Kamis, 18 Maret 2010 | Berlangganan Majalah TRUST 
Sub Rubrik:

Masih Tetap Menarik
Surat Utang Negara

Febry Mahimza, Syarif Hidayat, dan Hendra Gunawan
 
DAMPAK negatif dari krisis subprime mortgage masih dirasakan oleh sektor keuangan di Amerika. Tapi di Indonesia, ekses negatif dari krisis tersebut tampaknya sudah berlalu. Indikasinya, dana asing yang sempat hengkang pada Agustus lalu, kini mulai mengalir kembali ke surat utang negara (SUN) dan obligasi korporasi.
Merujuk catatan Rahmat Waluyanto, hingga akhir November kemarin, total SUN yang dikoleksi investor asing sudah mencapai Rp 77,34 triliun atau 16% lebih dari total obligasi negara sebesar Rp 474,91 triliun. ”SUN masih memberikan keuntungan yang atraktif. Bahkan, yield yang diberikan jauh lebih besar ketimbang surat utang yang diterbitkan negara lain, seperti Malaysia, Thailand, atau Korea,” ujar Dirjen Pengelolaan Utang Negara Depkeu itu.
Makanya, Rahmat yakin investor asing tak akan meninggalkan Indonesia. Tapi, sebenarnya, tak hanya investor asing yang masih betah. Investor lokal juga kian bersemangat mengoleksi SUN. Pemicunya, tak lain lantaran yield yang diberikan instrumen ini semakin aduhai.

 Artikel Lain
Masih Tetap Menarik
Ancaman di Balik Beleid Baru
Supaya Industri Pembiayaan Sehat
Beda Citibank dengan Deutsche Bank
Bisnis yang Kian Menarik
Tersendat di Infrastruktur
Badai Pasti (Akan) Berlalu
Setelah Bank BUMN Kalah Tender
Setelah Musim Panen Berlalu
”Sertifikat Itu Bisa Men jadi Bargaining Power Para Bankir”
Ditambah lagi, selain memiliki risiko gagal bayar yang sangat kecil, kupon SUN saat ini rata-rata sudah mencapai kisaran 11%. Jadi, itulah yang membuat investor ramai-ramai memburu obligasi pelat merah. Lihat saja, berdasarkan pengamatan Guntur Pasaribu, Direktur Fixed Income dan Derivatif Bursa Efek Indonesia (BEI), sejak awal Januari kemarin, hingga kini transaksi rata-rata SUN sudah mencapai Rp 5 triliun per hari. ”Jika dibandingkan tahun lalu, yang rata-rata transaksinya sebesar Rp 2,8 triliun per hari, berarti terjadi peningkatan hampir 40%,” papar Guntur.
Stabilnya nilai tukar rupiah yang disertai terjaganya tingkat inflasi dan penurunan suku bunga BI, membuat Guntur optimistis, tahun depan, prospek obligasi akan semakin menarik. ”Dengan suku bunga terjaga di level 8%, saya yakin pada 2008 nilai transaksi surat utang dan obligasi akan tumbuh 20%,” imbuhnya. Bahkan, jika suku bunga perbankan nasional diturunkan lagi seiring penurunan suku bunga the Fed, maka tren harga obligasi negara juga akan terkerek naik. ”Pergerakan harga SUN akan cenderung volatile. Tapi, saya lihat tren harganya tahun depan akan semakin naik,” tegasnya.
Berbeda dengan Guntur, menurut Agus Salim, Head of Debt Capital PT Trimegah Securities, jika yield yang ditawarkan sudah melesat tinggi, maka tren harga obligasi akan melemah. Apalagi, tahun depan, perekonomian dunia dibayang-bayangi resesi berkepanjangan pascamelambungnya harga minyak dunia dan krisis subprime mortgage. ”Bukan tak mungkin harganya akan turun lebih jauh lagi,” ujarnya. Akhir November kemarin, sejumlah obligasi negara—seperti FR02, FR15, FR27, ORI001, ORI002, maupun ORI003—rata-rata mengalami penurunan harga sebesar 0,35 poin-2 poin.
Terlepas dari semua itu, tingginya minat investor terhadap obligasi negara, telah menambah beban pemerintah untuk membayar kupon bunga dan membeli kembali surat utang tersebut. Obligasi yang jatuh tempo pada tahun ini saja, menurut Rahmat, diperkirakan mencapai sekitar Rp 27 triliun. Sedangkan yang jatuh tempo pada tahun depan, nilainya malah jauh lebih besar, yakni mencapai Rp 37 triliun. Tapi, pemerintah tampak pede dengan utang segede gajah bunting itu.
Tengok saja, untuk menalangi defisit APBN 2008, Rahmat menargetkan penerbitan neto SUN akan mencapai Rp 91,6 triliun atau setara 2,1% terhadap produk domestik bruto (PDB) yang ditargetkan sebesar Rp 4.306,6 triliun. Padahal, dalam APBN Perubahan 2007, target penerbitan SUN neto hanya mencapai Rp 58,6 triliun. ”Meski ada kelebihan dana cukup besar, pemerintah tidak akan membeli kembali SUN yang belum jatuh tempo (buy back) karena kondisi pasar sedang bagus,” katanya. 


Berikan Komentar untuk artikel ini
Lihat Komentar untuk artikel ini

Edisi 09 - 10 Tahun VI
31 Desember - 6 Januari 2007
www.mnc.co.id