Sabtu, 20 Maret 2010 | Berlangganan Majalah TRUST 
Sub Rubrik:

Lippo-Niaga Tinggal Menghitung Hari

Kun Wahyu Winasis dan Syarif Hidayat
 
IBARAT sebuah perkawinan, merger antara Bank Niaga dengan Bank Lippo hanya tinggal menentukan hari H. Kabarnya, dalam waktu dekat ini, Khazanah Berhad, pemilik dua bank itu, akan segera mengumumkan rencana tersebut. Langkah ini sejalan dengan ketentuan single presence policy yang dirilis Bank Indonesia (BI).
Sesuai beleid itu, pemegang saham pengendali di lebih dari satu bank harus menyerahkan rencana bisnisnya paling lambat akhir tahun ini. Pilihannya ada tiga; merger, menjual saham, atau membentuk holding. ”Khazanah sudah menyerahkan rencana bisnisnya,” ungkap seorang pejabat BI. Sayang, si pejabat masih enggan mengungkapkan detail business plan tersebut.
Sebuah sumber mengungkapkan, dari ketiga opsi tersebut, merger kelihatannya bakal menjadi pilihan. Sebab, kata dia, sungguh tidak mungkin Khazanah melepas salah satu dari dua bank yang dimilikinya itu. Maklum, keduanya memiliki performa yang amat menjanjikan. Selain itu, dengan merger, bank milik Khazanah juga bakal semakin kompetitif bersaing di pasar Indonesia yang kini semakin ketat. Bagaimana dengan holding? ”Ah kalau yang ini terlalu rumit. Belum lagi soal perpajakan yang bakal bikin pusing,” katanya.

 Artikel Lain
Setelah Bank BUMN Kalah Tender
Setelah Musim Panen Berlalu
”Sertifikat Itu Bisa Men jadi Bargaining Power Para Bankir”
Halal tapi Sulit Berkembang
Lippo-Niaga Tinggal Menghitung Hari
Saat Bankir Merasa Resah
Bankir, Laris Lagi
Kisah Duit Rp 411 Miliar
Yang Terpuruk Bisnis Kartu Sakti
Potensi Besar, Diabaikan Sayang
Isyarat penggabungan kedua bank tersebut, sebenarnya, sudah lama mencuat ke permukaan. Manajemen Bank Lippo misalnya, setelah sukses menerbitkan obligasi subordinasi senilai US$ 200 juta, akhir tahun lalu sudah memublikasikan niatnya untuk mengakuisisi sebuah bank. Gottfried Tampubolon, Direktur Treasury Bank Lippo, mengungkapkan bahwa manajemen sudah mengkaji rencana (akuisisi) ini sejak lama. ”Pokoknya target Lippo Bank adalah bank besar yang modalnya jauh di atas Rp 80 miliar. Kalau bisa bank yang peringkatnya 20 besar,” ungkapnya kepada Windarto dari TRUST.
Nah, jika menyimak target tersebut, rasanya bidikan itu tidak akan jauh-jauh dari Niaga. Kenapa? Selain pemegang saham mayoritasnya masih berhubungan erat (CIMB Group Sdn Bhd pemegang 63,13% saham Niaga masih satu atap dengan Khazanah), bank ini memiliki kualifikasi yang dipersyaratkan Lippo. Pertama, Niaga merupakan salah satu bank besar dan kini peringkatnya berada di 20 besar—pada Juni 2007 asetnya sudah berada di posisi nomor ketujuh. Kedua, permodalan bank publik ini juga amat besar, sampai paruh pertama 2007 mencapai Rp 5 triliun.
Ketiga, saat ini nyaris tak ada lagi bank yang memiliki kualifikasi seperti yang diinginkan Lippo. Betul, masih ada Bank Panin yang termasuk salah satu bank besar. Masalahnya, apa mungkin bank publik yang juga dimiliki oleh investor asing ini hendak dijual? Apalagi, Mochtar Riady kini tak lagi berkuasa di Lippo. Padahal, Mochtar-lah orang yang punya hubungan dekat dengan Mumin Ali Gunawan, pemilik Bank Panin.
Berbeda dengan Lippo yang lebih terbuka, manajemen Bank Niaga terlihat enggan buka suara. Hashemi Albakri, Presiden Direktur Bank Niaga, hanya bilang bahwa saat ini belum ada berita dari pemegang saham ihwal rencana merger dimaksud. Tapi, sumber TRUST di bursa mengungkapkan, manajemen perseroan telah mengabarkan rencana penggabungan itu kepada para investornya. ”Tunggu saja. Tak lama lagi mereka (Niaga) akan buka suara juga,” ungkapnya.

SINERGI POSITIF
Penggabungan Bank Lippo dengan Bank Niaga dinilai bakal membawa dampak positif terhadap kedua bank tersebut. ”Keduanya bisa saling mengisi,” ujar Rolland Haas, analis dari HB Capital. Menurut mantan Presiden Direktur Lippo Investment ini, bank baru hasil merger akan lebih solid.
Dari sisi funding, contohnya. Selama ini, Lippo dikenal memiliki struktur pendanaan yang amat baik. Hampir 69% dana pihak ketiga yang dikelola perseroan merupakan dana murah. Sebaliknya, di Niaga sekitar 64,3% dananya merupakan deposito yang berbiaya mahal. Apabila merger dilakukan, dengan asumsi kinerja semester I-2007, bank baru hasil merger itu nantinya akan memiliki dana murah hingga 51%.
Meningkatnya porsi dana murah itu, tentu, akan memudahkan perseroan dalam menyalurkan kredit. Rolland mengatakan, bank hasil merger akan lebih leluasa mengembangkan kredit kepemilikan rumah (KPR). Asal tahu saja, selama ini, dua bank itu memiliki porsi amat besar dalam pembiayaan perumahan. Hingga paruh pertama tahun ini, sekitar 30% dari total kredit senilai Rp 14,4 triliun mengalir ke sektor properti. Demikian juga Niaga. Dalam kurun waktu yang sama, kredit yang disalurkan untuk KPR mencapai Rp 7,9 triliun atau 23% dari total kredit senilai Rp 31,4 triliun.
Jika merger terlaksana, struktur permodalan bank pun akan semakin kokoh. Dengan asumsi Niaga memiliki ekuitas sebesar Rp 5 triliun dan Lippo senilai Rp 3,6 triliun, maka bank baru akan memiliki modal Rp 8,7 triliun. Dengan modal sebesar itu, perseroan bakal memiliki ruang lebih luas untuk memberikan kredit tanpa harus khawatir terbentur BMPK (batas maksimum pemberian kredit). Di samping itu, bank hasil merger juga akan lebih cepat memenuhi syarat Arsitektur Perbankan Indonesia (API) untuk menjadi bank berskala nasional yang mensyaratkan modal minimal sebesar Rp 10 triliun.
Merger itu juga akan melahirkan sinergi positif. Lippo yang dikenal cukup kuat sebagai payment bank, diyakini akan bisa menopang bisnis Niaga yang lebih banyak tergantung pada kredit. Asal tahu saja, saat ini penetrasi kredit Lippo masih amat rendah. Itu terbukti dari loan to deposit ratio (LDR) yang hanya sekitar 50,7%. Sedangkan di Niaga sekitar 95% dana masyarakat mengalir dalam bentuk kredit.
Lantas siapa yang bakal menjadi bank induk? Ini yang masih samar. Walaupun Lippo terlihat lebih agresif dalam proses merger itu, kabarnya peluang Niaga untuk tetap bertahan justru lebih besar. Nama Lippo juga dianggap tidak terlalu baik di ranah bisnis Indonesia. Ada beberapa masalah yang membuat Lippo menjadi gunjingan orang. Salah satunya adalah menyusutnya nilai aktiva yang diambil alih (AYDA), ketika bank ini masih dalam penguasaan Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN).
Sungguhpun demikian, keputusan final belum diambil oleh pemegang saham. Bisa saja nama Lippo dan Niaga tetap dipertahankan. Yang pasti, jika merger itu terlaksana, ”bank baru” tersebut akan memiliki daya saing yang kuat. Asetnya akan mendekati Bank Danamon (Rp 81,1 triliun). Adapun dana masyarakat yang dihimpun mencapai Rp 65,1 triliun dengan total kredit sebesar Rp 48,6 triliun. Tingkat LDR bank baru juga cukup ideal, sekitar 74,6%.
Bagaimana dengan nasib karyawan? Penutupan sejumlah cabang—lantaran letaknya saling berdekatan—amat mungkin dilakukan. Jika itu yang terjadi maka secara otomatis akan ada karyawan yang tersingkir. Hanya saja para karyawan tak pantas khawatir. Soalnya, manajemen pasti akan terus melakukan ekspansi usaha. Termasuk membuka cabang-cabang baru guna menjangkau lebih banyak konsumen.
Jangan lupa, Lippo baru saja memiliki perusahaan pembiayaan, Kita Finance. Untuk bisa berkembang lebih cepat, perusahaan beraset Rp 250 miliar itu tentu masih akan memperluas jaringannya. Artinya, kebutuhan terhadap tenaga kerja baru masih terbuka lebar. Jadi? walaupun merger, nasib para karyawan sepertinya masih aman. Semoga! 


Berikan Komentar untuk artikel ini

Edisi 09 - 10 Tahun VI
31 Desember - 6 Januari 2007
www.mnc.co.id