Rabu, 8 September 2010 | Berlangganan Majalah TRUST 
Sub Rubrik:

Keyakinan Itu Masih Ada

Kun Wahyu Winasis dan Hendra Gunawan
 
RENCANA pelunasan utang dua debitor kakap, Kiani Kertas dan Domba Mas, akhir Juli ini, semestinya cukup menyenangkan manajemen Mandiri. Tapi menurut sejumlah pejabat di divisi korporasi, pelunasan itu justru merugikan perseroan. Betul, jika Kiani dan Domba Mas melunasi semua kewajibannya, ancaman terhadap kenaikan non performing loan (NPL) di Bank Mandiri akan berkurang. Namun, akibatnya potensi pendapatan bunga yang dikantongi bank juga bisa ikut mengempis. Sebab, nilai pinjaman kedua debitor tadi tergolong jumbo.
Outstanding kredit Kiani masih sekitar US$ 154 juta. Sedangkan pinjaman Domba Mas Group masih tersisa Rp 1,25 triliun. Asal tahu saja, di awal tahun ini, Kiani telah membayar cicilan sebesar US$ 47 juta dan Domba Mas Rp 352,5 miliar. Berkat pembayaran itu, utang dua debitor yang sebelumnya berstatus NPL berubah menjadi lancar.
Seorang pejabat di Bank Mandiri menuturkan, potensi pendapatan bunga yang bisa diraih dari kedua debitor tadi amat besar. Dengan asumsi bunga kredit sebesar 12% per tahun, dari Kiani saja—dengan mengacu pinjaman pokok masih sebesar US$ 154 juta—perseroan berpotensi mengantongi bunga yang menggiurkan. Begitu juga dengan Domba Mas. Apabila pinjamannya tidak dilunasi tahun ini, Mandiri berpeluang memperoleh bunga sekitar Rp 120 miliar.

 Artikel Lain
Potensi Besar, Diabaikan Sayang
”Akhir Tahun Target NAB Rp 80 Triliun”
Ramai-Ramai Ganti Haluan
Mumpung Aturannya Belum Jelas
Keyakinan Itu Masih Ada
Jasa Arta Memilih ’Selingkuh’
Bank pun Ogah-ogahan
Ketika Bankir Semakin Laris
Pindah Bank, Siapa Takut?
Rame-Rame Melirik Si Hijau
Hanya saja, manajemen Mandiri agaknya lebih enjoy jika dua kredit tadi secepatnya lunas. Alasannya sederhana. Kedua kredit tadi sudah mengalami restrukturisasi. Sehingga risikonya pun cukup tinggi. Apalagi, ya itu tadi, keduanya pernah masuk dalam kategori 10 debitor bermasalah. ”Image dua debitor itu juga kurang bagus bagi Mandiri,” tutur seorang pejabat di bank itu kepada TRUST.
Selain Kiani dan Domba Mas, Riswinandi mengungkapkan, Grup Bosowa juga berniat mempercepat pelunasan kreditnya. Direktur Special Assets Management Bank Mandiri ini mengatakan, sebelumnya terdapat 11 perusahaan di bawah payung Grup Bosowa yang pembayaran kreditnya tersendat. Tapi, belakangan 9 perusahaan sudah mulai lancar membayar cicilannya.
Sementara tiga perusahaan lain, Semen Bosowa, Bosowa Multifinance, dan Bosowa Berlian Motor penyelesaian kreditnya belum kelar. Riswinandi bilang, jumlah kredit Grup Bosowa sekitar Rp 1,5 triliun–Rp 1,7 triliun. ”Kredit terbesar berasal dari Semen Bosowa,” ujarnya. Dia menambahkan, pemilik kelompok usaha asal Makassar itu telah memberikan komitmen kepada manajemen Mandiri untuk melunasi pinjamannya tahun ini.
Hal itu juga dibenarkan oleh Aksa Mahmud. Presiden Direktur Bosowa Group itu mengatakan, perusahaannya berniat untuk membayar semua kewajibannya secepat mungkin. Tidak hanya pinjaman di Bank Mandiri tetapi juga kepada BNI. ”Insya Allah bulan November atau paling lambat akhir tahun akan kami lunasi,” jelasnya kepada Windarto dari TRUST.

MENGIKUTI KEMAUAN PASAR
Kebijakan sejumlah debitor korporasi untuk melunasi kredit, sesungguhnya terjadi di hampir semua bank. Sigit Pramono, Direktur Utama Bank Negara Indonesia (BNI), mengatakan, perilaku nasabah untuk mendapatkan sumber dana murah melalui pasar modal, telah mendorong terjadinya pelunasan kredit lebih cepat.
Sebagai informasi, hingga bulan Juni lalu, jumlah dana yang berhasil dijaring para emiten melalui pasar modal mencapai Rp 29,87 triliun. Perinciannya, sekitar Rp 18,47 triliun berasal dari 23 emisi obligasi, Rp 6,8 triliun diperoleh melalui IPO 6 perusahaan, dan sebesar Rp 4,8 triliun dari hasil menerbitkan saham baru yang dilakukan oleh 8 perusahaan. Kalau dihitung-hitung, jumlah dana yang berhasil digaet dari pasar modal tadi hampir separuh dari nilai kredit yang disalurkan perbankan selama semester I-2007 sebesar Rp 68 triliun.
Ketua Perbanas itu menambahkan, banyaknya debitor korporasi yang memperoleh pinjaman dari luar negeri juga berpotensi memangkas pendapatan non bunga perbankan. Soalnya, pinjaman asing itu selalu memberikan rate lebih rendah. Sampai paruh pertama 2007, BNI telah menyalurkan kredit senilai Rp 8,7 triliun. Jumlah itu 58% dari target kredit yang akan disalurkan perseroan selama 2007 sebesar Rp 15 triliun.
Sigit mengatakan, sektor korporasi berhasil menyerap kredit paling besar, yaitu sekitar Rp 5,3 triliun. Sisanya Rp 3,4 triliun untuk non korporasi. Meskipun kredit baru tumbuh cukup signifikan, namun total kredit yang disalurkan BNI justru menurun. Penyebabnya, ya itu tadi, banyak debitor yang melunasi pinjamannya sebelum jatuh tempo. ”Kredit gross-nya memang naik tapi net-nya turun,” tukas Sigit.
Apa yang diungkapkan Sigit, memang, benar adanya. Berdasarkan data Bank Indonesia, sampai Juni kemarin, nilai kredit baru yang telah dikucurkan perbankan mencapai sekitar Rp 68 triliun. Namun, total outstanding kreditnya cenderung menurun. Sebagai contoh di sektor perindustrian. Sampai bulan Mei, kredit yang disalurkan perbankan sebesar Rp 183 triliun atau lebih rendah ketimbang akhir 2006 senilai Rp 184 triliun.
Kondisi yang sama juga terjadi di sektor pertanian dan perkebunan. Akhir tahun lalu, pinjaman yang diberikan bank mencapai Rp 45 triliun, tapi Mei kemarin jumlahnya menyusut menjadi Rp 42 triliun. Sedangkan kredit yang disalurkan ke sektor usaha kelistrikan dan gas mengempis dari Rp 7,2 triliun (akhir 2006) menjadi Rp 5,8 triliun.
Sukatmo Padmosukarso, Direktur Bank Internasional Indonesia mengatakan, tren pelunasan kredit lebih dini juga terjadi di perusahaannya. Namun, ia masih yakin hal itu tidak akan mengganggu pendapatan perseroan. ”Kami optimistis target pertumbuhan kredit sebesar 25% akan tercapai,” katanya kepada Mega Julianti S. dari TRUST.
Abdul Rahman, Direktur Korporasi Bank Mandiri, juga tak kalah pede. Amang, begitu ia akrab disapa, mengaku sejumlah korporasi yang menerbitkan obligasi telah melunasi utangnya. Namun, setelah pinjaman lama dilunasi, mereka juga mengajukan kredit baru. Contohnya seperti yang dilakukan oleh Jasa Marga dan PLN. Dua BUMN itu, kata Amang, telah meminta kredit baru untuk membiayai proyek jalan tol dan pembangunan pembangkit listrik.
Amang menyebutkan, sampai Juni kemarin nilai kredit korporasi yang telah disetujui Mandiri mencapai Rp 14 triliun. Hanya saja, belum semua kredit tadi dicairkan oleh debitor. Para pengutang tadi kebanyakan berasal dari sektor usaha perkebunan, seperti karet, nanas, dan kelapa sawit. Selain itu juga dari pertambangan, jasa konstruksi, dan perindustrian.
Bank Mandiri saat ini juga telah bersiap untuk membiayai proyek listrik berkapasitas 2 x 315 MW di Rembang, Jawa Tengah. Dengan asumsi 1 MW membutuhkan pendanaan sekitar US$ 800 ribu-US$ 900 ribu, total dana yang dibutuhkan senilai US$ 252 juta. ”Tapi, kami akan menggandeng bank lain untuk membiayai proyek ini,” ujar Amang. Bank paling tajir ini juga membidik 2 proyek besar. Pembangunan Bandara Kualanamu di Medan yang menelan biaya lebih dari Rp 2 triliun dan proyek rel kereta api menuju Bandara Soekarno-Hatta.
Sofyan Basir, Direktur Utama BRI, mengatakan, membaiknya kondisi pasar modal pada akhirnya harus disikapi dengan bijak oleh para bankir. Agar para debitor tidak gampang berpaling dari bank, kata dia, manajemen harus berani menawarkan rate yang kompetitif dengan pasar. Dengan cara itu pula sampai saat ini, jumlah pelunasan kredit korporasi di BRI amat kecil. ”Begitu tingkat suku bunga turun, kami juga mengikuti kemauan pasar,” katanya kepada Syarif Hidayat dari TRUST. 


Berikan Komentar untuk artikel ini

Edisi 09 - 10 Tahun VI
31 Desember - 6 Januari 2007
www.mnc.co.id