Jumat, 3 September 2010 | Berlangganan Majalah TRUST 
Sub Rubrik:

Yang Terpuruk Bisnis Kartu Sakti

Kun Wahyu Winasis, Hendra Gunawan, dan Intan Rahmawati
 
KARTU kredit memang merupakan salah satu bisnis yang menggiurkan bagi perbankan. Selain pasarnya masih terbuka lebar, fulus yang bisa dikantongi dari usaha ini juga lumayan besar. Maklum, dibanding produk pinjaman lain, suku bunga kartu kredit boleh dibilang teramat tinggi, berkisar antara 30%-45% per tahun. Makanya, tidak mengherankan jika banyak bank begitu bersemangat menggauli bisnis kartu sakti ini.
Hanya saja, entah kenapa, belakangan ini pertumbuhan kartu kredit cenderung melambat. Jika dibandingkan akhir 2006, sampai Juni lalu, jumlah kartu kredit yang beredar hanya tumbuh 2% menjadi 8,4 juta kartu. Kendati demikian, nilai transaksinya justru meningkat. Sampai akhir Juni, transaksi kartu kredit telah mencapai Rp 31,4 triliun, tumbuh 25,2% ketimbang periode sama di tahun lalu. ”Dalam dua tahun terakhir pertumbuhan kreditnya mencapai 33%,” ujar Edi Siswanto, Direktur Akunting dan Sistem Pembayaran Bank Indonesia.
Ternyata, walaupun menjanjikan untung besar, bisnis kartu sakti ini memiliki risiko tinggi berupa kredit macet. Apalagi, para penerbit sering kali mengabaikan asas kehati-hatian dalam memilih nasabah. Beberapa bank yang menerbitkan kartu kredit sudah mengalami kenyataan pahit itu. Salah satu contohnya Bank HSBC Indonesia.

 Artikel Lain
Lippo-Niaga Tinggal Menghitung Hari
Saat Bankir Merasa Resah
Bankir, Laris Lagi
Kisah Duit Rp 411 Miliar
Yang Terpuruk Bisnis Kartu Sakti
Potensi Besar, Diabaikan Sayang
”Akhir Tahun Target NAB Rp 80 Triliun”
Ramai-Ramai Ganti Haluan
Mumpung Aturannya Belum Jelas
Keyakinan Itu Masih Ada
Dari laporan keuangan semester I-2007 terungkap bahwa non performing loan (NPL) bank asing itu melonjak dari 4% menjadi 10% atau naik 150%. Dari sisi nilai, angkanya tergolong jumbo, sekitar Rp 1,2 triliun. Padahal, di semester I tahun lalu, NPL di bank ini hanya Rp 516 miliar. Menurut Rakesh Bhatia, CEO HSBC Indonesia, kartu kredit memang memberikan kontribusi besar terhadap melonjaknya kredit bermasalah di banknya. Cuma, ia tidak terlalu khawatir kondisi itu akan berpengaruh besar terhadap bisnis perusahaan. Alasannya, ”Kualitas pemegang kartu kredit sekarang ini sudah lebih baik,” papar Rakesh.
Selama ini, HSBC dikenal sebagai salah satu penerbit kartu kredit yang paling agresif. Itu bisa dilihat dari perilaku pemasarnya yang cenderung ”sembrono” dalam menjaring nasabah. ”Bagi kami yang penting bisa dapat nasabah. Soal risiko itu biar diurus bank,” ujar salah satu pemasar kartu yang ditemui TRUST di sebuah pusat perbelanjaan.
Sumber TRUST mengatakan, naiknya NPL kartu kredit di HSBC disebabkan banyak nasabah tak mampu membayar cicilan minimum. Itu gara-gara bank sentral menaikkan pembayaran minimum kartu kredit dari 5% menjadi 10%. ”Perubahan pembayaran minimum itu mengakibatkan nasabah berkantong cekak tak mampu membayar kewajibannya. Ini yang membuat bisnis kartu kredit HSBC oleng,” tutur si sumber.
Dampak susulannya, bank asing ini terpaksa melakukan pencadangan dalam jumlah besar. Nilainya mencapai Rp 1,4 triliun atau naik 127% dibandingkan periode sama tahun 2006 yang hanya sekitar Rp 640 miliar. Rakesh mengatakan, akibat melambungnya kredit bermasalah itu, laba bersih yang dikantongi perusahaannya ikut menyusut. ”Tahun lalu laba bersih kami turun akibat NPL kartu kredit. Tapi kami yakin tahun ini situasinya akan lebih baik,” jelasnya.
Selain itu, Rakesh menambahkan, akibat kenaikan NPL, tahun lalu bisnis konsumen HSBC Indonesia juga nyaris tak mengalami pertumbuhan. Namun, kata dia, kondisinya kini sudah mulai membaik. Selain melakukan perbaikan dalam pemasaran kartu kredit, HSBC juga makin serius menggarap segmen usaha mikro. Melalui bendera Pinjaman HSBC (ini semacam Danamon Simpan Pinjam (DSP) milik Bank Danamon), manajemen berharap kredit yang disalurkan akan semakin membesar.
Manajemen optimistis, melalui strategi baru itu, pendapatan HSBC akan meningkat lebih dari 50% di tahun ini. Apalagi daya serap pembiayaan mikro terbukti cukup baik. Saat ini saja, hampir 60% kredit yang disalurkan HSBC sudah mengalir ke segmen ini. ”Kredit itu kami salurkan untuk self employee people. Itu termasuk dalam pembiayaan mikro,” ujar Rakesh.

CITIBANK LEBIH BERUNTUNG
Pil pahit yang menimpa HSBC sebenarnya juga dialami bank asing lainnya. Di Standard Chartered Bank, misalnya, jumlah NPL-nya melonjak 40% menjadi Rp 614 miliar. Rasio kredit bermasalahnya pun ikut naik dari 5,36% menjadi 6,87% di semester I-2007. Kendati demikian, Irawati Koswara-Simms, Head of Corporate Affairs Standard Chartered Bank, menilai itu sebagai sesuatu yang wajar. Menurut dia, kenaikan NPL merupakan konsekuensi dari meningkatnya penyaluran dana yang dilakukan oleh perusahaan. ”Bagi kami, yang terpenting NPL net masih berada di bawah 5%,” ujarnya kepada Syarif Hidayat dari TRUST.
Irawati, mungkin, benar. Tapi, fakta menunjukkan bahwa Citibank pun mengalami situasi yang hampir sama dengan HSBC. Pemain utama di bisnis kartu kredit ini—memiliki 1,5 juta kartu kredit— juga dibuat kelimpungan oleh NPL kartu nan sakti itu. Bahkan, selama hampir setahun bank asing ini terlihat kesulitan memangkas kredit bermasalahnya. Lihat saja, nilai NPL mereka sampai paruh pertama 2007 naik 4% menjadi Rp 1,054 triliun. Akibatnya, pencadangan yang harus disediakan bank membengkak menjadi Rp 1,5 triliun.
Rico Usthavia Frans, Vice President Country Marketing Head Citibank NA, mengaku bisnis kartu kreditnya kini sudah sehat kembali. Menurut dia, Citibank kini makin selektif dan lebih berhati-hati dalam memberikan persetujuan kredit. Sehingga bank bisa mengetahui perilaku setiap nasabahnya.
Salah satu bank terbesar di dunia ini, memang, tak pantas khawatir dengan membengkaknya NPL. Sebab, dalam setahun terakhir, bisnisnya mengalami pertumbuhan yang amat pesat. Asetnya mengalami kenaikan lebih dari Rp 10 triliun dan kini menclok di angka Rp 43,2 triliun akhir Juni kemarin. Kredit yang disalurkan juga tumbuh 38% menjadi Rp 23 triliun. Makanya, tidak mengherankan jika di paruh pertama 2007 peruntungan bank ini melambung 62% ke Rp 863 miliar.
Rico mengatakan, perusahaannya akan semakin agresif dalam menyalurkan dana. Tak hanya di segmen korporasi dan konsumer, sektor mikro pun kini mendapat perhatian ekstra dari manajemen. Melalui bendera Citi Financial—sejenis dengan Pinjaman HSBC—Citibank kini makin leluasa menjaring nasabah. Soalnya, mereka kini bermitra dengan PT Pos Indonesia. Saat ini, dia menambahkan, produk Citi Financial sudah bisa diakses melalui 10 kantor pos dan 34 kantor cabang milik Citibank. ”Produk ini lebih diarahkan untuk membiayai debitor yang dianggap tidak bankable,” katanya. 


Berikan Komentar untuk artikel ini
Lihat Komentar untuk artikel ini

Edisi 09 - 10 Tahun VI
31 Desember - 6 Januari 2007
www.mnc.co.id