|
|
 |
|
Bankir, Laris Lagi
|
| Kun Wahyu Winasis, Syarif Hidayat, dan Windarto |
| |
SETELAH 10 tahun terpuruk gara-gara krisis ekonomi, profesi bankir kini kembali dilirik orang. Selain kebutuhan bankir baru amat besar—karena banyak investor asing yang mengakuisisi bank kecil mulai membuka cabang baru—profesi ini juga menjanjikan tingkat kesejahteraan yang menawan. Apalagi, jika sang bankir bisa bekerja di bank-bank papan atas, seperti Bank Mandiri, BCA, Lippo, ataupun BNI.
Agus Martowardojo, Dirut Bank Mandiri, mengungkapkan, untuk tahun buku 2006, perusahaannya memberikan rata-rata 19,9x gaji kepada sekitar 21 ribu karyawannya. Itu belum termasuk fasilitas lain semacam asuransi kesehatan, dana pensiun, tunjangan cuti, jamsostek, kredit berbunga murah, hingga opsi saham. Bahkan tahun ini saja, manajemen Bank Mandiri telah menaikkan gaji karyawan sebanyak dua kali. Pada bulan Februari lalu 10% dan Juni kemarin antara 4%-14%. Jika di total, di Tahun Babi Api ini gaji para karyawan Bank Mandiri rata-rata telah mengalami kenaikan 14%-24%. Jauh di atas angka inflasi tahun lalu yang hanya 7%.
Keberanian manajemen mengatrol gaji pegawai tersebut harus dibayar dengan melonjaknya beban perusahaan. Sampai kuartal I-2007 silam, biaya personalia bank publik ini mencapai Rp 1,7 triliun atau meningkat 21,4% dibandingkan periode sama tahun 2006. Komponen biaya personalia tersebut meliputi gaji pokok, kesejahteraan karyawan, pelatihan, bonus, opsi saham dan sebagainya. Manajemen Mandiri juga terlihat menaruh perhatian ekstra terhadap pengembangan para bankirnya. Terbukti, bujet untuk pelatihan naik hingga 71,6% menjadi Rp 45,1 miliar.
Dibandingkan bank BUMN lain, karyawan Mandiri sejatinya lebih beruntung. Sebab, di Bank Negara Indonesia (BNI), selama paruh pertama 2007, biaya gaji dan tunjangan pegawai hanya naik 7% ke Rp 1,4 triliun. Adapun di Bank Rakyat Indonesia (BRI) kenaikannya lebih tipis lagi, cuma 1,8% menjadi Rp 2,5 triliun. Padahal jumlah pegawainya lebih dari 31 ribu orang.
Bagaimana di bank swasta? Parwati Surjaudaja, Wakil Presiden Direktur Bank NISP, mengungkapkan, biaya yang dikeluarkan banknya untuk sumber daya manusia mencapai 30% dari pendapatan. Itu meliputi gaji pokok, bonus, tunjangan, dan pelatihan. Parwati menambahkan, dalam lima tahun terakhir jumlah karyawan di NISP tumbuh rata-rata 16% per tahun. ”Saat ini jumlah karyawan kami mencapai 6.000 orang,” tambahnya.
Manajemen BCA termasuk paling royal menghargai keringat karyawannya. Dengan jumlah pekerja sebanyak 20.457 orang (31 Juni 2007), bank yang dikuasai Grup Djarum ini menghabiskan biaya personalia sebesar Rp 1,5 triliun, naik 12,5% ketimbang periode sama tahun 2006. Dari jumlah sebesar itu, 86% dialokasikan untuk membayar gaji, tunjangan, dan fasilitas karyawan. Sisanya adalah biaya pelatihan. Jadi, jika dihitung secara prorata, maka setiap karyawan BCA selama semester I-2007 mengantongi pendapatan setara dengan Rp 75 juta. Menggiurkan bukan?
Sukatmo Padmosukarso, Wakil Presiden Direktur BII, mengungkapkan, setiap karyawan perusahaannya minimal mendapatkan 14 kali gaji dalam setahun. Nah, karyawan yang memiliki prestasi baik, bisa memperoleh 18 kali gaji. Adapun besarnya gaji terendah di BII sekitar 60% di atas upah minimum regional (UMR). Itu belum termasuk bonus dan tunjangan lainnya. Jika UMR di Jakarta Rp 900 ribu per bulan, maka gaji terendah karyawan BII sekitar Rp 1,5 juta.
Sukatmo juga bilang, manajemen sangat memperhatikan betul kebutuhan para karyawan, termasuk jenjang karirnya. Dengan strategi ini, setiap karyawan memiliki peluang yang sama untuk mengisi pos-pos strategis di perusahaan.
Walaupun dikuasai pemodal asing, karyawan Bank Lippo juga boleh dibilang cukup sejahtera. Tahun ini saja manajemen berani menaikkan gaji, upah, dan kesejahteraan karyawan hingga 51% menjadi Rp 289 miliar. Artinya, di semester I kemarin, dengan asumsi jumlah karyawan Bank Lippo sebanyak 4.937 orang, saban bulan setiap karyawan memperoleh pendapatan setara Rp 9,8 juta.
TANTANGAN MAKIN BERAT
Cuma, yang perlu diingat, pendapatan sebesar itu diperoleh jika perhitungan dipukul rata. Tentu saja, gaji yang diterima jajaran manajemen jauh lebih besar. Laporan keuangan perseroan ke BEJ menyebutkan, biaya untuk direksi dan komisaris pada semester I-2007 mencapai Rp 12,8 miliar (naik 5%). Apabila Lippo Bank memiliki 14 orang direksi dan komisaris, maka setiap orang dari mereka—jika dipukul rata—akan mengantongi pendapatan setara dengan Rp 152 juta per bulan.
Fulus yang dikantongi para direksi BCA tak kalah menggiurkan. Laporan manajemen ke BEJ menyebutkan, total gaji dan fasilitas untuk direksi dan komisaris selama semester I-2007 mencapai Rp 18,7 miliar (turun 6% ketimbang periode sama 2006). Dengan asumsi seluruh direksi dan komisaris (12 orang) mendapatkan jatah yang sama, setiap anggota manajemen dan komisaris di bank kedua terbesar itu bisa mengantongi pendapatan setara dengan Rp 260 juta saban bulannya.
Bagaimana pun, jabatan direksi di Bank Mandiri tetap yang paling menggiurkan. Selain bisa mengabdi untuk kepentingan negara, para pejabatnya juga memperoleh pendapatan yang cukup besar. Tengok saja pengeluaran Mandiri untuk membayar para bosnya. Hingga semester I-2007, untuk 11 orang direksi, perseroan membayar sebesar Rp 17,7 miliar.
Perinciannya, Rp 10,6 miliar berupa gaji pokok dan Rp 6,4 miliar sisanya untuk tunjangan. Dengan kata lain, seorang direksi Mandiri, memperoleh pendapatan tak kurang dari Rp 268 juta setiap bulan. Itu belum seberapa. Soalnya, Agus Martowardojo dkk masih mengantongi opsi saham melalui MSOP II dan MSOP III yang nilainya miliaran rupiah.
Seorang bankir bank BUMN mengatakan, gaji besar yang dinikmati para karyawan di perbankan merupakan sesuatu yang wajar. Alasannya, profesi ini membutuhkan keahlian dan kemampuan di atas rata-rata. Dan jangan dilupakan, kata dia, karena berhubungan dengan uang, godaan yang dihadapi seorang bankir juga amat besar.
Parwati mengatakan, seiring membaiknya kondisi perekonomian, peluang kerja menjadi bankir kian terbuka. Meski demikian, dia mengingatkan, tantangan profesi ini juga bakal bertambah berat. Selain problem di industri perbankan semakin kompleks, persaingan antarbank juga kian ketat.
Sukatmo menambahkan, segmen usaha perbankan yang kian meluas, baik mikro maupun makro, membuat tuntutan terhadap profesi ini makin tinggi. Tapi, dia optimistis, dengan regulasi yang telah dikeluarkan oleh Bank Indonesia, kualitas para bankir akan terus meningkat. ”Persyaratan dan sertifikasi yang dikeluarkan BI juga memberi dampak positif terhadap kualitas bankir kita. Saya percaya profesi ini bakal semakin prospektif di masa depan,” ujarnya.
Berikan Komentar untuk artikel ini
|
|
 |
|
 |
Edisi 09 - 10 Tahun VI 31 Desember - 6 Januari 2007 |
 |
|
 |
|