Minggu, 5 Juli 2009 | Berlangganan Majalah TRUST 
Sub Rubrik:

Potensi Besar, Diabaikan Sayang

Kun Wahyu Winasis, Hendra Gunawan, dan Syarif Hidayat
 
GEJOLAK yang terjadi pada nilai tukar rupiah belakangan ini sangat memusingkan para petinggi Bank Indonesia. Lihat saja, untuk mengerem laju pelemahan rupiah, bank sentral terpaksa merogoh koceknya hingga US$ 600 juta. Akibatnya, pundi-pundi cadangan devisa yang selama ini terus membesar ikut menyusut. Namun, ibarat kata pepatah, di balik musibah pasti ada berkah. Dan itulah yang kini dinikmati para pedagang valuta asing (valas). Di saat rupiah ajrut-ajrutan seperti sekarang, mereka mampu menangguk keuntungan besar.
Seorang bankir swasta mengatakan, fluktuasi rupiah adalah momen yang ditunggu para pedagang valas. Maklum, dengan tingkat volatilitas yang tinggi, potensi untuk mendapatkan keuntungan ikut membesar. Hanya saja, kata si bankir, potensi besar itu tidak bisa dimaksimalkan sepenuhnya oleh bank. ”Transaksi valuta kami dibatasi oleh BI. Jadi, hasil yang bisa kami peroleh tidak maksimal,” katanya.
Thomas Arifin, Direktur Treasury dan Internasional Bank Mandiri, mengungkapkan, sebelum mengalami fluktuasi seperti sekarang, pergerakan rupiah terhadap dolar amat tipis. Tahun lalu fluktuasi itu sempat berada di kisaran 5,8%, tapi pada semester I turun menjadi sekitar 3%. Sehingga margin yang dinikmati bank menjadi berkurang. Faktor inilah yang membuat keuntungan Bank Mandiri dari transaksi valuta di semester I-2007 terpangkas 34% menjadi Rp 166 miliar. ”Pada periode sama tahun lalu margin yang kami terima mencapai Rp 223 miliar,” ungkapnya. Di Divisi Treasury dan Internasional Bank Mandiri, kontribusi transaksi valas terhadap pendapatan fee based income cukup besar. Dari total fee yang diperoleh senilai Rp 445 miliar, transaksi valas menyumbang lebih dari 30%.

 Artikel Lain
Saat Bankir Merasa Resah
Bankir, Laris Lagi
Kisah Duit Rp 411 Miliar
Yang Terpuruk Bisnis Kartu Sakti
Potensi Besar, Diabaikan Sayang
”Akhir Tahun Target NAB Rp 80 Triliun”
Ramai-Ramai Ganti Haluan
Mumpung Aturannya Belum Jelas
Keyakinan Itu Masih Ada
Jasa Arta Memilih ’Selingkuh’
Kendati marginnya turun, menurut Thomas, bisnis valas masih amat menjanjikan. Apalagi, belakangan ini rupiah kembali mengalami fluktuasi. Meningkatnya aktivitas bisnis, terutama ekspor-impor, juga diyakini akan mendorong volume transaksi valuta kian membesar. Kecenderungan seperti itu, kata dia, sudah mulai terlihat di semester I kemarin. Itu sebabnya, untuk memaksimalkan keuntungan, Mandiri aktif menjaring nasabah baru.
Thomas mengatakan, sebelumnya, banyak nasabah yang melakukan transaksi valuta ke bank lain. Itu terjadi lantaran Mandiri sendiri belum mengoptimalkan bisnis di sektor ini. Contohnya, divisi corporate banking yang hanya fokus menjual kredit. Padahal nasabah korporasi juga membutuhkan valas. Kini semua diubah. Ketika berhadapan dengan nasabahnya, divisi korporasi juga menjual fasilitas treasury. ”Kami memberikan pricing yang kompetitif untuk nasabah,” ujar Thomas.
Besarnya peluang untuk meraih keuntungan dari transaksi valuta, memang, menggiurkan. Sebagai contoh Bank Central Asia (BCA). Menurut Jahja Setiaadmadja, Wapresdir BCA, selama paruh pertama 2007, perseroan berhasil mengantongi keuntungan valas Rp 130 miliar atau sekitar 9% dari total fee based income perseroan sebesar Rp 1,4 triliun. ”Fee yang kami peroleh melalui transaksi remittance (jasa pengiriman uang) juga cukup besar,” ungkap Jahja.
Bank Negara Indonesia (BNI) juga tak kalah agresif menjaring fulus dari segmen ini. Selain aktif bertransaksi valas (di semester I-2007 mampu meraih keuntungan sekitar Rp 93 miliar), belakangan bank BUMN ini juga gencar menawarkan produk remittance kepada para nasabahnya di luar negeri.
Fero Poerbonegoro, Direktur Treasury dan Internasional BNI, mengungkapkan, produk remittance tersebut salah satunya diarahkan untuk menyasar para TKI di luar negeri, khususnya Timur Tengah dan Hong Kong. Hasilnya, dalam sebulan BNI bisa mengantongi fee rata-rata sekitar Rp 11 miliar. Jumlah tersebut masih lebih tinggi ketimbang fee yang diperoleh melalui transaksi ekspor-impor yang Rp 10 miliar per bulan.

TRANSAKSI L/C
MASIH MENJANJIKAN
Makanya, BNI akan lebih serius menggarap segmen pasar yang satu ini. Jumlah TKI yang amat besar, kata Fero, merupakan peluang yang tidak boleh diabaikan. Apalagi, di BNI, minat nasabah untuk menggunakan fasilitas letter of credit (L/C) cenderung menurun. Menurut Fero, hingga semester I kemarin, nilai L/C yang diterbitkan BNI baru sekitar Rp 700 miliar. Sementara selama tahun 2006 nilainya mencapai Rp 1,4 triliun. Asal tahu saja, selain transaksi valas, penerbitan L/C oleh bank juga menjanjikan fee yang lumayan besar. Nilainya berkisar antara 0,125%-0,25% dari nilai L/C yang diterbitkan.
Dibandingkan bank lain, nilai transaksi L/C BNI memang tergolong kecil. Sebagai contoh BCA. Menurut Jahja, di semester I kemarin jumlah L/C yang diterbitkan perusahaannya telah mencapai US$ 1 miliar. Sektor usaha yang dominan memanfaatkan fasilitas ini adalah minyak, gas, tekstil, garmen, dan sektor mineral seperti besi baja. Jahja berkeyakinan di semester II transaksi L/C bakal semakin membesar.
Optimisme yang sama diungkapkan Tri Utami R. Nugroho. Menurut Corporate Secretary Bank Ekspor Indonesia ini, volume transaksi L/C meningkat cukup tajam. Sebagai gambaran, kata dia, di paruh pertama tahun ini saja perusahaannya sudah menerbitkan 9 L/C dengan 138 transaksi senilai Rp 2,7 triliun. Padahal, tahun 2006 Bank Ekspor Indonesia (BEI) hanya merilis 10 L/C dengan 203 transaksi sebesar Rp 4,6 triliun.
Tri Utami menuturkan, target pasar BEI selama ini terbatas. Untuk transaksi impor, misalnya, BEI hanya melayani perusahaan yang produknya akan dijual kembali di pasar luar negeri. ”Pasar kami memang terbatas,” katanya kepada Eko Zulham dari TRUST.
Soal melambatnya transaksi L/C di BNI, Fero beralasan, lebih disebabkan karena nasabah lebih suka memakai fasilitas open account dalam transaksinya. Selain dinilai lebih murah, kata dia, transaksi dengan cara ini juga tidak terlalu rumit. Soalnya, transaksi open account lebih didasari oleh kepercayaan antara pedagang dan pembeli.
Mantan Direktur BCA ini menjelaskan, sejak kasus L/C bodong muncul tahun 2003 silam—yang membuat BNI merugi hingga Rp 1,2 triliun—prosedur penerbitan L/C oleh perseroan dilakukan secara lebih ketat. Dalam hal persyaratan misalnya. Nasabah BNI diharuskan menyetorkan jaminan 10%-20%. Sisanya, harus dilunasi ketika barang sudah datang. Sementara, bagi nasabah non-BNI, mereka harus menyerahkan collateral cash dalam bentuk deposit hingga 100% dari nilai L/C yang diterbitkan.
Makanya, selain ke BCA dan BEI, kini banyak nasabah juga melirik Bank Mandiri ketika membutuhkan L/C. Pahala N. Mansyuri, Chief Financial Officer (CFO) Bank Mandiri, mengungkapkan, transaksi L/C via Mandiri meningkat cukup tajam belakangan ini. Aktivitas konstruksi dan pembangunan fisik yang terus berlangsung, kata dia, menjadi salah satu faktor bertambahnya permintaan L/C.
Jadi, tidak mengherankan jika pada semester I lalu, total fee yang diperoleh dari aktivitas L/C dan bank garansi di Mandiri mencapai Rp 123,5 miliar atau naik 112% ketimbang periode sama 2006. 


Berikan Komentar untuk artikel ini
Lihat Komentar untuk artikel ini

Edisi 09 - 10 Tahun VI
31 Desember - 6 Januari 2007
www.mnc.co.id