|
|
 |
|
Setelah Bulan Madu Usai
|
| Priyanto Sukandar |
| |
MASA bulan madu pengguna 3G telah usai. Babak baru pun dimulai. Setelah lebih dari empat bulan pelanggan dapat me-nikmati dan mencoba layanan seluler 3G (generasi ketiga) secara gratis dari operator seluler GSM, kini mereka harus membayarnya. Mulai saat ini, dua operator seluler—Telkomsel dan Excelcomindo (XL)—telah memungut bayaran untuk setiap layanan yang digunakan pelanggannya.
Tak dinyana, kebijakan untuk memulai menarik bayaran atas layanan itu justru membuat jeri para operator sendiri. Mereka cemas, jumlah pelanggan 3G akan berkurang ketika tarif mulai dikenakan. I Made Harta Wijaya, Vice President VAS and New Services PT Excelcomindo Pratama Tbk., mengatakan bahwa semua operator GSM yang memiliki layanan 3G saat ini ketar-ketir—tak terkecuali Excelcomindo yang baru memiliki 150 ribu pelanggan 3G.
Ketakutan Made Harta itu beralasan. Sebab, sebelumnya, para operator juga mengalami kegagalan ketika memasarkan layanan GPRS (general packet radio services)—yang disebut-sebut sebagai teknologi 2,5G. Jumlah pelanggan GPRS memang jauh di bawah harapan. Syahdan, angkanya di bawah 5% dari seluruh pengguna seluler GSM.
Nah, ini kali, para operator takut kasus GPRS ini akan terulang lagi pada layanan 3G. Made Harta lalu mengatakan, ketika pertama kali Indosat meluncurkan layanan GPRS, trafiknya cukup tinggi. Tapi ketika pelanggan telah dicekik oleh tarif yang terbilang mahal, trafik GPRS pun ikut drop 80%. Angka yang sangat signifikan.
Kecemasan itu juga, mungkin, yang membuat PT Indosat—operator seluler GSM yang juga memiliki layanan 3G—masih menunda pengenaan tarif layanan 3G-nya. ”Kami masih menghitung potensi bisnisnya,” ujar seorang pejabat Indosat.
Kendati begitu, Suanta P. Bukit, GM Business Alliances & Services PT Excelcomindo, terbilang masih pede menghadapi kenyataan. Suanta memang menyadari, pelanggan 3G akan menurun. Tapi, dia bilang, penurunannya tak akan sedrastis anjloknya pemakai GPRS.
Menurut Suanta, penentuan tarif GPRS berbeda dengan 3G. Model pengenaan tarif GPRS dihitung berdasarkan besar volume yang digunakan pelanggan. Sedangkan di 3G, tarif yang dikenakan dihitung berdasarkan content yang dipakai pelanggan. ”Jadi, pelanggan bisa tahu tarif yang harus dibayar,” ujar Suanta.
Optimisme senada juga dilontarkan Suryo Hadiyanto, Manager Corporate Communications Telkomsel. Menurut Suryo, meskipun 3G masih dinikmati oleh segelintir pelanggan, prospek produk ini masih cukup baik. Jika tak ada aral melintang, Suryo yakin, jumlah pelanggan 3G Telkomsel akan mencapai 4 juta orang pada akhir tahun 2007 kelak. Apalagi, sekarang sudah banyak handset murah yang juga memberikan layanan 3G.
Saat ini, jumlah pelanggan 3G Telkomsel mencapai 2 juta nomor. Dari jumlah tersebut, setidaknya ada 70% pelanggan yang terbilang cukup aktif. Suryo menduga tingginya minat pelanggan menggunakan layanan 3G disebabkan konsumen Indonesia mempunyai rasa kekerabatan yang tebal. ”Masyarakat Indonesia yang merantau sangat tertolong oleh video call. Mereka selalu merasa dekat dengan keluarganya,” papar Suryo.
Sementara itu, Muhamad Jumadi, Sekjen Indonesian Telecommunication User Group (IDTUG), menilai tarif yang dikenakan operator 3G saat ini masih terbilang mahal jika dibandingkan dengan negara tetangga. Tarif Mobiler TV live Telkomsel tercatat Rp 1.000 per 30 detik (untuk kartu HALO) dan Rp 1.100 per 30 detik (untuk kartu simPATI dan Kartu As).
Sementara itu, Excelcomindo mematok harga Rp 2 ribu hingga Rp 5 ribu per 30 detik untuk layanan video klip streaming non-musik. ”Saya mengharapkan operator tidak mematok tarif yang terlalu tinggi,” tutur Jumadi.
BERJAYA KARENA JUDI DAN SITUS PORNO
Abdullah Yusuf Pulungan, seorang pengamat telekomunikasi, juga berpendapat bahwa tarif 3G yang diberlakukan Telkomsel lebih mahal dua kali lipat dibandingkan tarif di negara-negara tetangga. Meski demikian, di mata Abdullah, itu sesuatu hal yang wajar. Toh, harga yang mahal tersebut merupakan konsekuensi dari sebuah layanan baru. ”Ini tidak berbeda dengan saat para operator membuka layanan seluler GSM 10 tahun lalu,” katanya.
Kiskenda Suriahardja (Direktur Utama Telkomsel) mengatakan, murah atau mahalnya layanan 3G tergantung pada content dan data yang diberikan operator. Jika kualitasnya cukup baik dan content yang disajikan sangat diminati pelanggan, maka harganya pasti akan mahal. Untuk saat ini, video call dan video streaming masih cukup diminati oleh pelanggan 3G Telkomsel. Sehingga, bisa dipastikan, pelanggan Telkomsel belum akan menikmati harga murah dari kedua content tadi.
Tapi, apa benar kualitas 3G saat ini sudah cukup baik? Menurut Jumadi sih, layanan yang diberikan para operator 3G masih jauh dari harapan. Contohnya untuk video streaming dan video call. Meskipun ada operator yang telah menggunakan teknologi HSDPA (high-speed downlink packet access)—yang disebut-sebut sebagai teknologi 3.5G—toh gambar yang dihasilkannya masih buruk. ”Gambar sering patah,” ujar Jumadi. Makanya, jika operator tidak segera berbenah dalam meningkatkan layanan, Jumadi memastikan nasib 3G akan seperti GPRS yang tidak sukses di pasaran.
Telkomsel sendiri, untuk meningkatkan kualitas layanan 3G-nya, sudah siap dengan belanja investasi tak kurang dari Rp 3 triliun—selama tiga tahun. Untuk tahun 2007 ini, untuk membangun 1.500 Node B (BTS 3G) baru, Telkomsel akan mengeluarkan CAPEX minimum Rp 1,5 triliun. Diharapkan, pada akhir tahun 2007 nanti, jumlah BTS yang dilengkapi 3G akan menjadi 2.500.
Namun, yang juga tetap perlu diingat adalah content dari layanan 3G tadi. Sejatinya, kegagalan pemasaran GPRS juga lantaran content-nya terbatas. Sehingga, orang Indonesia belum memanfaatkan layanan akses data melalui jaringan GPRS secara maksimal. ”Mereka kemudian lebih suka menggunakan voice dan SMS,” papar Suanta.
Pada saat GPRS diluncurkan, memang tidak banyak content provider yang bisa digandeng operator seluler. Pada saat itu, para content provider hanya membuat on line games. Padahal, di Jepang dan Hong Kong, industri GPRS dan 3G berkembang pesat lantaran tersedianya content yang beragam—termasuk layanan judi online dan situs porno.
Di Indonesia tentu saja tak boleh ada judi dan situs porno. Tetapi, industri content provider tetap harus berjalan. Stasiun televisi juga mesti didorong untuk memberikan layanan yang ”ramah 3G.” Artinya, gambar televisi bisa dimungkinkan ditonton di layar pesawat seluler yang kecil dengan nyaman. Suanta juga menyarankan agar content provider diarahkan untuk membuat layanan video klip musik atau siraman rohani.
Kini, XL dan Telkomsel juga giat merangkul para content provider untuk mengembangkan industri 3G di Indonesia. Untuk proyek tersebut, XL bekerja sama dengan 10 perusahaan content provider yang ada. Telkomsel juga tak mau kalah. Mereka merangkul lebih dari 15 content provider untuk membuat 200 content yang dapat diakses melalui WAP 3G.
Bulan madu memang telah usai. Tapi, belum tentu setelah ini semua menjadi tak lagi menarik. o
Berikan Komentar untuk artikel ini
Lihat Komentar untuk artikel ini
|
|
 |
|
 |
Edisi 09 - 10 Tahun VI 31 Desember - 6 Januari 2007 |
 |
|
 |
|