|
|
 |
|
Surat Utangnya Nyetrum
PLN
|
| Priyanto Sukandar, Intan Rahmawati, Teddy Unggik, dan Wisnu Arto Subari |
| |
INI sungguh kebutuhan yang amat besar. Demi memenuhi tingginya kebutuhan akan listrik di Indonesia, pemerintah menunjuk PT PLN untuk membangun Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) 10 ribu megawatt. Rencananya proyek yang akan selesai tahun 2010 ini bakal menelan dana Rp 160 triliun.
Tentu saja, PLN tak akan sanggup membiayai kebutuhan itu dari kas internalnya. Mau tak mau PLN kembali harus melansir obligasi. Syahdan, obligasi terbaru pabrik setrum itu akan terbit tahun ini. Eddie Widiono, Direktur Utama PLN, menuturkan, obligasi terbaru yang akan dirilis itu meliputi Obligasi PLN IX Tahun 2007 dan Obligasi Syariah (Sukuk) Ijarah PLN II Tahun 2007.
Obligasi PLN IX akan bernilai Rp 2,7 triliun dan Sukuk Rp 300 miliar. Lalu, Obligasi PLN IX juga akan diterbitkan dalam dua seri, yaitu Seri A dengan jangka waktu 10 tahun dan Seri B dengan jangka waktu 15 tahun. Sukuk ditetapkan memiliki jangka waktu 10 tahun. Obligasi PLN IX Seri A ditawarkan dengan tingkat kisaran kupon 9,875% sampai 10,625% per tahun. Yang Seri B memiliki tingkat kisaran kupon 10,375% sampai 11,125% per tahun. Sukuk ditawarkan dengan imbalan ijarah Rp 29,66 miliar.
Pemerintah—selaku pemegang saham PLN—sudah memberi lampu hijau atas rencana pabrik setrum itu. Kendati, PLN masih memiliki kewajiban kepada anak perusahaan dan sejumlah produsen listrik swasta alias independent power producer (IPP). Roes Aryawijaya, Deputy Menteri Negara BUMN, yakin, PLN akan mampu membayar utang-utangnya itu. ”Beban PLN sekarang sudah berkurang. Apalagi, kini banyak investor masuk ke sektor listrik,” ujar Roes.
Pendapat senada dilontarkan Pungky Himawanto, seorang praktisi obligasi. Pungky bilang, PLN memang memiliki kewajiban besar kepada anak-anak perusahaannya, seperti Indonesia Power. Nilainya bahkan mencapai Rp 15 triliun. Tapi, perusahaan pelat merah ini tidak akan mengalami gagal bayar. Bahkan, sekarang, obligasi PLN yang dikeluarkan tahun lalu justru sedang laris-larisnya di pasaran. Harganya sudah berada di atas harga nominalnya. Pungky yakin, berapa pun nilai emisi yang diterbitkan PLN, pasar pasti akan menyerapnya.
Menurut Pungky, banyak alasan yang membuat investor haus akan surat utang PLN. Pertama, karena perusahaan ini masih menjadi milik negara sehingga pemerintah tak akan tinggal diam jika PLN sampai gagal bayar. Selain itu, likuiditas di pasar finansial sekarang sedang tinggi-tingginya akibat rendahnya bunga simpanan yang diberikan oleh bank.
Obligasi PLN seri VII menawarkan bunga 12,25%. Padahal, bunga yang ditawarkan bank hanya 8,5%. Itu sebabnya, ujar Pungky, obligasi PLN kini sangat diminati oleh asuransi dan dana pensiun.
Orias P. Moedak, Direktur PT Danareksa Sekuritas, juga menilai penerbitan Obligasi PLN akan sangat baik dilakukan sekarang, di saat momennya amat tepat. Lagi pula, ujar Orias, track record pembayaran obligasi PLN selalu tepat waktu.
Persoalannya sekarang, setelah begitu sering berutang, kapan PLN akan menangguk untung. Soalnya, hingga akhir 2006, PLN masih merugi Rp 1,93 triliun. Debt to equity ratio PLN juga tercatat sebesar 77,28%. Untunglah, pendapatan sebelum beban bunga, pajak, depresiasi, dan amortisasi PLN berbanding interest (EBITDA/Interest)-nya masih sebesar 5,1 kali. Ini merupakan keunggulan PLN karena di sanalah PLN mencatatkan diri sebagai perusahaan setrum paling baik di Asia.
Berikan Komentar untuk artikel ini
|
|
 |
|
 |
Edisi 09 - 10 Tahun VI 31 Desember - 6 Januari 2007 |
 |
|
 |
|