Rabu, 7 Januari 2009 | Berlangganan Majalah TRUST 
Sub Rubrik:

Bank Sentral Terancam Defisit

Kun Wahyu Winasis, Windarto, dan Hendra Gunawan
 
BANK Indonesia kembali menurunkan BI Rate ke level 9,25% pekan kemarin (6/2). Sejak Mei tahun lalu, ini merupakan yang ke sepuluh kalinya bank sentral secara beruntun menurunkan suku bunga. Langkah drastis ini, tentu bukan tanpa maksud. Selain untuk mendorong penurunan suku bunga pinjaman di perbankan, pemangkasan BI Rate tadi juga dimaksudkan agar bank-bank tidak lagi memarkir dananya di Sertifikat Bank Indonesia (SBI).
Maklum, sejak suku bunga membubung tinggi akibat kenaikan BBM Oktober 2005, duit yang masuk ke SBI terus membesar. Di bulan Januari 2006, ketika BI Rate di level 12,75%, dana yang ngendon di SBI sudah mencapai Rp 110 triliun.
Anehnya, ketika BI terus memangkas suku bunganya, jumlah dana yang parkir di instrumen moneter tadi justru kian membesar. Sampai akhir 2006, ketika BI Rate 9,75%, jumlah dana di SBI telah melonjak hingga sebesar Rp 207 triliun. Dan Rabu pekan lalu (7/2), ketika digelar lelang SBI, jumlah dana yang masuk kian menumpuk. Menurut Budi Mulya, Direktur Direktorat Perencanaan Strategis dan Hubungan Masyarakat BI, jumlah dana yang ada di SBI telah mencapai Rp 235 triliun. Artinya terjadi peningkatan sebanyak 113% ketimbang awal 2006.

 Artikel Lain
Tambang Emas yang Akan Dibatasi
Tenang, Masih di Jalur Aman
Ketika Asuransi Diterjang Banjir Klaim
Ancaman buat Produk Terproteksi
Bank Sentral Terancam Defisit
Dua Tahun 5%, Apa Bisa?
Bajak-membajak Makin Marak
Supaya Kredit Makin Encer
Saham Panas di Bank Mandiri
Upaya Mega Mendongkrak Laba
Pemilik dana di SBI cukup beragam. Ada yang berasal dari perbankan, pemodal asing, dana pensiun, hingga pemerintah daerah. Menurut data BI, dana asing yang diparkir di SBI mencapai Rp 24,7 triliun. Jumlah itu bertambah sekitar Rp 6,2 triliun ketimbang akhir Desember lalu yang sebesar Rp 18,5 triliun. Sementara di bulan Januari 2006, kepemilikan asing di SBI baru mencapai Rp 16,5 triliun.
Dana dari daerah juga jumlahnya masih cukup tinggi. Duit yang diparkir melalui bank pemerintah daerah (BPD) ini, 7 Februari kemarin, masih mencapai Rp 36,6 triliun. Dibandingkan Januari silam, angka itu memang mengalami penurunan sekitar Rp 4 triliun. Akan tetapi, jumlahnya tetap jauh lebih tinggi ketimbang penempatan BPD di awal 2006 yang baru sekitar Rp 19,6 triliun.
Masih tingginya duit yang parkir di SBI tersebut, sudah barang tentu membuat bank sentral pusing. Soalnya, untuk kegiatan operasi pasar terbuka (OPT) itu, BI harus mengeluarkan duit besar. Sebagai gambaran, tahun lalu bank sentral menghabiskan tak kurang dari Rp 20 triliun hanya untuk membayar bunga SBI. Jika ditambah dengan remunerasi giro wajib minum (GWM) perbankan, angkanya membengkak hingga sebesar Rp 22 triliun. Budi mengatakan, volume OPT kian lama angkanya makin membesar. Jika di akhir Desember 2005 nilainya baru sekitar Rp 131,8 triliun, Januari lalu telah melesat menjadi Rp 269,6 triliun.
Meskipun suku bunga SBI telah menurun, lanjut Budi, tak berarti biaya moneter ikut menyusut. Malah bisa saja angkanya lebih tinggi ketimbang tahun lalu. Coba dihitung. Taruhlah dana di SBI tetap bertahan di kisaran Rp 230 triliun. Dengan asumsi bunganya di kisaran 9,25% saja, maka biaya yang harus dikeluarkan BI mencapai Rp 21,275 triliun. Tapi, sekali lagi, ini baru sebuah asumsi. Fakta sesungguhnya? Kita lihat saja akhir tahun kelak.

DANA DI SBI TETAP TINGGI
Bien Subiantoro, Direktur Bank BNI, menilai peningkatan dana pada instrumen SBI hanya bersifat sementara. Pasalnya, dengan tingkat suku bunga kredit yang masih cukup tinggi (di kisaran 16%-18%), bank sebenarnya bisa mendapatkan keuntungan lebih besar ketimbang menaruh di SBI. Hanya memang, Bien mengakui, saat ini tidak mudah bagi perbankan untuk mendapatkan debitor yang benar-benar layak diberikan kredit. ”Yang meminta memang banyak. Tapi yang feasible menurut bank jumlahnya sedikit,” paparnya.
Sungguhpun begitu, Bien optimistis, penetrasi kredit perbankan bakal tumbuh mencapai 18% tahun ini. Indikasi itu sudah terlihat dari peningkatan kredit pada dua bulan terakhir 2006 yang tumbuh 20%. Termasuk perbaikan NPL (non performing loan) di perbankan yang kini berada di kisaran 7%. Padahal, di bulan Juni angkanya masih 8,33%.
Penurunan NPL tadi, kata Bien, salah satunya disebabkan oleh berhasilnya restrukturisasi yang dilakukan pada sejumlah debitor. Dengan kata lain, jika debitor kembali lancar membayar cicilannya, boleh dibilang sektor usaha telah mengalami progres positif. Makanya, ia begitu yakin dana di SBI—perlahan tapi pasti—akan menyusut.
Namun, Farial Anwar punya pendapat lain. Managing Director Currency Management ini tidak terlalu yakin penurunan dana di SBI bakal berlangsung cepat. Pengamat pasar uang ini lantas bercerita. Pernah suatu ketika, seorang temannya di bagian treasury sebuah bank swasta nasional mengatakan bahwa dari total aset banknya yang sekitar Rp 30 triliun, sekitar Rp 10 triliun disimpan di SBI. Kebijakan itu, kata sang teman, dilakukan lantaran takut dengan risiko kredit yang masih tinggi. ”Teman saya itu juga bilang, andai kata suku bunga BI turun lagi, dia tetap akan masuk ke SBI, tapi memangkas bunga depositonya. Sehingga masih bisa mendapatkan keuntungan,” tutur Farial.
Bank Indonesia juga tidak menampik bahwa masih banyak persoalan di sektor riil kita. Menurut Burhanuddin Abdullah, Gubernur BI, sektor riil cenderung bergerak lambat karena risiko mikro struktural menghambat penyaluran dana perbankan. Sedangkan sektor-sektor keuangan terus tumbuh membesar karena dana makin bertambah. ”Perekonomian kita hanya tumbuh dengan satu mesin,” tutur Burhanuddin di acara ”Bankers Dinners” Januari silam.
Nah, kalau sudah begitu, naga-naganya kredit masih akan sulit mengucur dengan kencang di tahun ini. Artinya, tumpukan dana di SBI kayaknya akan tetap membesar. Makanya, seorang analis pasar menyarankan BI agar menyiapkan dana besar guna membiayai OPT. Dalam kondisi seperti ini, Budi Mulya mengungkapkan, di tahun 2007 BI tidak akan mendapatkan pemasukan dari pos luar biasa.
Padahal, tahun lalu. BI memperoleh dana senilai Rp 9,1 triliun. Duit itu berasal dari restrukturisasi Surat Utang (SU) Pemerintah 002 dan SU- 004. Berkat pos luar biasa inilah BI memperoleh surplus senilai Rp 22,9 triliun tahun lalu. Jumlah itu lebih tinggi ketimbang surplus tahun sebelumnya yang sebesar Rp 16 triliun.
Sedangkan di tahun 2007, BI praktis hanya mengandalkan pemasukan dari pengelolaan cadangan devisa. Januari lalu jumlah cadangan devisa kita mencapai US$ 42 miliar. Sementara sampai akhir tahun, angkanya diprediksi tembus US$ 47 miliar. Pertanyaannya, akankah BI bakal mendapat untung besar dari pengelolaan devisa? Mestinya sih begitu. Sebab, tahun lalu saja pendapatan dari pos ini mencapai Rp 13,6 triliun. Burhanuddin mengatakan, tahun ini penerimaan operasional BI ditargetkan sebesar Rp 21,9 triliun.
Jika menilik beban moneter yang masih cukup tinggi, plus pengeluaran sebesar Rp 4,4 triliun, tidak usah kaget bila akhirnya tahun ini BI bakal mengalami defisit. Tapi, Budi Mulya menegaskan, hal itu tak perlu dirisaukan. Sebab, salah satu fungsi pokok bank sentral adalah mengelola kebijakan moneter untuk memelihara kestabilan.
Bayangkan, jika likuiditas tidak diatur. Maka uang yang ada di bank akan lari ke mana-mana. Misalnya, dipakai belanja sehingga berpotensi mengerek inflasi. Kemungkinan lain, karena uang selalu mencari return, bisa saja pemiliknya menukar ke dolar. Akibatnya rupiah bisa jatuh. ”Untuk menciptakan stabilitas memang mahal. Lagi pula bank sentral bukan lembaga yang mengejar profit,” kata Budi. o


Berikan Komentar untuk artikel ini
Lihat Komentar untuk artikel ini

Edisi 09 - 10 Tahun VI
31 Desember - 6 Januari 2007
www.mnc.co.id