Jumat, 10 September 2010 | Berlangganan Majalah TRUST 
Sub Rubrik:

”Yang Jelas, Kami Sudah Gagal”
Sandy Uno, Komisaris Utama PT Recapital Advisor:

 
RESTU Presiden dalam proses penjualan saham PT Lintas Marga Sedaya—pemilik konsesi jalan tol Cikampek-Palimanan—kepada PLUS Expressways Berhad, benar-benar ampuh. Pekan silam, operator jalan tol asal Malaysia itu resmi menjadi pemilik 55% saham Lintas Marga.
Sandy Uno, Direktur Utama Lintas Marga, mengatakan, PLUS merogoh kocek hingga 500 juta ringgit (sekitar Rp 1,3 triliun) untuk transaksi tersebut. ”Uang itu akan dipakai sebagai modal dasar pembangunan jalan tol Cikampek-Palimanan,” katanya.
Masuknya PLUS ke Lintas Marga terjadi setelah PT Bhaskara Utama Sedaya—pemilik 85% saham Lintas Marga—membeli 15% saham Lintas Marga lainnya milik PT Jasa Marga. Nilai pembeliannya mencapai Rp 1,2 miliar.

 Artikel Lain
Mari Berkebun Bersama CT
Kalau Pelanduk Mengancam
Ikhtiar Menggenjot ARPU
Permintaan Terus Berkotek
”Yang Jelas, Kami Sudah Gagal”
Si Putih Ikut Meroket
Surat Utangnya Nyetrum
One District One Commodity
Mati Satu Konek Seribu
Dagang Minyak di Tengah Laut
Bhaskara sendiri merupakan konsorsium yang terdiri dari PT Saratogasedaya Utama, PT Bukaka Teknik Utama, dan PT Gapura Buana. Sandy—lengkapnya Sandiaga Salahuddin Uno—adalah pemilik Grup Saratoga bersama Edwin Soeryadjaya.
Sandy juga punya bisnis lain yang dilakoninya bersama Rosan Roslani Perkasa, PT Recapital Advisor. Di Grup Saratoga, Sandy menjadi direktur utama. Di Recapital, ia menjabat komisaris utama.
Bersama Recapital, Sandy sempoyongan lantaran gagal menguasai PT Dipasena Citra Darmaja. Syahdan, gara-gara itu, ia harus menjual sahamnya di Bank Tabungan Pensiunan Nasional (BTPN). Sandy, dengan gentleman, mengakui kegagalannya itu.
Rabu pekan lalu, di Hotel The Sultan, Jakarta, pria berusia 38 tahun ini bercerita ihwal sejumlah persoalan bisnis yang dihadapinya kepada Ahmad Pahingguan, Dikky Setiawan, dan fotografer Sutikno dari TRUST. Petikannya:

PLUS EXPRESSWAYS BERHAD AKHIRNYA RESMI MENGUASAI 55% SAHAM PT LINTAS MARGA SEDAYA. BISA DIJELASKAN SEPERTI APA PROSES PENGALIHAN SAHAM TERSEBUT?
Sebenarnya, PLUS sudah lama berniat masuk ke Lintas. Kami telah membicarakan hal itu ke pemerintah sejak akhir tahun 2005, tapi terlaksananya baru sekarang. Ada tahapan-tahapan yang harus dilalui dalam proses pengalihan itu, sampai akhirnya pemerintah merestui pengalihan tersebut.

MENGAPA PROSESNYA BEGITU LAMA. BUKANKAH PEMERINTAH JUSTRU INGIN MEMPERCEPAT PEMBANGUNAN JALAN TOL?
Betul. Implementasi pembangunan infrastruktur memang harus dipercepat. Tapi, kenyataannya tidak semudah itu. Kami sebagai investor cukup mengerti keinginan pemerintah. Tapi, ya itu tadi, ada beberapa simpul di lapangan yang harus dipetakan. Dan saya rasa, sejauh ini, apa yang telah dilakukan pemerintah sudah benar.

PROSES PENJUALANNYA SENDIRI BAGAIMANA?
Ini pengalihan saham. Saya kurang setuju kalau itu (pengalihan saham, red) disebut dijual. Soalnya, kami menerbitkan saham baru dan pihak PLUS menyetor fresh capital sekitar 500 juta ringgit. Dana itu akan dipergunakan sebagai modal dasar untuk pembangunan jalan tol Cikampek-Palimanan. Jadi, saat ini, PLUS adalah pemegang 55% saham Lintas Marga Sedaya. Sisanya, yang 45%, dimiliki PT Baskhara Utama Sedaya, setelah mengakuisisi saham milik PT Jasa Marga sebesar 15%.

SEBEGITU SULITKAH PARA INVESTOR DALAM NEGERI MENCARI SUMBER PENDANAAN PROYEK, SEHINGGA TAK SEDIKIT DARI MEREKA YANG AKHIRNYA MUNDUR BAHKAN GAGAL MELAKUKAN FINANCIAL CLOSING?
Bisnis jalan tol memiliki karakteristik tingkat pengembalian investasi yang tergolong lama. Sehingga bagi teman-teman investor yang mengharapkan pengembalian investasi dalam waktu singkat, menganggap proyek ini tidak terlalu tertarik. Untuk itu, diperlukan investor-investor yang memiliki sumber pendanaan yang kuat dalam waktu jangka panjang untuk bisa mengerjakan proyek pembangunannya.

JADI, HANYA KARENA PENGEMBALIAN INVESTASINYA LAMA, BANYAK INVESTOR LOKAL YANG KURANG BERMINAT?
Bukan begitu. Kalau bicara minat, sebenarnya investor lokal cukup berminat bermain di sektor ini. Tapi, dari sisi kemampuan jangka waktu pendanaannya inilah, yang mungkin mereka kurang siap.

TIDAKKAH PENGALIHAN 55% SAHAM LINTAS MARGA KE PLUS ITU MENJADIKAN KONSORSIUM ANDA BERTINDAK SEPERTI CALO LISENSI PROYEK?
Itu sama sekali tidak benar. Sebab, untuk terlibat di dalam proyek jalan tol itu, kami telah menyiapkan teknologinya, ikut mendanai, dan mencari mitra yang berpengalaman. Karena itu, kami mengundang PLUS untuk bersama-sama membangun jalan tol yang akan kami garap.

OK, BERALIH KE PERUSAHAAN ANDA YANG LAIN, RECAPITAL, YANG MENGALAMI GAGAL BAYAR ATAS PENJUALAN TAMBAK UDANG DIPASENA. ITU CERITANYA BAGAIMANA?
Dalam artikel TRUST, yang judul cover-nya ”Recapital Berdarah-darah” (TRUST Edisi 32 Tahun V), itu semua benar adanya. Tak ada yang salah satu kalimat pun. Semuanya gagal. Dan saya, sebagai pengusaha muda, jika memang tak ada harapan (memiliki), ya mestinya jadi pegawai sajalah…

KETIKA ITU, YANG MENJADI KONSULTAN RECAPITAL ADALAH PT CENTRAL PROTEINAPRIMA (CP PRIMA). TAPI, KINI MEREKA JADI PEMILIK DIPASENA. ANDA MERASA DITUSUK DARI BELAKANG?
Yang jelas, kami sudah gagal. Sebenarnya persoalannya sederhana. Kami diberi waktu untuk menyelesaikan pendanaannya. Tapi, dalam perjalanannya, ada perubahan total dari segi bisnisnya (Dipasena) sehingga kami tidak kuat. Kami memang diberi waktu lagi untuk mencari dana lebih. Tapi, waktu yang diberikan itu cukup sempit. Akhirnya, kami tidak dapat dana yang dibutuhkan. Namanya juga bisnis, ada yang berhasil, dan ada yang gagal (nada Sandi terdengar lirih).
BAGAIMANA DENGAN DANA YANG SUDAH ANDA KUCURKAN KE DIPASENA? JUMLAHNYA KAN BESAR, RP 748 MILIAR?
Itu ada mekanismenya. Kami diberi hak tagih kepada pihak Dipasena. Namun kita tunggu saja hasil proses yang dijalankan oleh PPA (PT Perusahaan Pengelola Aset).

LANTAS, BAGAIMANA RECAPITAL MENYIASATI PENGEMBALIAN DANA DARI KREDITOR PLUS BUNGA YANG SUDAH TELANJUR DIKUCURKAN KE DIPASENA?
Ya itulah, kami mesti cari dana untuk menutupinya…

APAKAH ITU DITUTUP DENGAN PENJUALAN SAHAM BANK TABUNGAN PENSIUNAN NASIONAL KE NORTHSTAR PACIFIC & TEXAS PACIFIC GROUP?
Transaksi itu belum final. Sampai saat ini masih dalam tahap penyelesaian. Tunggu saja hasilnya. Untuk proses penjualan saham BTPN, sepenuhnya Rosan (Rosan Roeslani Perkasa—Dirut Recapital) yang mengurus.

PANDANGAN ANDA SENDIRI TERHADAP CP PRIMA SEBAGAI PEMILIK BARU DIPASENA?
Dipasena adalah aset yang bagus. CP Prima adalah pembeli yang lihai dan paham bisnis di sektor ini, sehingga mereka juga bisa mendanainya.

SETELAH DEFAULT MENJADI INVESTOR DIPASENA, KABARNYA DI TAHUN INI KARYAWAN RECAPITAL TIDAK AKAN MENDAPATKAN BONUS KERJA SEPERTI TAHUN-TAHUN SEBELUMNYA?
Tidak sampai seperti itulah. Bisnis kami masih berjalan baik, masa depannya masih cerah…

KABARNYA, PERUSAHAAN ANDA SUDAH ADA YANG MASUK KE SEKTOR AGRO?
Saya sudah memulainya. Walaupun lahannya masih relatif kecil. Sampai saat ini baru ada sekitar 5.000 hektare kebun kelapa sawit di Kalimantan Barat. Sektor agro adalah bisnis yang cerah di masa mendatang.

TAPI, BUKANKAH BERMAIN DI SEKTOR AGRO ITU MEMBUTUHKAN LAHAN YANG TAK SEDIKIT. SEMENTARA, SAAT INI SUDAH BANYAK LAHAN PERKEBUNAN YANG DIKUASAI PEMAIN KAKAP?
Sebenarnya untuk pemula itu, cukup memiliki lahan 100 hektare. Untuk programnya, mereka bisa menjalin kemitraan dengan pengusaha besar dalam bentuk plasma, atau masuk ke bisnis penunjangnya, seperti pupuk, bibit, dan lainnya.

ANDA JUGA MENDORONG ANGGOTA HIPMI MASUK KE AGRO. LALU, BAGAIMANA ANGGOTA ANDA MENDAPAT PENDANAAN?
Juni lalu, Hipmi sudah melakukan penandatanganan kesepakatan kerja sama dengan Standard Chartered Bank. Mereka berkomitmen memberikan kredit tanpa agunan untuk membantu modal para pengusaha muda dengan plafon antara
Rp 500 juta hingga Rp 5 miliar. 


Berikan Komentar untuk artikel ini

Edisi 09 - 10 Tahun VI
31 Desember - 6 Januari 2007
www.mnc.co.id