Rabu, 8 September 2010 | Berlangganan Majalah TRUST 
Sub Rubrik:

Si Putih Ikut Meroket

Dikky Setiawan, Julianto, dan Intan Rahmawati
 
INILAH susahnya hidup di negara yang selalu bergantung pada produk pangan impor. Ketika harga komoditi tersebut di pasar internasional mengalami kenaikan, harga jual produk turunannya di Tanah Air ikut-ikutan naik. Akibatnya, masyarakat pun turut menanggung beban. Paling tidak, itu terjadi dalam bisnis komoditi gandum.
Selama setahun ini harga gandum dunia memang terus meroket. Pada awal 2006, misalnya, harga gandum dunia masih berada di level US$ 170 per ton. Tapi, enam bulan kemudian harganya sudah menjadi US$ 203 per ton atau naik sekitar 20%. Dan itu belum selesai. Di awal tahun 2007, harga gandum sudah mencapai US$ 217 per ton. Kini, banderol itu sudah sekitar US$ 236 per ton.
Tak ayal, kenaikan harga gandum itu membuat harga terigu di dalam negeri ikut melambung. Contohnya, terigu merek Cakra Kembar isi 25 kilogram. Dari hasil pantauan TRUST di Pasar Bendungan Hilir, Jakarta Pusat, harga terigu produksi Bogasari itu mencapai Rp 105 ribu. ”Padahal, seminggu sebelumnya, harganya hanya berkisar antara Rp 101 ribu hingga Rp 102 ribu,” ujar Soleh, salah seorang pedagang terigu di pasar tersebut. Menurut Soleh, kenaikan harga terigu di warung sembakonya itu sudah dimulai sejak awal Juni ini.

 Artikel Lain
Kalau Pelanduk Mengancam
Ikhtiar Menggenjot ARPU
Permintaan Terus Berkotek
”Yang Jelas, Kami Sudah Gagal”
Si Putih Ikut Meroket
Surat Utangnya Nyetrum
One District One Commodity
Mati Satu Konek Seribu
Dagang Minyak di Tengah Laut
Jakarta Tambah Metro?
Lalu, seperti telah disebutkan, kenaikan harga gandum tidak hanya berdampak terhadap kenaikan harga terigu, tapi juga produk makanan yang bahan bakunya terbuat dari terigu. Contohnya mi instan. Menurut Soleh, kini harga mi instan merek tertentu di warungnya dijual Rp 1.200, dari sebelumnya Rp 1.000 per bungkus.
Ratna Sari Loppies, Direktur Eksekutif Asosiasi Produsen Tepung Terigu Indonesia (Aptindo), mengatakan, para produsen terigu di Tanah Air memang terpaksa harus menaikkan harga jual produknya. Sebab, dari total biaya produksi, sekitar 90%-nya digunakan untuk biaya pembelian gandum. Apalagi, ”Kenaikan harga gandum selama tahun ini hampir mencapai 40% dibandingkan harga pada awal tahun lalu,” ujar Ratna.
Ia menambahkan, ada sejumlah faktor yang menyebabkan harga gandum dunia terus bergerak naik. Termasuk karena tren penggunaan biofuel di sejumlah negara. Lo kok bisa? Begini ceritanya. Untuk memproduksi biofuel, lazimnya dibutuhkan tanaman yang bisa menghasilkan bahan bakunya. Nah, jika diolah, biji gandum ternyata bisa menghasilkan etanol (alkohol), yang merupakan salah satu unsur bahan baku biofuel.
Ratna menuturkan, banyak produsen biofuel dari berbagai negara yang memburu gandum untuk diolah sebagai etanol. Akibatnya, karena harus berbagi dengan proyek energi hijau ini—ketika memasuki musim tanam—para petani di negara produsen gandum pun kesulitan mendapat biji gandum. Sebab, ”Jumlah permintaan yang meningkat itu tidak diimbangi dengan penambahan luas lahannya,” ujar Ratna.
Selain itu, perubahan iklim di negara produsen juga memengaruhi tingkat produktivitas panen gandum. Tingginya curah hujan di areal pertanian Amerika Serikat, misalnya, mengakibatkan panen gandum tertunda dan sejumlah areal rusak parah. Amerika sendiri me-rupakan negara dengan produksi gandum hampir 10% dari total produksi dunia yang mencapai sekitar 616,87 juta ton.
Musim kemarau yang melanda 10 juta hektare lahan gandum Ukraina pada tahun lalu, juga telah membuat 650 ribu hektare lahan di negara eksportir gandum terbesar keenam di dunia itu rusak. Dengan begitu, produksi gandum di sana juga akan menurun. Selama ini, Ukraina sanggup memproduksi gandum sebanyak 14 juta ton per tahun. ”Produksi di Australia juga turun 60% dibandingkan tahun sebelumnya,” tambah Ratna.
Dalih yang hampir serupa juga dilontarkan Fransiscus Welirang, Wakil Direktur Utama Indofood. Menurut pria yang akrab disapa Franky ini, ongkos angkut internasional juga mengalami kenaikan. Jika biasanya ongkos pengiriman dari AS atau Kanada hanya berkisar antara US$ 22-US$ 23, kini telah mencapai US$ 55 dolar.

MARGIN PRODUSEN IKUT TERGERUS
Begitu juga ongkos pengiriman dari Australia, yang biasanya US$ 17-US$ 18 dolar, kini menjadi US$ 35. Karena itu, Franky mengaku akan menaikkan harga produknya seperti mi instan dan terigu secara bertahap, dan untuk tahun ini harga terigu diperkirakan naik 10%. Kendati begitu, ”Sampai dengan triwulan pertama 2007 harga terigu cuma naik 4%, sisanya yang 6% akan dilakukan secara bertahap dengan melihat kondisi yang ada,” tutur Franky.
Kenaikan harga secara bertahap itu dilakukan lantaran saat ini daya beli masyarakat masih terbilang lemah. Komentar Franky diamini oleh Junsi Heru, Direktur Keuangan PT Eastern Pearl Flour Mills. Katanya, produk pangan seperti terigu tergolong produk yang sensitif terhadap harga. Apalagi, kebanyakan (70%) pengguna terigu adalah kalangan industri kecil (UKM).
Nah, jika produsen menaikkan harga—dengan persentase yang besar—secara mendadak, maka bisa berdampak terhadap pangsa pasarnya. ”Ini kendala buat kami. Secara teoretis, ketika harga gandum naik, harga terigu dan produk turunannya juga harus naik. Tapi, ini mesti dilakukan bertahap,” ujar Junsi. Ia berharap, tahapan kenaikan itu bisa dilakukan dalam jangka waktu enam bulan, ketika daya beli masyarakat telah membaik.
Lantas, apa konsekuensi yang bakal diterima produsen terigu jika harga produknya tidak dinaikkan? ”Margin kami akan turun,” tambahnya. Saat ini saja, lanjut Junsi, kendati harga jual telah dikatrol, margin yang diperoleh produsen tetap melorot. ”Kalau harga gandum naik hampir 40%, tidak mungkin kami ikut menaikkan harga terigu sampai sebesar itu. Dari situ saja sudah kelihatan margin kami menurun,” katanya. Cara itu harus ditempuh, sebagai satu-satunya senjata untuk mempertahankan pangsa pasar.
Thomas Darmawan, Ketua Umum Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia, mengatakan, di tengah kondisi seperti ini, produsen makanan dan minuman memang harus berhati-hati dalam menaikkan harga. Terlebih lagi, harga produk makanan dan minuman impor yang masuk ke Indonesia saat ini, juga mengalami penurunan akibat menguatnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. Selain itu, harga makanan olahan impor lebih murah karena harga bahan bakunya jauh lebih murah ketimbang di Indonesia.
Semua pihak memang boleh saja berdalih. Masalahnya, sampai kapan harga gandum dunia itu akan terus menjulang? ”Saya perkirakan tahun depan harganya akan turun lagi,” tutur Ratna Sari Loppies berharap. Namun, ia sendiri tak berani memastikan seberapa besar penurunan harga gandum tersebut. Ratna hanya mengatakan, jika kendala-kendala tadi bisa diminimalisir, tentu harga gandum akan segera turun.
Apa pun harapan Ratna, toh harga gandum dan terigu di Tanah Air kadung melonjak. Persoalannya kini, bagaimana para produsen terigu nasional bisa memenuhi kebutuhan di dalam negeri. Bukan apa-apa, dari hari ke hari, masyarakat di negeri ini semakin ”rakus” akan terigu. Buktinya, konsumsi terigu pada 2006 telah mencapai 3,7 juta ton atau naik 11,6 % dari tahun 2005 yang hanya 3,4 juta ton. Di tahun ini, kebutuhan itu bahkan akan membengkak lagi sekitar 5% dibandingkan tahun lalu. 


Berikan Komentar untuk artikel ini
Lihat Komentar untuk artikel ini

Edisi 09 - 10 Tahun VI
31 Desember - 6 Januari 2007
www.mnc.co.id