|
|
 |
|
Awas, TV Bakal Mahal Lagi
|
| Agus S. Riyanto, Ahmad Pahingguan, dan Teddy Unggik |
| |
DUNIA memang berputar. Setengah abad silam, televisi mulai masuk ke Indonesia. Hingga dekade 80-an, mungkin hanya satu dua orang di setiap desa yang memiliki kotak kaca tersebut. Belakangan, televisi (teve) sudah dianggap biasa. Nyaris semua rumah di negeri ini sekarang memilikinya. Tak ada lagi yang menganggap teve sebagai produk mewah.
Namun, jangan kaget, dalam beberapa tahun ke depan televisi mungkin bakal menjadi barang mewah lagi. Sebab, pemerintah berniat mengubah sistem siaran teve dari sistem analog ke sistem digital. Saat ini, pemerintah tengah mengadakan ”konsultasi publik.” Cara gampangnya, pemerintah tinggal meminta siapa saja untuk mengisi kuesioner yang ada di situs Departemen Komunikasi dan Informasi (www.depkominfo.go.id) dan yang dikirim ke pelbagai kantor media. Konsultasi publik tersebut berlangsung sampai 16 Februari 2007.
Di Indonesia, memang belum jelas benar kapan tepatnya teve analog ini akan berganti ke digital. Yang jelas, biaya untuk mengganti pesawat teve kita di rumah tak bisa dibilang murah. Di pelbagai situs internet diketahui, harga setiap unit teve digital merek ternama, dengan kualitas yang baik, mencapai US$ 4.000 sampai US$ 15 ribu (setara dengan Rp 36 juta sampai Rp 135 jutaan). Itu artinya, harga teve digital lebih mahal puluhan kali lipat dari teve analog yang beredar sekarang di pasaran.
Memang sih, di Plaza Glodok, Jakarta Barat, teve digital bermacam merek sudah dijual agak murah. Ukurannya 14 hingga 29 inci. Harganya bervariasi. Rata-rata sekitar Rp 6 jutaan. ”Teve digital masih terbatas. Kebanyakan yang membeli dari kalangan menengah ke atas,” tutur Acung, pedagang di Plaza Godok.
Peralatan teve digital juga beragam merek, mulai dari merek Eropa seperti Goldstar dan Goldsat, serta merek Sky dari Cina. Ada pula Hansen dari Korea. Harganya relatif kompetitif. Satu alat teve digital komplet dengan antena parabola ukuran sedang sekitar Rp 1,25 juta per buah.
Namun, belum jelas juga, apakah pesawat teve digital di Glodok itu akan nyambung dengan frekuensi digital yang tengah digagas pemerintah? Ya, mudah-mudahan saja, semuanya nyambung. Dan pada saatnya nanti harga teve digital sudah lebih murah. Toh, telepon seluler dulu juga begitu. Di awal kemunculannya, harganya amat mahal. Tapi, tak sampai sepuluh tahun, harganya sudah amat miring.
Pemerintah pun sekarang lebih memfokuskan pemikiran pada pemilihan teknologi yang tepat untuk standar televisi digital melalui pembentukan Tim Nasional Migrasi Sistem Penyiaran Analog ke Digital. Tim ini beranggotakan sejumlah pejabat dari Ditjen Postel, Ditjen Sarana Komunikasi dan Diseminasi Informasi, ITB, LIPI, BPPT, Bappenas, TVRI, RRI, ATVSI, PRSSNI, PT LEN, dan PT Elektrindo Nusantara.
Tim ini lalu mengkaji sistem televisi digital terrestrial yang dikenal di dunia. Ada sistem Advanced Television System Committee (ATSC) dari Amerika, Integrated Services Digital Broadcasting (ISDB) Jepang, Digital Video Broadcasting-Terrestrial (DVB-T) Eropa dan DBM Cina. Hasilnya, tim memilih teknologi DVB-T dari Eropa. Rekomendasi ini disampaikan kepada pemerintah, awal Februari kemarin.
”Berdasarkan studi kami, sistem dari Eropa yang cukup komprehensif,” ucap Gde Widiadnyana Merati, Dirjen Sarana Komunikasi dan Informasi Departemen Komunikasi dan Informasi yang juga Ketua Tim Nasional. Selain itu, ujar Gde Widiadnyana, sistem Eropa lebih murah dan teknologi Eropa juga sekarang banyak dipakai oleh kebanyakan stasiun teve di Indonesia.
Lalu, bagaimana dengan teknologi Jepang? Betul, teknologi Jepang memang dianggap yang terbaru dan terhebat. Teknologi Jepang bisa memadukan teve tetap dan bergerak dalam satu teknologi. Sementara Eropa harus memakai dua teknologi yang berbeda. Jadi, dengan teknologi Eropa, konsumen tetap harus memakai operator seluler untuk menikmati layanan teve bergerak (mobile TV).
Masalahnya, teknologi Jepang ini jarang dipakai di negara lain. Makanya, banderolnya jadi mahal. Selain itu, Jepang menolak untuk melakukan uji coba teknologinya di Indonesia.
Lain halnya dengan sistem Amerika. Para insinyur Amerika juga menolak untuk mengadakan uji coba di Indonesia. Lebih dari itu, Tim Nasional juga menyimpulkan bahwa teknologi Amerika sudah ketinggalan.
JERMAN SAJA MEMBERI SUBSIDI
Sejauh ini, pilihan atas Eropa dinilai tidak keliru. Saut Siahaan, Transmission Manager Rajawali Citra Televisi Indonesia (RCTI), mengatakan, sistem yang ada selama ini juga akan lebih mudah nyambung bila digabung dengan sistem DVB-T. Pola migrasi analog ke digital di Indonesia juga akan sama persis dengan di Eropa.
Selain itu, penggunaan sistem DVB-T akan menghemat sekitar 60% biaya ketimbang memakai sistem yang dikembangkan Cina, Jepang, dan Amerika. Soalnya, jika memakai sistem Cina, Jepang, atau Amerika, maka semua harus dimulai dari nol. Infrastruktur harus ditata kembali. Contohnya, soal pemancar. Sekarang, sistem pemancar tinggal diperbarui dengan sistem DVB-T. Kalau memakai sistem digital yang lain, maka perlu dibuat sistem pemancar yang baru.
Manajemen RCTI optimistis, lima tahun mendatang, mereka sudah bisa melakukan siaran dengan sistem digital. ”Enam bulan lalu RCTI telah melakukan percobaan di pemancar Kebun Jeruk dan Hambalang. Dan hasilnya cukup baik, gambar dan suara jelas sejelas aslinya,” ujar Siahaan.
Keyakinan senada juga diungkapkan Hardijanto Saroso, Corporate Secretary PT Surya Citra Televisi (SCTV). Ia bilang, SCTV juga lebih memilih menggunakan teknologi Eropa. Bila memakai sistem DBM dari Cina, atau sistem yang lain, investasi yang harus dikeluarkan SCTV akan mencapai dua kali lipat. Namun, Hardijanto menambahkan, SCTV belum dapat penjelasan dari pemerintah tentang migrasi teknologi ini.
Eropa, Asia, atau Amerika, tetap saja semua butuh investasi mahal. Beban bagi stasiun teve, khususnya untuk mengganti rangkaian peralatan—mulai dari pemancar sampai ke antena—lumayan berat. Harganya antara US$ 5.000-US$ 35 ribu per pemancar. TVRI yang memiliki 300 pemancar tentu harus mengeluarkan duit sekitar Rp 13,5 miliar hingga Rp 95 miliar.
Itu sebabnya, pemerintah tidak bisa buru-buru mengganti sistem siaran. Perpindahan sistem ini juga perlu dituangkan secara legal dalam bentuk peraturan pemerintah atau peraturan presiden. ”Kami sendiri sudah menyerahkan rancangannya. Kapan akan dibuat aturannya? Itu, sih, terserah menteri.” ujar Gde Widiadnyana.
Lantas, selama menanti perpindahan itu diatur dalam bentuk peraturan, Gde Widiadnyana menyarankan masyarakat agar mengganti pesawat teve analog dengan teve digital. ”Kalau teve Anda rusak, jangan beli teve model lama. Beli yang digital.”
Bener juga, sih. Masalahnya, ya itu tadi, harga teve digital amat mahal. Di negara maju saja, diakui, harga pesawat teve digital ini amat tinggi. Di Jerman, misalnya, siaran teve digital sudah dicoba di Berlin sejak 2003 dan di Munchen sejak 2005. Tapi, percaya gak percaya, Jerman yang kaya raya itu memberikan subsidi bagi masyarakatnya—yang juga kaya raya—ketika membeli teve digital. Nilai subsidi itu mencapai 15% dari harga pesawat teve.
Di Indonesia? Melihat beban anggaran negara, jelas itu tidak mungkin… o
Berikan Komentar untuk artikel ini
Lihat Komentar untuk artikel ini
|
|
 |
|
 |
Edisi 09 - 10 Tahun VI 31 Desember - 6 Januari 2007 |
 |
|
 |
|