|
|
 |
|
Beda Citibank dengan Deutsche Bank
|
| Kun Wahyu Winasis |
| |
MANAJEMEN Deutsche Bank Indonesia, kali ini, agaknya harus menelan pil pahit. Harapannya untuk meraih untung lebih besar di tahun babi api ini, boleh dibilang gagal total. Kinerja bank asal Belanda itu diyakini akan jauh lebih jelek ketimbang tahun lalu yang mampu meraup laba bersih Rp 937 miliar. Sungguhpun begitu, hasil yang dicapai Deutsche Bank akan tetap lebih baik ketimbang 2005. Kala itu bank asing ini tekor hingga Rp 153 miliar.
Indikasi merosotnya performa Deutsche Bank sudah terlihat di kuartal III-2007. Kendati kredit yang berhasil disalurkan meningkat 20% menjadi Rp 5,5 triliun, namun bisnis utama bank ini—transaksi surat berharga dan valuta asing—justru melesu. Tahun ini, mereka hanya memperoleh pendapatan dari kenaikan surat berharga sebesar Rp 492 miliar. Padahal, pada periode yang sama tahun lalu, dari pos ini saja mereka berhasil mengantongi fulus senilai Rp 1 triliun.
Situasi yang sama juga terjadi pada transaksi valas. Jika di tahun anjing api lalu Deutsche Bank mampu meraih fee lewat transaksi valas senilai Rp 190 miliar, tahun ini angkanya cuma Rp 4 miliar. Walaupun pendapatan dari provisi, komisi, dan fee naik 35% ke Rp 161,9 miliar, pendapatan operasional yang dikantongi perusahaan tetap anjlok 49,5% menjadi tinggal Rp 667 miliar. Imbasnya, laba bersih Deutsche Bank tergerus amat besar, sekitar 58,3% menjadi Rp 376 miliar.
Seorang bankir mengatakan, merosotnya performa Deutsche Bank tersebut tak lepas dari kondisi pasar surat utang negara atau SUN. Tahun ini, kata dia, kenaikan nilai surat berharga relatif terbatas. Jadi, tidak seperti tahun kemarin. Pada saat itu, setelah jatuh akibat kenaikan harga BBM di tahun 2005—yang kemudian mendorong suku bunga Sertifikat Bank Indonesia (SBI) naik, harga SUN melonjak cukup tajam. Sebagai lembaga keuangan yang mengoleksi SUN dalam jumlah besar di tahun 2005, perbankan bisa mendapatkan untung besar ketika melepasnya ke pasar tahun 2006. ”Salah satunya, ya, Deutsche Bank itu. Mereka termasuk pengoleksi SUN terbesar,” ungkap si bankir.
Berdasarkan data BI, pada akhir 2005 bank ini mengoleksi obligasi pemerintah senilai Rp 5,02 triliun. Kala itu, total surat berharga yang dimiliki Deutsche Bank mencapai Rp 19,7 triliun. Adapun tahun lalu, jumlahnya berkurang menjadi Rp 8,2 triliun. Dari jumlah itu, Rp 3,9 triliun berupa SUN. Sampai 31 September 2007, nilai surat berharga yang mereka miliki mencapai Rp 6,8 triliun. Sekitar Rp 4,2 triliun merupakan obligasi pemerintah.
Ketergantungan Deutsche Bank terhadap transaksi surat berharga dan valas, memang, cukup tinggi. Lihat saja, kendati asetnya mencapai Rp 18,2 triliun, yang mengalir dalam bentuk kredit hanya 30%. Rendahnya penetrasi kredit ini pula yang membuat net interest margin (NIM) yang diraih amat tipis, 2,08%. Angka itu jauh lebih rendah ketimbang rata-rata NIM di bank asing sebesar 4,67%. Kerugian tahun 2005 juga disebabkan oleh beban penurunan nilai surat berharga yang mencapai Rp 358 miliar.
CITIBANK LEBIH MENGILAP
Apa yang dialami Deutsche Bank bertolak belakang dengan Citibank N.A. Bank yang induknya, Citigroup, baru saja disuntik modal senilai US$ 7,5 miliar oleh Abu Dhabi Investment Authority itu, meraih untung bersih sebesar Rp 1,28 triliun. Angka tersebut meningkat 49,2% ketimbang September 2006 yang hanya Rp 863 miliar.
Beda nasib kedua bank tersebut sesungguhnya juga mencerminkan pilihan bisnis mereka. Jika Deutsche Bank lebih enjoy bermain pada surat utang dan valas, Citibank justru agresif mengucurkan kreditnya. Khususnya ke sektor konsumer yang mendatangkan keuntungan cukup menawan. Pada 31 September 2007, kredit yang disalurkan oleh bank ini telah mencapai Rp 22,9 triliun atau naik 13,1%.
Berkat gelontoran kredit tersebut, pendapatan bunga bersih Citibank tumbuh 17,8% ke posisi Rp 1,4 triliun. Agresivitas bank ini pada sektor konsumer juga mendorong NIM mereka tetap terjaga di level atas, 8,59%. Selain didukung oleh aktivitas kredit, pendapatan operasional Citibank juga memberikan pengaruh besar terhadap performanya tahun ini. Contohnya pendapatan melalui transaksi valas yang melonjak hingga 280% menjadi Rp 266 miliar. Adapun pendapatan provisi, komisi, dan fee naik 34% ke Rp 771 miliar dan pendapatan lain mencapai Rp 165 miliar. Dari pos ini, total jenderal fulus yang dikantongi Citibank mencapai Rp 1,2 triliun.
Di samping sukses meraih untung besar, Citibank juga berhasil memantapkan posisinya dalam jajaran 10 besar bank beraset terbesar. Laporan Bank Indonesia September lalu memperlihatkan bahwa Citibank berhasil menggeser Panin Bank dari urutan ke-8. Asetnya mencapai Rp 46 triliun atau tumbuh 36,6%. Melejitnya aset bank asing ini, salah satunya, didorong oleh keberhasilan manajemen dalam menjaring dana masyarakat. Selama 9 bulan mereka berhasil meningkatkan DPK sebesar Rp 6,5 triliun. Sebuah angka yang amat besar, mengingat jaringan bank ini hanya terbatas di beberapa daerah besar.
Hanya saja, kendati pamornya semakin moncer, Citibank masih memiliki pekerjaan rumah (PR) yang amat besar. Itu lo tumpukan kredit macet atawa non performing loan (NPL). Dibandingkan tahun lalu, jumlah NPL Citibank N.A. naik 28% menjadi Rp 1,4 triliun. Yang menyesakkan, dari total NPL tersebut, 77% di antaranya masuk dalam kolektibilitas 5 atau macet total. Akibatnya, nilai pencadangan yang harus disisihkan bank membengkak hingga Rp 1,6 triliun.
Kartu kredit dan ekspansi Citibank ke sektor mikro, melalui CitiFinancial, merupakan sumber utama peningkatan NPL tersebut. Maklum, sejak BI menaikkan batas minimum pembayaran kartu kredit menjadi 10%, banyak nasabah kartu kredit yang kesulitan mencicil kewajibannya tepat waktu.
Cuma, Rico Usthavia Frans, Vice President Country Marketing Head Citibank N.A., mengaku bisnis kartu kreditnya kini sudah sehat kembali. Menurut dia, Citibank kini makin selektif dan lebih berhati-hati dalam memberikan persetujuan kredit. Sehingga, bank bisa mengetahui perilaku setiap nasabahnya.
Berikan Komentar untuk artikel ini
Lihat Komentar untuk artikel ini
|
|
 |
|
 |
Edisi 09 - 10 Tahun VI 31 Desember - 6 Januari 2007 |
 |
|
 |
|