Jumat, 12 Maret 2010 | Berlangganan Majalah TRUST 
Sub Rubrik:

Sapa Suru Datang Jakarta

Priyanto Sukandar dan Ahmad Pahingguan
 
LISENSI sudah lama dipegang. Sertifikat Uji Layak Operasi (ULO) juga sudah dikantongi. Tapi, langkah Natrindo Telepon Seluler (NTS) tetap tersendat. Operator seluler GSM itu belum mampu menembus Jakarta. Heru Sutadi, anggota Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI), menuturkan, menara BTS yang dibangun NTS di seantero Jakarta dinilai bermasalah oleh pemerintah DKI. Menara yang dibangun di atas sejumlah gedung itu dinyatakan tak sesuai dengan tata kota Jakarta.
Padahal, dalam sebulan ke depan, NTS sudah siap meluncurkan ulang produk dagangan terbaru mereka. Sedianya, NTS bakal menggebrak pasar—menjadi pemain kelima yang ikut bertarung di bisnis seluler GSM dengan teknologi generasi ketiga (3G). Sebelum NTS, ada empat pemain 3G yang berkiprah: Telkomsel, Indosat, Excelcomindo Pratama, dan Hutchison CP Indonesia.
Produk terbaru NTS itu juga sudah diujicobakan. Pada 9 Maret silam, uji coba layanan komunikasi dan transfer data berkecepatan tinggi digelar di Bandung. Sebelumnya, NTS telah berkiprah di Jawa Timur. Kelak, Jawa Timur dan Jawa Barat memang akan menjadi pasar andalan NTS. ”Di kedua daerah itu, jaringan infrastruktur kami memang sudah amat siap,” ujar Kusnadi Sukarja, Presiden Direktur NTS.

 Artikel Lain
Verboden buat Asing
Agar Bea Masuk Sebening Berlian
Murah Kok Dilarang?
Sulitnya Main Tempel
Sapa Suru Datang Jakarta
Vista Dilirik kendati Mahal
Gembos Akibat Pungli
Rating Pemecah Rekor
Mengalah untuk Menang
Tut…Tut…Tut…, Pake AC
Kusnadi menjelaskan, NTS telah membangun 1.300 BTS. Ketika membangun BTS di Jakarta, NTS menggandeng Ericsson. DI Jawa Barat dan Jawa Timur, NTS memilih Huawei (Cina). Kini, NTS tercatat memiliki sekitar 10 ribu pelanggan di Jawa Timur.
Di Jawa Timur, memang sejak Mei 2001 NTS sudah beroperasi. Mereka dagangnya adalah Lippo Telecom. Grup Lippo awalnya memiliki 100% saham NTS. Kini, penguasaannya tinggal 49%.
Pelanggan NTS sempat mencapai 100 ribu orang, lalu mengempis jadi 10 ribu. Penurunan itu disebabkan layanan NTS yang hanya di satu provinsi saja—menyusul kebijakan pemerintah mengembangkan konsep regional bagi layanan seluler generasi kedua (2G) GSM 1.800. Ketika para pesaingnya mendapat lisensi nasional, NTS kelabakan hingga merugi US$ 20 juta.
Awal 2003, setelah menggandeng kelompok Kodel—dan mengakuisisi lima perusahaan pemegang lisensi seluler regional lainnya— NTS mendapat izin nasional. Lalu, di tahun 2004, NTS mendapat lisensi seluler 3G dengan bandwidth 10 MHz pada spektrum 1.900 MHz. Tapi, gara-gara merugi, NTS tak sempat mengembangkan bisnisnya.
Setelah 51% sahamnya dibeli Maxis Communications Berhad (Malaysia) seharga US$ 100 juta—awal 2005—NTS pun bergegas. Maxis bahkan merogoh lagi duit US$ 150 juta untuk pengembangan NTS. Sayang, Maret 2006 silam, pemerintah menetapkan pemegang lisensi 3G harus membayar up front fee sebesar Rp 320 miliar. Lalu, ada biaya hak penggunaan frekuensi tahun pertama Rp 32 miliar. Alhasil, NTS harus merogoh kocek lebih dalam dan proyeknya kembali terhambat.
Kini, NTS sudah siap melaju ke pasaran. Merek dagangnya pun akan berubah—tak lagi LippoTelecom. Syahdan, merek dagang itu akan mirip dengan nama pemegang saham terbesarnya, Maxis Communications. Jadi, mungkin namanya bisa Maxi, Axis, atau Axi.
Seorang petinggi NTS menuturkan, perusahaan ini siap dengan strategi perang tarif. Jadi, nantinya NTS akan mematok tarif—baik untuk percakapan atau video call on nett (pembicaraan sesama operator) senilai Rp 1 per detik. NTS juga siap memberikan gratis akses data sebesar 300 mb per bulan dan gratis pulsa Rp 30 ribu setiap pengisian Rp 20 ribu.
Tapi, bagaimana dengan masalah di Jakarta. Untunglah, menurut seorang petinggi Grup Lippo, masalah dengan Pemprov Jakarta sudah bisa teratasi. Agak rumit, memang. Tapi, begitulah. Sapa suru datang Jakarta… o


Berikan Komentar untuk artikel ini
Lihat Komentar untuk artikel ini

Edisi 09 - 10 Tahun VI
31 Desember - 6 Januari 2007
www.mnc.co.id