Kamis, 11 Maret 2010 | Berlangganan Majalah TRUST 
Sub Rubrik:

Tut…Tut…Tut…, Pake AC

 
INI seperti mimpi usang yang coba kembali dirajut. Mimpi tentang layanan kereta api yang murah dan nyaman, seperti di Tokyo, Jepang. Kereta itu boleh saja penuh sesak, tapi tetap manusiawi. Gerbongnya bersih, tempat duduknya memadai, dan dilengkapi pengatur suhu udara (AC). Di sana tak ada penumpang yang berjejalan di pintu atau di sambungan gerbong, apalagi duduk di atap kereta.
Jika tak ada aral melintang, mimpi itu akan mulai terwujud pada Mei mendatang. Pekan silam, Soemino Eko Saputro, Dirjen Perkeretaapian, sudah menegaskan niat itu. Jadi, Mei nanti, PT Kereta Api Indonesia (KAI) akan memulai sebuah proyek percontohan kereta rel listrik (KRL) ”full AC” di jalur Tanah Abang-Serpong.
Ya, namanya juga proyek percontohan, jalur yang dipilih pun cenderung lurus dan tidak terlalu panjang. Kereta yang dioperasikan juga hanya satu rangkaian dengan delapan gerbong. Selain itu, jalur Tanah Abang-Serpong dipilih karena jalur ini sudah menerapkan sistem tiket elektronis. Nah, jika proyek percontohan ini sukses, PT KAI akan menularkan sistem itu ke seluruh stasiun yang ada di wilayah Jabotabek.

 Artikel Lain
Vista Dilirik kendati Mahal
Gembos Akibat Pungli
Rating Pemecah Rekor
Mengalah untuk Menang
Tut…Tut…Tut…, Pake AC
Tender Panas Bumi Mulai Panas
Setelah Bulan Madu Usai
Biar Penonton Lebih Melotot
Biar Petani Kapok Menanam Padi
Awas, TV Bakal Mahal Lagi
Jangan salah, kendati ada KRL ekonomi AC, KRL ekonomi non-AC yang sudah ada sejak lebih dari 30 tahun lalu tetap akan dipertahankan. Paling tidak, untuk sementara ini. Toh, kedua jenis layanan itu diyakini punya pasar masing-masing. Soemino menegaskan, setelah lima tahun, baru kita bisa berharap semua KRL sudah ”full AC”. Tentu saja, PT KAI juga tak pernah lupa berjanji untuk meningkatkan kualitas layanan KRL ekonomi non-AC.
Selama ini, kita tahu, layanan KRL Jabotabek kelas ekonomi amatlah buruk. Sudah begitu, ketika penumpang bertambah banyak, armada KRL dari tahun ke tahun malah mengalami penurunan. Sepanjang tahun lalu saja, jumlah penumpang KRL Jabotabek sudah lebih dari 150 juta orang—atau sekitar 400 ribu orang per hari. Pada awal beroperasinya KRL, di tahun 1976, PT KAI sempat memiliki 245 gerbong KRL. Kini hanya 158 gerbong saja yang dapat menggelinding. Sisanya tersimpan di Depo Manggarai dan Bukit Duri, sebagai besi tua.
Pemerintah dan PT KAI memang sudah berusaha mendapatkan gerbong baru. Dengan cara mendapatkan hibah dari Jepang, misalnya. Sayang, kereta hasil hibah itu malah dipakai untuk layanan kereta ekspres Bogor-Jakarta. ”Tak ada satu pun kereta hibah dipergunakan untuk mengganti KRL ekonomi,” ujar Tating Setiawan, Kepala Divisi Angkutan Perkotaan Jabotabek PT KAI.
Padahal, sejak tahun 2000, jumlah kereta Jabotabek ekspres milik PT KAI sudah mencapai 136 gerbong. Tahun ini pemerintah akan mendapatkan hibah 60 gerbong lagi dari pemerintah Jepang. Gerbong-gerbong itu masih dalam perjalanan menuju Jakarta.
Gerbong-gerbong itu kemungkinan akan dipakai untuk kereta ekspres juga. Jadi, KRL ekonomi tetap membutuhkan tambahan gerbong baru saat ini. Lantas, jika pemerintah berkeras meminta KAI meningkatkan layanan KRL menjadi ”full AC,” maka dibutuhkan 100 gerbong tambahan. A. Dahlan, Kepala Seksi Sarana Divisi Angkutan Perkotaan Jabotabek PT KAI, menuturkan, pengadaan kereta itu harus dilakukan dengan cara membeli. Mungkin dari Tokyu Corporation, Operator KRL di Tokyo, Jepang.
Itu artinya, Dahlan merekomendasikan KAI membeli gerbong bekas. Masukan yang masuk akal. Sebab, jika membeli gerbong baru, maka harganya jelas mahal. Setidaknya, diperlukan duit Rp 9 miliar. Padahal, harga kereta bekas pakai Jepang hanya sekitar Rp 800 jutaan.
Lagi pula, gerbong bekas pakai di Jepang tentu kondisinya tak buruk-buruk amat. Gerbong-gerbong itu dibuat pada tahun 1970 hingga 1980-an. Kondisinya masih layak pakai. Jauh lebih baik dari gerbong KRL yang ada di sini. Bodinya terbuat dari stainless steel yang tahan karat. ”Mereka juga merawatnya dengan baik,” ungkap Dahlan.
Biaya perawatan gerbong Jepang itu juga diperkirakan tak kelewat mahal. Paling-paling hanya Rp 100 juta per tahun. Biaya perawatan KRL ekonomi yang ada bisa dua kali lebih besar. Soalnya, KRL-KRL itu sudah amat renta dan acap ditumpangi penumpang dalam jumlah overdosis.

ANTARA SUBSIDI DAN KEBOCORAN
Para pengguna KRL sendiri jelas girang dengan adanya KRL ”full AC” nanti. Agus Irmansyah, Ketua KRL Mania (paguyuban pengguna KRL), menuturkan, KRL ”full AC” adalah salah satu solusi untuk meningkatkan kualitas layanan PT KAI. Namun, Agus berharap, tarif KRL AC kelak masih terjangkau oleh konsumen kelas menengah ke bawah. ”Kami mengharapkan subsidi dari pemerintah,” ujar Agus.
Berdasarkan survei yang di buat oleh komunitas KRL Mania, tarif ideal untuk KRL AC ini adalah Rp 3.000 per sekali jalan. ”Tarif itu terjangkau oleh masyarakat dan tidak memberatkan PT KAI. Kalau ada kekurangan, pemerintah harus memberi subsidi,” ujar Agus.
Sayang, harapan Agus tampaknya akan sia-sia. KAI sepertinya akan mematok tarif lebih mahal. Saat ini, tarif kereta ekspres Depok-Jakarta tercatat Rp 9.000. Lalu, sumber TRUST di PT KAI memberikan informasi bahwa harga tiket Serpong-Tanah Abang akan dipatok Rp 5.000.
Menurut Tating, nilai tarif amat penting untuk menjamin kualitas pelayanan KAI. Selama ini, rendahnya kualitas layanan KRL Jabotabek juga dilatari oleh selisih yang cukup tinggi antara tarif ideal dengan tarif yang berlaku sekarang. Tating mengatakan, tarif ideal untuk KRL ekonomi Bogor-Jakarta adalah Rp 5.200. Tetapi konsumen hanya dikenakan tarif Rp 2.500. ”Subsidi memang ada. Tapi, sebagai operator, kami menginginkan adanya margin laba sebesar 50% dari harga pokok,” ujar Tating.
Namun Soemino menegaskan, dana subsidi atau public services obligation (PSO) setiap tahunnya cukup untuk memberikan margin keuntungan bagi KAI. Besarnya dana PSO itu, tahun lalu, mencapai Rp 450 miliar.
Menurut Soemino, dengan nilai subsidi tadi, KAI seharusnya bisa memberikan pelayanan yang baik. Memang, Soemino mengakui, beberapa waktu yang lalu dana PSO dari pemerintah turunnya seret. Jadi, wajar jika operasional PT KAI terganggu. Sekarang ceritanya lain. Soemino menegaskan, dana PSO untuk PT KAI sekarang sudah lancar.
Soemino justru meminta KAI untuk introspeksi diri. Sebab, persoalan PT KAI—khususnya Divisi Jabotabek—bukan semata-mata karena tidak lancarnya dana PSO. Menurut Soemino, itu lebih disebabkan oleh tingginya kebocoran. Besarnya kebocoran pada Divisi Jabotabek ini mencapai 30% dari pendapatannya. Nah, pada tahun 2006 lalu, divisi Jabotabek mampu membukukan pendapatan lebih dari 200 miliar. Jadi, kebocoran yang ada bisa mencapai Rp 60 miliar.
Agar kebocoran dapat ditekan, Soemino meminta PT KAI untuk melakukan ”sterilisasi” di semua stasiun. ”Hanya penumpang yang memiliki tiket saja yang dapat menaiki kereta api,” jelas Soemino.
Betul itu. Apalagi, kalau KRL AC nanti sudah berjalan. Sterilisasi penting untuk menjaga agar kebocoran jangan malah bertambah besar. o


Berikan Komentar untuk artikel ini
Lihat Komentar untuk artikel ini

Edisi 09 - 10 Tahun VI
31 Desember - 6 Januari 2007
www.mnc.co.id