Jumat, 3 September 2010 | Berlangganan Majalah TRUST 
Sub Rubrik:

Ramai-Ramai Ganti Haluan

Syarif Hidayat, Hendra Gunawan, Mega Julianti S., dan Windarto
 
PARA pengelola dana kini makin berani menerjang risiko. Indikasinya, penempatan dana pada portofolio saham belakangan ini terus membesar. Natsir Natanagara, Ketua Dana Pensiun (Dapen) PT Astra International, mengatakan, alokasi investasi pada instrumen saham di lembaganya mencapai 28% (Rp 526,4 miliar) dari total dana kelolaan. ”Kami terus meningkatkan portofolio investasi di saham,” ungkapnya.
Merosotnya suku bunga deposito dan kian mahalnya harga obligasi negara, khususnya fixed rate (FR), menjadi alasan Dapen Astra mengalihkan investasinya. Natsir mengungkapkan, hingga semester I-2007, Dapen Astra mengelola dana lebih dari Rp 1,8 triliun. Dan sejak awal tahun ini, deposito sudah tidak lagi menjadi keranjang investasi yang dominan. Astra hanya menempatkan 4,5% dananya di instrumen tersebut.
Selain saham, alokasi terbesar adalah obligasi korporasi. Dari total obligasi yang dimiliki senilai Rp 1,13 triliun, nilai obligasi swasta mencapai Rp 836 miliar (44,3%). Sisanya merupakan obligasi negara berbunga tetap dengan durasi panjang. ”Kami juga berinvestasi di reksadana saham. Tapi nilainya kecil,” tutur Natsir.

 Artikel Lain
Kisah Duit Rp 411 Miliar
Yang Terpuruk Bisnis Kartu Sakti
Potensi Besar, Diabaikan Sayang
”Akhir Tahun Target NAB Rp 80 Triliun”
Ramai-Ramai Ganti Haluan
Mumpung Aturannya Belum Jelas
Keyakinan Itu Masih Ada
Jasa Arta Memilih ’Selingkuh’
Bank pun Ogah-ogahan
Ketika Bankir Semakin Laris
Kendati pasar saham belakangan ini cenderung bergoyang kencang, investasi pada efek dinilai masih tetap menjanjikan. Alasannya, kondisi makro ekonomi cukup baik. Selain itu, secara fundamental, kinerja sejumlah emiten di bursa cukup mantap. PT Telekomunikasi Indonesia contohnya, yang pada semester I berhasil meraih laba bersih senilai Rp 6,6 triliun.
Saham-saham di sektor perbankan juga masih cukup menjanjikan. Malah, kabarnya, Jamsostek dan Taspen berniat menanamkan dananya pada right issue dan secondary offering BNI masing-masing senilai Rp 300 miliar. Dengan harga ”hanya” Rp 2.050 per saham, saham BNI memang berpotensi memberikan gain tinggi dalam jangka panjang. Saham sektor otomotif, seperti Astra International, juga masih berpeluang merangkak naik. Begitu juga dengan saham perkebunan dan pertambangan.
Muhammad Iksan, Direktur Keuangan & Investasi Dana Pensiun PT Garuda Indonesia, mengungkapkan, kendati risikonya cukup tinggi, return investasi di saham cukup besar. Sebagai contoh, Dapen Garuda telah menginvestasikan dananya di saham Astra sejak harganya masih Rp 9.000. Apabila kini harganya sudah menyentuh Rp 19.000, berarti gain yang dikantongi sudah lebih dari 100%. Atas dasar itulah, ia pun mengalokasikan 15% dananya atau senilai Rp 105 miliar di saham. ”Tahun lalu porsinya baru 5%,” ungkap Iksan.
Dapen Garuda juga sudah menyiapkan dana untuk berinvestasi pada saham BNI, serta IPO Wijaya Karya dan Jasa Marga. Namun, selain instrumen saham, obligasi korporasi juga merupakan pilihan investasi yang cukup menarik untuk saat ini. Dengan yield di kisaran 11%-13%, surat utang swasta itu dianggap lebih menarik ketimbang surat utang negara (SUN). Terutama SUN berbasis floating rate yang kini hanya memberikan return 7,83% per tahun. Menurut Iksan, dari total obligasi yang dimiliki senilai Rp 455 miliar (65%), sekitar 60% di antaranya diterbitkan oleh korporasi. Sisanya merupakan obligasi pemerintah.
Ricky Samsico, Ketua Bidang Investasi Asosiasi Dana Pensiun Lembaga Keuangan, menjelaskan, di saat tren suku bunga simpanan menurun, wajar jika akhirnya pengelola dana berpaling dari deposito. Sebab, dengan return hanya 6%-7% per tahun, akan sangat sulit untuk meraih hasil investasi yang optimal. Padahal, dalam waktu bersamaan, ada instrumen lain yang menjanjikan return tinggi. ”Makanya duit DPLK ikut berpindah ke pasar saham,” jelasnya.
Menurut Ricky, sampai akhir tahun lalu, sesungguhnya deposito masih menjadi instrumen paling dominan. Bahkan, beberapa DPLK menempatkan 90% dananya di instrumen ini. Namun, seiring perubahan suku bunga, banyak perusahaan mengurangi porsi depositonya. Hingga akhir Juni lalu, dari total dana kelolaan senilai Rp 8,5 triliun, portofolio pada deposito tinggal sekitar 70%. Adapun investasi saham meningkat cukup tajam. Jika di akhir 2006 nilainya baru sekitar Rp 225 miliar atau 3% dari dana kelolaan sebesar Rp 7,5 triliun, hingga semester I-2007 telah mencapai Rp 680 miliar.
Berbeda dengan pengelola dana yang lain, kata Ricky, sebagian besar investasi reksadana dilakukan melalui reksadana saham. Selain dianggap lebih aman, return yang dihasilkan juga cukup tinggi. Sebagai gambaran, kata dia, reksadana saham yang dikelola Fortis Investment Management memberikan gain hingga 60% setahun. Demikian juga dengan investasi pada reksadana saham milik Schroders Investment Management Indonesia. ”Investasi di saham memang memberikan return gila-gilaan,” ujarnya.

JAMSOSTEK JUGA AGRESIF MAIN SAHAM
Hasil investasi pada reksadana saham, dalam dua tahun terakhir, memang cukup tinggi. Faktor inilah yang kemudian memicu investor melirik produk ini. Terbukti, jika di awal tahun dana kelolaan di reksadana jenis ini baru sekitar Rp 5 triliun, pekan lalu sudah mencapai Rp 19 triliun. Itu berarti, hampir 26% dana beredar di industri reksadana berada pada instrumen saham.
Itu sebabnya, tidak mengherankan jika Jamsostek pun begitu bernafsu menjaring fulus dari saham. Indrasjwari Kartakusumah, Direktur Investasi Jamsostek, mengatakan, sampai semester I-2007, nilai investasi di saham mencapai Rp 6,8 triliun atau 12,94% dari dana kelolaan senilai Rp 53,2 triliun. Jumlah tersebut hampir pasti bakal membengkak. Sebab, selain berniat menanam duitnya di saham BNI senilai Rp 300 miliar, pengelola dana pekerja ini juga bernafsu memburu saham Jasa Marga yang sebentar lagi bakal melantai di bursa.
Saking ngebetnya, Jamsostek berambisi untuk menyerap 20% saham perusahaan jalan tol itu. Tapi sayang, rencana itu kemungkinan tidak akan terlaksana. Pasalnya, berdasarkan Peraturan Pemerintah (PP) No. 22/2004 (tentang Aturan Investasi Jamsostek), pembelian saham dibatasi maksimal 5% dari jumlah saham emiten yang dijual atau 50% dari nilai investasi.
Indrasjwari menuturkan, di saat suku bunga terus menurun, perusahaannya berusaha mencari instrumen yang bisa memberikan gain maksimal. Selain saham, obligasi dianggap sebagai pilihan terbaik. ”Kami akan terus memperbesar penempatan di obligasi,” ujarnya. Saat ini, nilai obligasi yang dipegang Jamsostek mencapai Rp 23,07 triliun. Perinciannya, 70% obligasi negara, 22% surat utang BUMN, dan sisanya korporasi.
Dengan target investasi senilai Rp 5,3 triliun (naik 15,45% ketimbang 2006), Jamsostek memang harus pintar mengelola duit. Maklum, tak semua lembaga keuangan kini mau menerima permintaan Jamsostek. Contohnya Bank Mandiri. Menurut sumber TRUST di bank tersebut, untuk penempatan dananya, Jamsostek meminta bunga di atas pasar. Namun, lantaran permintaan itu dianggap tak menguntungkan, Bank Mandiri pun akhirnya merelakan duit Jamsostek senilai Rp 3,5 triliun ditarik.
Kabarnya, triliunan duit tersebut kini telah berpindah ke Bank BNI. Soalnya, BNI berani membayar bunga lebih tinggi ketimbang Mandiri. ”Kami hanya ingin mencapai target investasi yang sudah diputuskan,” kata Indrasjwari. 


Berikan Komentar untuk artikel ini

Edisi 09 - 10 Tahun VI
31 Desember - 6 Januari 2007
www.mnc.co.id