|
|
 |
|
Permintaan Terus Berkotek
Pakan Unggas dan DOC
|
| Priyanto Sukandar dan Wisnu Arto Subari |
| |
LUAR biasa Charoen Pokphand. Gergasi bisnis asal Thailand itu terus melakukan ekspansi di Indonesia. Lewat bendera PT Charoen Pokphand Indonesia, mereka sudah bersiap membuka pabrik pakan ternak baru di Makassar. Pekan ini, pabrik senilai Rp 66 miliar itu telah memasuki tahap penyelesaian akhir. Pabrik itu bakal memiliki kapasitas produksi 300 ribu ton per tahun dan akan memenuhi kebutuhan pakan ternak di Indonesia Bagian Timur.
Maunya, pabrik baru seperti itu bisa membuat harga pakan menjadi lebih bersaing. Soalnya, kasihan para peternak ayam. Setelah terpukul oleh wabah virus flu burung, kini giliran harga pakan yang ikut menghantam. Belakangan, harga jual pakan unggas memang naik. Pakan ayam petelur yang tadinya Rp 2.700 per kilo, kini sudah Rp 3.300. Pakan ayam pedaging bahkan naik dari Rp 1.700 menjadi Rp 3.300 per kilo.
Kenaikan itu terjadi lantaran harga bahan baku pakan—jagung dan bungkil kedelai—juga terus terkerek di pasar internasional. Banderol jagung, misalnya, terus-terusan naik sejak tahun 2006 silam. Awal tahun 2006 lalu, harga jagung di pasar internasional hanya senilai US$ 130 per ton. Setahun kemudian, harga itu telah mencapai US$ 235 per ton.
Jagung adalah penyumbang 50% komposisi pakan ternak, 35%-nya lagi dari bungkil kedelai. Bahan baku pakan ternak lainnya adalah tepung daging dan tulang alias meat bone meal (MBM). Naiknya harga jagung dipicu oleh naiknya permintaan akan komoditi itu—menyusul pemanfaatan jagung sebagai bahan baku bahan bakar nabati. Kenaikan harga jagung itu membuat ongkos produksi pakan ternak melonjak sekitar Rp 500 per kilo.
Kelangsungan usaha 2,5 juta peternak unggas di seluruh Indonesia pun terancam. Tri Hardianto, Ketua Gabungan Organisasi Peternak Ayam Nasional (Gopan), menuturkan, akibat flu burung, sudah ada sejuta peternak ayam petelur dan pedaging potong yang gulung tikar. Sampai Maret silam, kerugian peternak ayam akibat isu virus itu mencapai Rp 1 triliun. Nah, dengan adanya kenaikan harga pakan sekarang, Tri menduga, akan lebih banyak lagi jumlah peternak yang terpaksa menutup kandangnya.
Nasib peternak gurem—yang memiliki ayam tak lebih dari 40 ribu ekor—jelas lebih memilukan. Saat ini, ujar Tri, pangsa pasar peternak kecil sudah terkuras 15%. Peternak biasanya bisa memasok enam juta ekor ayam per minggu. Kini, pasokan itu berkurang menjadi empat juta ekor.
Namun, Direktur Charoen Pokphand Indonesia Thomas Effendi, menuturkan, permintaan akan pakan ternak ayam nyatanya masih sangat besar. Itu sebabnya Charoen Pokphand terus memperlebar usahanya di negeri ini. Charoen tak hanya membuat dan menjual pakan ternak, tetapi juga menjual ayam usia sehari alias day old chick (DOC).
Saat ini, Charoen Pokphand telah menguasai sekitar 35% pangsa pasar pakan ternak dan DOC di Indonesia. Di bawahnya, mengintip Japfa Comfeed dengan pangsa pasar 20%. Perusahaan-perusahaan lain harus ikhlas berbagi pangsa pasar dengan penguasaan rata-rata sekitar 4% hingga 5%.
Don P. Utoyo, Koordinator Forum Masyarakat Perunggasan Indonesia, memperkirakan omzet dari seluruh perusahaan ini lebih dari Rp 30-an triliun. Angka itu dari penjualan DOC sekitar Rp 3 triliun. Lalu penjualan pakan unggas diduga Rp 20 triliun. Penjualan ayam hidup setidaknya Rp 1,5 triliun. Penjualan telur mencapai Rp 8 triliun. Sedangkan nilai aset seluruh perusahaan ayam ini, tambah Don, bisa sampai ke angka Rp 38 triliun.
Ke depan, Charoen ingin memperkuat pangsanya itu menjadi 40%. Makanya, perusahaan ini berniat mengambil alih enam perusahaan lain di Indonesia. Empat merupakan per-usahaan pembibitan anak ayam, satu perusahaan distribusi, dan satu perusahaan pakan ternak.
Perusahaan pembibitan yang diincar Charoen adalah PT Satwa Utama Raya, PT Ciptana Satwa Borneo, PT Cipta Agung Kencana, dan PT Cipta Khatulistiwa Mandiri. Lalu, perusahaan distribusi yang akan diambil adalah PT Prima Food Internasional. Untuk produksi pakan ternak, Charoen Pokphand hendak mengakuisisi 100% saham PT Cipta Grain.
Thomas mengharapkan, setelah ekspansi ini dijalankan, penjualan Charoen Pokphand Indonesia akan mengalami kenaikan hingga mencapai Rp 7,7 triliun. ”Tanpa akuisisi, target penjualan 2007 sebesar Rp 7,4 triliun. Jadi, ada tambahan sebesar Rp 350 miliar selama enam bulan, sedangkan pada tahun 2006 lalu hasil penjualan sebesar Rp 6,5 triliun,” ujar Thomas.
BARU MAKAN 4,5 KILO AYAM PER TAHUN
Orang-orang Charoen Pokphand memang layak merasa pede. Soalnya, bukan pakan ternak saja yang bisa mereka andalkan untuk meraup fulus, melainkan juga DOC itu tadi. Menurut Thomas, konsumsi dan permintaan akan DOC juga sangat tinggi. Kendati, pada saat virus flu burung menyerang, jumlah permintaan itu agak terkoreksi. ”Namun jumlahnya tidak terlalu signifikan. Bahkan, harga DOC ini terus menunjukkan tren naik,” katanya.
Heri Dermawan, Sekretaris Jenderal Gopan, menuturkan, tren kenaikan harga DOC ini sudah terlihat sejak bulan April lalu. Harga ayam umur sehari ini sekarang dijual di level Rp 2.100. Namun kini harganya sudah mencapai Rp 3.250 per ekor.
Kenaikan harga DOC juga diikuti oleh harga jual ayam potong. Sebelum merebaknya virus H5N1 ini, harga ayam potong hanya Rp 4.000 per kilonya di tingkat kandang. Namun kini harga itu sudah mencapai Rp 10.000 per kilo. Sungguh kenaikan yang besar.
Menurut Thomas, kenaikan harga ayam di tingkat konsumen mungkin akan terus berlangsung. Sebab, selain karena jumlah ayam potong berkurang akibat merebaknya virus H5N1, kebutuhan akan protein hewani ini juga masih cukup tinggi. Maklum, harga ayam tetap saja terbilang lebih murah ketimbang protein hewani lainnya, seperti daging sapi ataupun kambing.
Apalagi, konsumsi ayam per kapita di Indonesia juga masih cetek. Angka konsumsi per kapita itu hanya sebesar 4,5 kilo per tahun. Jadi, belum tentu seminggu sekali orang Indonesia makan ayam. Angka itu jelas jauh di bawah Malaysia yang sudah melampaui 27 kilo gram per kapita per tahun. Itu sebabnya, prospek industri ini di Indonesia diperkirakan masih akan berkembang.
Sayangnya, hanya segelintir perusahaan yang bisa mendapat peluang besar dari potensi tersebut. Soalnya, di industri ini, 80% produksi dan pangsa pasarnya memang sudah dikuasai oleh perusahaan raksasa—yang modalnya banyak berasal dari negeri orang.
Berikan Komentar untuk artikel ini
|
|
 |
|
 |
Edisi 09 - 10 Tahun VI 31 Desember - 6 Januari 2007 |
 |
|
 |
|