Sabtu, 20 Maret 2010 | Berlangganan Majalah TRUST 
Sub Rubrik:

From Russia with Rouble

Agus S. Riyanto, Febry Mahimza, Julianto, dan Teddy Unggik
 
ALTIMO, bukan Antimo, bukan obat antimabuk. Namun, perusahaan itu datang ke Indonesia seperti membawa jurus mabuk. Desember 2006 lalu, Altimo menyatakan berminat membeli saham STT Telecommunication Singapura di Indosat. Tapi, rencana itu sepertinya tak ditanggapi oleh orang-orang Temasek (induk STT). Kini, Altimo memulai jurus baru: berniat membiayai pemerintah Indonesia untuk membeli kembali 40,81% saham STT di Indosat.
Pemerintah sendiri memang bernafsu membeli lagi saham STT di Indosat. Awalnya, rencana itu datang dari Wakil Presiden Jusuf Kalla, ketika membuka Musyawarah Besar Kekeluargaan Gotong Royong, Juli 2005. Kalla, kala itu, berniat memperbesar kembali porsi kepemilikan saham pemerintah.
Di saat yang hampir bersamaan, rupanya, Altimo sudah mulai bergerilya. Mantan Menteri Negara BUMN Sugiharto menuturkan, dua tahun lalu, petinggi Altimo menemuinya di rumah dinasnya di Jakarta. Tapi, mereka berkunjung hanya untuk memperkenalkan diri. Belum ada pembicaraan apa-apa, apalagi menyangkut keinginan membeli saham STT di Indosat.

 Artikel Lain
Ikut Berharap Berkah Cepu
Terbang karena Minyak
Buat Siapa Itu Subsidi?
Kebelet Bikin Anak
From Russia with Rouble
Indosat Dijual, Mengapa Tidak?
Verboden buat Asing
Agar Bea Masuk Sebening Berlian
Murah Kok Dilarang?
Sulitnya Main Tempel
Seusai pertemuan itu, Sugiharto juga diundang Altimo ke Rusia. Waktunya bersamaan dengan kunjungan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono ke Negeri Beruang Merah itu pada November 2006. Namun, kendati diundang, nyatanya Sugiharto tidak ikut rombongan Presiden. ”Jadi saya tak tahu apa-apa,” ujarnya.
Nah, baru pada Desember 2006 itulah, Vice President Altimo, Andrei Zemnitsky, datang ke Jakarta. Saat itu, Zemnitsky bilang, Altimo siap mengucurkan US$ 2 miliar atau Rp 18 triliun untuk investasi di bidang telekomunikasi di Indonesia.
Investasi akan dilakukan pada tahun 2007 dengan membeli 20% hingga 30% saham perusahaan telekomunikasi. Altimo juga sudah membidik beberapa perusahaan telekomunikasi Indonesia, khususnya yang bergerak dalam bisnis telekomunikasi berbasis teknologi GSM. ”Kami belum bisa menyebutkan nama perusahaan yang sahamnya kami incar,” kata Zemnitsky.
Berembuslah kabar, operator yang diincar Altimo adalah Indosat. Saat ini, 40,81% saham operator ini dimiliki oleh STT lewat dua vehicle-nya: Indonesia Communications Limited (Mauritius) dan Indonesia Communications Pte. Ltd. (Singapura). Sebanyak 14,29% saham Indosat dikuasai pemerintah RI dan 44,90% dikuasai pihak lainnya, termasuk publik dengan kepemilikan masing-masing di bawah 5%.
Kabar pembelian saham Indosat oleh Altimo semakin kencang setelah Arief Poyuono, Ketua Presidium Federasi Serikat Pekerja BUMN Bersatu, bercerita. Ia bilang, pada 18 Oktober 2006, seseorang yang bernama Suharto menemuinya. Suharto ini mengaku sebagai perwakilan Altimo di Jakarta. Setelah itu, ada pertemuan berikutnya di kantor Altimo, di Gedung GKBI, Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta.
Menurut Arief, Altimo berniat membeli saham Indosat melalui pemerintah Indonesia, bukan membeli langsung dari STT. Untuk pembelian ini, Altimo telah menyiapkan dana sebesar US$ 2 miliar.
Selain itu, Suharto juga mengaku telah beberapa kali bertemu dengan Sugiharto untuk menandatangani nota kesepahaman antara Altimo dan pemerintah Indonesia. Nota kesepahaman itu berisi bahwa Altimo akan menjadi pihak pertama yang akan membeli saham Indosat apabila STT berhasil dipaksa menjual sahamnya di Indosat. ”Suharto diperkenalkan kepada Sugiharto oleh seorang anak buah Sugiharto,” ucap Arief.

KEDATANGANNYA TAK DISAMBUT RAMAH
Ada dua skenario yang disiapkan Altimo untuk membeli saham STT di Indosat. Pertama, Altimo akan membeli langsung saham STT itu. Kedua, Altimo akan mengucurkan rubelnya kepada pemerintah Indonesia untuk membeli kembali 40,81% saham Indosat yang dimiliki STT. Setelah pemerintah Indonesia membeli saham milik STT, rubel itu dikonversi dengan saham buat Altimo sebesar 27%. Sisanya—sebanyak 14%-an saham—dimiliki oleh pemerintah Indonesia. Namun, Altimo bukanlah sinterklas dari Rusia. Kepemilikan 14% saham pemerintah itu akan dibayar selama tiga tahun plus bunganya.
Altimo tampaknya sedang berusaha habis-habisan untuk menancapkan rubelnya di Indonesia. Maklum, sektor telekomunikasi Indonesia memang ibarat gadis cantik yang sedang mekar. Banyak investor yang tergiur meminangnya. Pasar di sini memang besar. Sementara, layanan telekomunikasinya masih minim.
Hingga awal 2007, tercatat pemakai seluler di Indonesia hanya 61,8 juta orang atau 27% dari total jumlah penduduk. Indonesia hanya unggul di atas India yang tingkat penetrasi pasar selulernya hanya 10% dari total jumlah penduduk.
Tak heran jika banyak perusahaan asing yang berlomba-lomba ikut mencicipi gurihnya bisnis telekomunikasi di Indonesia. Hingga kini, tercatat ada tujuh investor asing yang bercokol di enam perusahaan operator telekomunikasi Indonesia. Selain STT di Indosat, ada SingTel (juga anak Temasek) yang bertakhta di Telkomsel. Lalu, Indocel Holding dan Telecom Malaysia merajai PT Exelcomindo Pratama. Maxis Communications Malaysia menguasai Natrindo Telepon Seluler dan Hutchison Hong Kong serta Charoen Pokphand Thailand berkongsi membentuk Hutchison CP Telecommunication Indonesia.
Menurut sumber TRUST, setidaknya ada tiga kelompok usaha lokal yang juga ingin mencecap nikmatnya rubel Rusia ini. Mereka berharap menjadi mempelai lokal bagi Altimo ketika berbisnis di Indonesia. Syahdan, tiga kelompok itu semuanya dekat dengan kekuasaan. Namun, kabarnya, Altimo belum merasa sreg dengan tiga kelompok itu.
Uniknya, perwakilan Altimo sendiri merasa kedatangannya di Indonesia tidak disambut dengan ramah. ”Kami diserang dari segala penjuru,” ujar Suharto. Ia lalu mencontohkan, ketika pertama kali masuk ke negeri ini, langsung muncul kabar bahwa Altimo akan membeli saham Indosat. ”Padahal, kami baru mempelajari kemungkinan-kemungkinan tentang operator mana yang layak kami beli,” ujarnya.
Suharto mengakui, tak tertutup kemungkinan Altimo akan menjatuhkan pilihan pada Indosat. Namun, bidikannya saat ini belum fokus pada satu operator. Ada banyak operator lain yang dilirik. Telkomsel, misalnya. Atau, bisa juga Excelcomindo, Hutchison CP, dan Natrindo.

TERBESAR DI RUSIA, MENGINCAR 10 NEGARA ASIA
Namun, Suharto menafikan Bakrie Telecom dan Mobile-8. Alasannya, Bakrie dan Mobile-8 memakai teknologi CDMA, teknologi Amerika. Altimo yang asli Rusia biasa bermain dengan teknologi GSM. ”Saya sudah berbicara dengan orang-orang yang kompeten di perusahaan-perusahaan yang kami incar itu,” ujar Suharto.
Alfiansyah, analis Sinarmas Sekuritas, menilai, Altimo akan sulit masuk ke Indosat dan Telkomsel, pun ke PT Excelcomindo Pratama. ”Perusahaan-perusahaan itu sedang tidak butuh investor baru,” ujar Alfiansyah.
Yang pasti, jika Altimo berbisnis telekomunikasi di Indonesia, maka daftar kepemilikan saham operator telekomunikasi perusahaan ini akan bertambah. Altimo diluncurkan di London 1 Desember 2005. Sebelumnya bernama Alfa Telecom dan merupakan anak perusahaan Alfa Group. Kapitalisasi pasarnya sekitar US$ 14 miliar.
Saat ini, Altimo punya 29,3% saham di Golden Telecom, operator telepon tetap terbesar di Rusia, dengan total pendapatan US$ 667 juta, tahun lalu. Altimo juga memegang 35,8% saham VimpelCom, operator seluler kedua terbesar di Rusia. Vimpel kini berekspansi ke negara pecahan Soviet, seperti Kazakhstan, Ukraina, Uzbekistan, Georgia, dan Tajikistan.
Lalu, Altimo mengoleksi 25,1% saham Megafon, operator seluler ketiga terbesar di Rusia. Hingga September kemarin, Megafon memiliki 28 juta pelanggan, menguasai 19% pangsa pasar seluler di Rusia. Portofolio Altimo lainnya juga disebar ke Ukraina dengan menguasai 43,5% saham Kyivstar. Kyivstar telah memiliki 17 juta pelanggan atau sekitar 96% dari total populasi negara tersebut. Kini, Altimo sudah mencapai Turki dan menguasai 13,2% saham Turkcell—yang memiliki 36 juta pelanggan dan menguasai 63% pangsa pasar di negerinya Kemal Attaturk itu.
Kelak, Suharto melanjutkan, bila Altimo jadi masuk ke Indonesia, bisa saja anak perusahaan Alfa Group yang lain ikut menanamkan modalnya di negeri ini. Alfa adalah kekuatan ekonomi raksasa dari Rusia. Di sana, ada Alfa Bank (perbankan) dan TNP-BP (migas).
Bisa jadi juga, Altimo hengkang dari Indonesia. Toh, ujar Suharto, masih banyak negara lain yang menarik untuk didatangi. ”Bisa Vietnam atau Filipina,” katanya. Altimo memang sedang membidik 10 negara lain di Asia. o


Berikan Komentar untuk artikel ini
Lihat Komentar untuk artikel ini

Edisi 09 - 10 Tahun VI
31 Desember - 6 Januari 2007
www.mnc.co.id