|
|
 |
|
”Akhir Tahun Target NAB Rp 80 Triliun”
Abiprayadi Riyanto, Ketua Asosiasi Pengelola Reksa Dana Indonesia (APRDI):
|
|
| |
SETELAH sempat digebuk oleh aksi redemption besar-besaran dua tahun lalu, instrumen investasi reksadana kini mulai pulih kembali. Jika pada akhir 2005 jumlah dana kelolaan reksadana hanya Rp 29,4 triliun alias anjlok 72% dari Rp 104,04 triliun (2004), maka pada akhir tahun lalu, total nilai aktiva bersih (NAB) yang dijaring manajer investasi kembali membesar hingga mencapai Rp 51,62 triliun. Bahkan, sepanjang enam bulan pertama kemarin, dana masyarakat yang masuk ke instrumen ini tambah membengkak mencapai Rp 67,95 triliun.
Kendati masih jauh dari prestasi yang sempat ditorehkan tiga tahun silam, sejumlah fund manager optimistis, industri ini akan kembali menjadi pilihan para pembiak duit. Namun, industri reksadana saat ini juga tengah menghadapi sejumlah masalah. Salah satunya tentang penilaian wajar atas harga pasar alias marked to market. Sejumlah manajer investasi ditengarai tak jujur dalam membanderol produk reksadananya.
Selain itu, tingginya pajak yang dikenakan terhadap instrumen ini juga dinilai telah membuat pertumbuhan industri reksadana di Indonesia lebih lambat ketimbang di negara tetangga, Malaysia. Di negeri jiran itu, hampir 50% penduduknya sudah melek reksadana. Sementara, di sini, jumlahnya tak lebih 1% dari total penduduk Indonesia. Lantas, apa saja program yang akan dilakukan Abiprayadi selaku Ketua APRDI yang baru? Berikut penjelasannya kepada Syarif Hidayat dari TRUST.
APA PROGRAM KERJA DAN TARGET ANDA DALAM JANGKA PENDEK?
Kalau kita lihat sekarang, beberapa perusahaan properti meluncurkan reksadana di Singapura. Ini sangat disayangkan. Sebab, kenapa mereka sampai harus ke luar negeri. Tapi kita juga mesti melihat alasannya. Mereka bertindak seperti itu karena tidak bisa melakukannya di Indonesia. Mungkin masih ada sejumlah hambatan, misalnya belum ada peraturannya. Atau, mungkin, aturan perpajakannya yang tidak kondusif buat mereka. Hal-hal seperti inilah yang akan kami benahi.
Selain itu, kami juga ingin meningkatkan kemampuan teman-teman anggota, hingga ke level yang lebih tinggi lagi. Misalnya saja dalam urusan mengelola dana investor, cara berinvestasi, dan lain-lain. Kami juga akan mengupayakan kepada anggota APRDI untuk menerbitkan variasi produk reksadana yang lebih banyak lagi. Saya ingin, setiap data perkembangan industri harus dapat diakses melalui internet (website APRDI). Itu merupakan pekerjaan rumah untuk bisa memberikan informasi yang bagus dalam hal database dan riset.
NGOMONG-NGOMONG, BAGAIMANA PERKEMBANGAN INDUSTRI REKSADANA PASCA-REDEMPTION BESAR-BESARAN DUA TAHUN SILAM?
Begini. Sebelum krisis, dana nasabah sangat terkonsentrasi di reksadana fixed income. Porsinya bisa dibilang mencapai 70%-80% di fixed income. Komposisi seperti itu sangat tidak sehat. Tapi, sekarang kondisinya sangat berbeda. Saat ini pertumbuhannya memang lebih pelan tapi sehat. Itu lantaran variasi produknya hampir imbang, tidak ada yang dominan, antara reksadana saham, campuran, fixed income, pasar uang, dan reksadana proteksi. Itu yang jadi concern kami.
BAGAIMANA DENGAN REKSADANA SYARIAH?
Reksadana syariah juga akan kami kembangkan. Meskipun industrinya masih kecil (nilainya masih di bawah Rp 1 triliun), tapi minat masyarakat sangat besar. Kalau kita lihat obligasi sukuk misalnya, sudah hampir tiga bulan ini ditunggu-tunggu industri. Bukan hanya oleh investor Indonesia, tapi juga investor asing, seperti dari Malaysia dan Timur Tengah. Itu juga salah satu faktor pendorong untuk menumbuhkan industri reksadana syariah. Infonya sih, (sukuk) baru sekitar September besok akan keluar.
APAKAH SEKARANG INVESTOR RITEL SUDAH BENAR-BENAR KEMBALI?
Tetap saja kita bilang bahwa dominasi investor di reksadana adalah investor retail. Persentasenya bisa mencapai 80%. Ambil contoh produk unitlinked yang dipasarkan asuransi. Kendati asuransinya yang masuk ke kami, toh produk itu juga dijual lagi ke nasabahnya. Jatuhnya, retail juga. Kalau dana korporasi seperti dana pensiun misalnya, paling-paling hanya sekitar 20% saja yang masuk reksadana. Karena, duit mereka juga diputar di obligasi dan saham. Jadi dominasi di reksadana itu tetap investor retail.
BAGAIMANA TANGGAPAN ANDA ATAS UPAYA SERTIFIKASI AGEN PENJUAL REKSADANA OLEH BAPEPAM-LK?
Sekarang kami telah mendapat mandat dari Bapepam untuk jadi penyelenggara ujian reksadana. Pada kepengurusan yang lalu sempat dilaksanakan dua ujian. Rencananya, pada akhir September besok akan dilaksanakan ujian lagi. APRDI sebagai asosiasi mendapat mandat untuk jadi penyelenggara ujian tersebut. Pada ujian pertama diikuti oleh sekitar 360 peserta, dan yang kedua hampir 1.400 peserta. Jadi, kami akan lebih tingkatkan lagi frekuensi ujian ini. Kalau perlu, kami lakukan ujian empat atau lima kali dalam setahun. Sehingga akan semakin banyak agen-agen yang berkualifikasi tinggi.
SELAIN MASALAH AGEN, BAGAIMANA ANDA MENJAGA ETIKA PERUSAHAAN MANAJER INVESTASI DALAM MENGELOLA DANA NASABAHNYA?
Ini memang sudah menjadi program saya. Yang akan kami tekankan adalah tata kelola atau standard operating procedure (SOP) mereka dalam mengelola portofolio reksadana. Bagaimanapun, reksadana itu adalah public fund, jadi harus ada standar-standar yang diikuti. Tentunya nanti kami akan kerja sama dengan Bapepam untuk menciptakan SOP serta membuat aturan baku soal etika terhadap perusahaan manajer investasi. Kalau untuk wakil manajer investasinya, itu sudah ada organisasinya sendiri, yaitu AWMII (Asosiasi Wakil Manajer Investasi Indonesia). Biar mereka yang mengaturnya.
BANYAK PENGELOLA REKSADANA MENGELUHKAN PERATURAN MARKED TO MARKET DAN MENGUSULKAN AGAR ATURAN ITU DIKAJI ULANG?
Betul, tapi tidak bisa cepat-cepat. Soalnya, Bapepam-LK akan mengeluarkan lembaga bond pricing agency (BPA). Kita tunggu saja dulu. Sebab, BPA itu yang akan mengeluarkan data-data yang memang mempresentasikan pasar. Kalau itu sudah keluar, barulah kita bahas bersama.
TANTANGAN REKSADANA KE DEPAN TAMPAKNYA SEMAKIN BESAR SEIRING MUNCULNYA INSTRUMEN INVESTASI BARU SEPERTI ETF (EXCHANGE TRADED FUNDS) DAN REIT (REAL ESTATE INVESTMENT TRUST). BAGAIMANA ORGANISASI ANDA MENGANTISIPASI PERKEMBANGAN INI?
Kita tidak perlu over reactive terhadap instrumen baru tersebut. ETF sebenarnya masih reksadana juga, tapi portofolionya properti. Tentu, nantinya organisasi ini akan berubah atau berevolusi sesuai dengan kebutuhan zaman. Tapi, sekarang, kami akan bergerak seperti ini dulu. Dan kami usahakan semaksimal mungkin untuk bisa menampung semua perkembangan instrumen-instrumen baru itu dalam format yang bagus.
BERAPA TARGET NAB ANDA SAMPAI AKHIR TAHUN INI?
Kami perkirakan nilainya bisa mencapai Rp 80 triliun di akhir tahun.
Berikan Komentar untuk artikel ini
|
|
 |
|
 |
Edisi 09 - 10 Tahun VI 31 Desember - 6 Januari 2007 |
 |
|
 |
|