam RUPS yang akan datang,” kata Ani. Jika semua rencana berjalan mulus, manajemen BSMI optimistis di akhir 2007 nanti bisa meraih keuntungan bersih sebesar Rp 150 miliar.
Kendati persaingan dinilai bakal semakin ketat, peluang bagi bank syariah untuk lebih mempercantik diri masih cukup besar. Tidak hanya dalam menjaring dana masyarakat, tapi juga terkait dengan pembiayaan. Apalagi, strategi yang dikembangkan oleh bank-bank syariah dengan berkonsentrasi di sektor usaha menengah dan kecil dinilai sudah tepat.
Berdasarkan data BI, sampai akhir 2006, dari total pembiayaan sebanyak Rp 20,4 triliun, sekitar 72,7% atau senilai Rp 14,8 triliun terkonsentrasi di UKM. Sisanya masuk ke debitor-debitor besar yang masuk dalam lingkup korporasi. Hanya yang agaknya perlu menjadi perhatian, belakangan ini kebanyakan pembiayaan tadi lebih banyak masuk ke pasar konsumsi.
Lihat saja, selama 2006, pembiayaan konsumsi tumbuh paling cepat ketimbang pembiayaan modal kerja dan investasi. Khusus di konsumen, dana yang disalurkan bank-bank syariah naik 93% menjadi Rp 5,6 triliun. Sedangkan modal kerja dan investasi masing-masing tumbuh 31,6% dan 2% menjadi Rp 10,4 triliun dan Rp 4,3 triliun.
Ari Purwandono, Senior Vice President Bank Niaga Syariah, menuturkan, sejatinya segmen usaha yang bisa dimasuki bank syariah masih cukup lebar. Sebagai contoh sektor telekomunikasi dan perkebunan. Khusus telekomunikasi, kata Ari, meningkatnya kebutuhan operator telepon akan BTS (base transceiver station) menjadi salah satu pasar yang menjanjikan.
Maraknya perusahaan yang terjun ke bisnis energi alternatif juga dinilai bakal menggairahkan sektor perkebunan. ”Kami juga membiayai bisnis batu bara. Terutama para kontraktor yang mengangkut batu bara dan yang lainnya,” jelasnya.
Berdasarkan catatan BI, sepanjang 2006 sektor jasa usaha menjadi penerima dana terbesar senilai Rp 5,4 triliun atau 26,6% dari total pembiayaan bank syariah. Selanjutnya, perdagangan, restoran, dan ritel menyerap dana sekitar Rp 3 triliun (14,8%). Sedangkan konstruksi sebesar Rp 1,6 triliun atau 8,01%. Dengan asumsi ekonomi akan terus membaik, Ari berkeyakinan tahun ini pembiayaan di bank yang dipimpinnya akan mencapai Rp 700 miliar atau tumbuh 40%.
Seorang bankir menambahkan, peluang bagi bank-bank syariah untuk meningkatkan pembiayaan memang cukup terbuka. Apalagi, dana pihak ketiga di bank syariah diyakini bakal tumbuh subur tahun ini. Penurunan suku bunga simpanan di bank konvensional, kata si bankir, akan sangat menguntungkan perbankan syariah.
Maklum, imbal hasil yang diberikan bank syariah—dalam situasi normal—jauh lebih menarik ketimbang konvensional. Sebagai contoh deposito. Untuk saat ini rata-rata deposito di bank-bank konvensional sudah berada di level 7%-8% per tahun. Namun, di beberapa bank syariah bagi hasil yang diberikan masih bertengger di kisaran 9%-11%. Demikian juga dengan tabungan. Jika di bank konvensional hanya mendapat bunga 4%-5%, di syariah nasabah bisa memperoleh 6%-7% per tahun.
Jadi, jangan heran jika akhirnya akan lebih banyak lagi masyarakat yang memarkir duitnya di bank syariah. o


Berikan Komentar untuk artikel ini

Edisi 09 - 10 Tahun VI
31 Desember - 6 Januari 2007
www.mnc.co.id