Jumat, 3 September 2010 | Berlangganan Majalah TRUST 
Sub Rubrik:

Jasa Arta Memilih ’Selingkuh’
Akuisisi BRI

Kun Wahyu Winasis
 
SETELAH hampir setahun melakukan perburuan, Bank Rakyat Indonesia akhirnya memilih Bank Jasa Arta untuk diakuisisi. Keputusan ini sesungguhnya cukup mengejutkan. Pasalnya, pada 22 Maret lalu, Jasa Arta telah bersepakat untuk melakukan merger bersama Bank Mitra Niaga dan Bank Harfa. Bahkan, pemilik tiga bank tersebut sudah menyiapkan satu nama, Bank Pan Mitra Asia (BPMA), untuk bank hasil gabungan itu.
BPMA, tadinya, diharapkan sudah bisa beroperasi akhir Oktober tahun ini. Tapi, ya itu tadi, pemilik Jasa Arta akhirnya memilih ”selingkuh” dan menerima pinangan BRI. ”Nilai akuisisi Bank Jasa Arta sebesar Rp 61 miliar,” kata Dirut BRI Sofyan Basyir. Sementara manajemen Jasa Arta masih enggan memberi komentar ihwal transaksi tersebut. ”Semua keputusan ada di tangan BRI,” ujar Rini, sekretaris bank itu kepada Mega Julianti S. dari TRUST.
Keputusan BRI meminang bank beraset Rp 298 miliar itu, berarti juga mengakhiri berbagai spekulasi yang berkembang selama ini. Sejak Sofyan Basyir berencana memisahkan Unit Usaha Syariah (UUS) BRI menjadi bank yang berdiri sendiri akhir 2005, sejumlah bank dikabarkan menjadi incaran. Di antaranya Bank Harmoni, Bank Halim, dan Bank Persyarikatan Indonesia (BPI). Bahkan, BPI sempat menjadi kandidat utama lantaran Sofyan—ketika masih memimpin Bank Bukopin—pernah menyelamatkan BPI dari kebangkrutan.

 Artikel Lain
”Akhir Tahun Target NAB Rp 80 Triliun”
Ramai-Ramai Ganti Haluan
Mumpung Aturannya Belum Jelas
Keyakinan Itu Masih Ada
Jasa Arta Memilih ’Selingkuh’
Bank pun Ogah-ogahan
Ketika Bankir Semakin Laris
Pindah Bank, Siapa Takut?
Rame-Rame Melirik Si Hijau
Menangkal Debitor Nakal
Belakangan, skenario tersebut berantakan gara-gara kinerja BPI tak kunjung membaik. Kendati sudah mendapatkan suntikan modal dari Konsorsium Bukopin sebesar Rp 169 miliar, kondisinya justru semakin memburuk. Sampai akhir 2006 kredit bermasalahnya (NPL) masih bertengger di level 53%.
Nah, setelah BRI meninggalkan BPI, Bukopin agaknya bakal menjadi juru selamat berikutnya. Apalagi Siti Ch. Fadjrijah, Deputi Gubernur BI, mengungkapkan, manajemen Bukopin sudah mengutarakan niatnya melakukan spin off unit usaha syariahnya. ”Tapi belum ada permohonan izin tertulis kepada BI,” ujarnya di sela-sela peringatan HUT BI, Senin (2/7).
Menurut Sofyan, setelah proses akuisisi Jasa Arta rampung, perseroan akan melakukan spin off UUS BRI. Sehingga, tahun depan, Bank Umum Syariah BRI sudah mulai beroperasi. Kehadirannya diharapkan dapat mendorong pertumbuhan aset perbankan syariah menjadi lebih besar. Harisman, staf ahli Deputi Gubernur Bank Indonesia, mengatakan, hanya dengan pertumbuhan anorganik, perbankan syariah bisa memenuhi targetnya untuk memiliki aset sebesar 5% dari total aset bank konvensional tahun 2008.
Makanya, kini Bank Indonesia getol mendorong masuknya pemain-pemain baru di industri syariah. Harisman mengungkapkan, BI juga sudah mengeluarkan izin bagi pembukaan kantor cabang Al Baraqah Islamic Bank. ”Ada kemungkinan tahun depan mereka (Al Baraqah) memiliki bank umum syariah sendiri,” katanya.
Bank asing lain yang akan beroperasi di Indonesia adalah Qatar Islamic Bank (QIB). Namun berbeda dengan sejawatnya asal Bahrain tadi, QIB bermaksud mengakuisisi bank dan selanjutnya dikonversi menjadi bank syariah. Cuma, hingga kini perwakilan bank tersebut belum mengajukan izin ke bank sentral. Sembari menunggu masuknya pemain-pemain baru, Harisman berharap, perbankan syariah lebih berani lagi dalam menjalankan aktivitasnya. Terutama UUS yang jumlahnya kini mencapai 23 unit.
Bank Indonesia, kata dia, sesungguhnya telah mengimbau bank konvensional untuk menyisihkan 5% asetnya ke UUS. Sayang, ajakan itu kurang mendapat sambutan. Buktinya, sampai Mei kemarin nyaris tidak ada perubahan berarti pada industri syariah kita. Total asetnya hanya Rp 29 triliun atau kurang dari 2% dari total aset perbankan nasional yang sudah mendekati Rp 1.800 triliun. Pertumbuhan pembiayaannya pun sangat kecil. Sepanjang lima bulan pertama 2007, nilai pembiayaannya sekitar Rp 21,9 triliun atau hanya naik 5,2%.
Begitu pula aliran dana yang masuk ke syariah, terbilang lamban. Sampai April, total dana masyarakat hanya tumbuh 6% menjadi Rp 22 triliun. Entah, apa yang membuat bank syariah tampil begitu kedodoran. Padahal semua ikhtiar sudah dilakukan. Termasuk kebijakan MUI yang mengharamkan bunga bank tahun 2005 silam. 


Berikan Komentar untuk artikel ini
Lihat Komentar untuk artikel ini

Edisi 09 - 10 Tahun VI
31 Desember - 6 Januari 2007
www.mnc.co.id