Jumat, 3 September 2010 | Berlangganan Majalah TRUST 
Sub Rubrik:

Ikhtiar Menggenjot ARPU

Priyanto Sukandar
 
INOVASI tak boleh berhenti. Itu yang harus dilakukan para operator seluler jika tak ingin pendapatannya terkuras gara-gara ditinggalkan pelanggan. Maka, tak heran jika sejumlah layanan baru terus dikembangkan. Setelah layanan data generasi ketiga (3G), kini operator seluler asyik menggarap pasar data wireless broadband atau di-kenal dengan istilah 3,5G. Layanan ini diklaim sangat cepat sehingga dinamai juga high speed downlink packet access (HSDPA). Kecepatan akses data yang dijanjikannya mencapai 3,6 megabit per sekon (Mbps).
Setidaknya, tiga operator seluler terbesar di Indonesia—PT Telkomsel, PT Excelcomindo Pratama, dan PT Indosat—sudah mulai menjajaki bisnis ini. Adita Irawati, VP Corporate Communication PT Indosat, menjelaskan, komersialisasi layanan 3,5G ini sudah dimulai Indosat sejak November silam. Tak disangka, baru saja diperkenalkan, respons pelanggan cukup besar. Indosat memasarkan wireless broadband melalui anak perusahaannya PT Indosat Mega Media (IM2). Kini, jumlah pelanggannya sudah mendekati angka 7.000 pengguna.
Hasil tak jauh berbeda juga dirasakan oleh PT Excelcomindo Pratama (XL). Menurut Ventura Elisawati, GM Integrated Marketing Services Corporate Solution XL, tak kurang dari 6.000 pelanggan wireless broadband bisa mereka jaring. Sebuah angka yang lumayan besar.

 Artikel Lain
Bahan Baku yang Bikin Kusut
Tak Ada yang Tersisa dari Garuda
Mari Berkebun Bersama CT
Kalau Pelanduk Mengancam
Ikhtiar Menggenjot ARPU
Permintaan Terus Berkotek
”Yang Jelas, Kami Sudah Gagal”
Si Putih Ikut Meroket
Surat Utangnya Nyetrum
One District One Commodity
Walau baru seumur jagung, Ventura menilai, prospek industri wireless broadband masih cukup menjanjikan. Fenomena laris manisnya penjualan wireless broadband tak hanya terjadi di Indonesia saja. Namun itu juga dirasakan di beberapa negara maju lainnya, seperti Amerika dan Jerman. Salah satu barometer yang dapat dilihat adalah suksesnya Vodafone dalam menjual produk wireless broadband di negara asalnya, Amerika.
Sejak beberapa tahun lalu, sejumlah operator seluler kelas dunia di Amerika memang telah memperkirakan, wireless broad band akan menjadi tulang punggung pendapatan mereka. Itu disebabkan kebutuhan konsumen yang tinggi akan akses data dengan kecepatan tinggi dan mobile.
Di Indonesia, kasusnya juga serupa. Selain itu, Adita melihat, tingginya minat terhadap wireless broadband dilatari oleh layanan video call yang ditawarkan oleh 3G kurang mendapatkan sambutan yang cukup baik. Lantas, manajemen Indosat juga berpendapat, tingginya minat konsumen akan wireless broad band disebabkan meningkatnya kebutuhan masyarakat untuk menggunakan internet dalam memenuhi berbagai kebutuhan, termasuk menunjang kebutuhan bisnis.
Onno W. Purbo, pengamat telematika, membenarkan bahwa nantinya akses data dengan kecepatan tinggilah yang akan menjadi killer application dari layanan telepon seluler generasi 3,5 ini. Memang pada awalnya orang sangat menggandrungi video call sebagai layanan unggulan dari 3G. Namun kini cerita pun sudah berganti. Konsumen kini lebih memanfaatkan akses data ketimbang video call.
Nah, kegandrungan orang untuk menggunakan wireless broadband itulah yang tak disia-siakan oleh kalangan operator seluler. Indar Atmanto, Direktur Utama Indosat Mega Media (IM2), mengaku optimistis, sampai akhir tahun ini mereka akan mampu mendapatkan tak kurang dari 12 ribu pelanggan baru. Dengan peningkatan jumlah pelanggan ini, Indar yakin, wireless broadband mampu menahan laju penurunan rata-rata pemasukan per pelanggan alias average revenue per user (ARPU) industri seluler di Indonesia, di masa mendatang.
Dengan lebih dari 6.000 pelanggan wireless broadband-nya ,IM2 mampu menghasilkan ARPU sebesar Rp 350 ribu per bulannya. Jadi pemasukan dari layanan ini mencapai Rp 1,8 miliar per bulan. Jumlah itu belum termasuk ARPU dari data pascabayar Indosat. Sementara itu untuk ARPU data dari PT Excelcomindo Pratama Tbk., Ventura mengatakan bahwa jumlahnya baru Rp 100 ribu.
Nilai keseluruhan ARPU dari layanan pascabayar dan prabayar (blended ARPU) pada awal tahun 2002 mencapai Rp 110 ribu. Namun jumlah tersebut menunjukkan tren menurun. Di awal tahun 2005 blended ARPU GSM sudah mengalami penurunan hingga mencapai Rp 75 ribu. Penurunan itu nyatanya semakin parah dari hari ke hari. Bahkan, di awal tahun 2007 ini, blended ARPU sudah mencapai Rp 50 ribu.

HUKUM PARETO DAN KESAKTIAN GAME ONLINE
Menurut Ventura, penurunan blended ARPU itu bukan semata-mata karena kinerja operator seluler yang turun. Ini disebabkan adanya hukum Pareto. Maksudnya hukum Pareto adalah situasi ketika setiap penambahan pelanggan seluler akan mengurangi jumlah pendapatan operator yang ada (karena pembaginya, yaitu jumlah pelanggan, akan semakin besar). Setiap penambahan satu juta pelanggan baru, ARPU keseluruhan akan mengalami penurunan sebesar seribu rupiah.
Pengamat telematika lainnya, Roy Suryo, melihat, meskipun ceruk data masih terbuka luas, namun berbondong-bondongnya operator seluler menggarap pasar ini akan menunjukkan bahwa mereka sebenarnya panik dengan penurunan blended ARPU di perusahaannya. Ini diperparah lagi dengan kurang suksesnya operator seluler yang ada dalam menggarap pasar content 3G. Sudah begitu, masih ada pula ancaman dari teknologi WiFi serta WiMax.
Roy Suryo berpendapat, untuk mempertahankan ARPU, operator seluler tak harus segera menggelar jarinßgan wireless broadband. Justru Roy melihat bahwa potensi kegagalan dalam me-ngembangkan layanan ini cukup tinggi. Itu disebabkan pengguna wireless broadband adalah orang-orang yang sudah mengerti benar internet. Padahal orang yang paham betul dengan internet jumlahnya masih sedikit.
Jika operator seluler tetap memaksakan wireless broadband untuk dikembangkan, Roy memastikan kejadian yang menimpa Telkom Speedy beberapa waktu yang lalu akan terulang. Pada saat Telkom Speedy dikeluarkan, konsumen banyak menggunakan layanan ini. Namun kenyataannya, kecepatan yang ditawarkan pada saat promosi itu tidak sesuai dengan yang diharapkan. ”Itu membuat konsumen awam kecewa terhadap produk tersebut,” ujar Roy.
Sebenarnya ada cara lain untuk meningkatkan pendapatan operator seluler, yaitu dengan mengoptimalkan layanan content 3G yang sudah ada. Ide yang digagas Roy adalah dengan mengembangkan game online dan video conference yang bekerja sama dengan stasiun TV pada malam hari. Roy sangat yakin keuntungan yang didapat operator ketika serius menggarap sektor ini akan cukup lumayan, yang pada akhirnya akan mampu menahan laju penurunan ARPU.
Betul juga, di Jepang dan Korea, video conference dan (terutama) game online adalah sumber pemasukan yang penting buat operator seluler. Maklum, pada dasarnya, manusia adalah makhluk yang suka bermain. Setiap pria dewasa juga memiliki sisi kekanakan dalam dirinya. Itulah yang kemudian digarap secara serius oleh operator-operator tersebut. Ujung-ujungnya, nilai ARPU bisa terselamatkan. 


Berikan Komentar untuk artikel ini

Edisi 09 - 10 Tahun VI
31 Desember - 6 Januari 2007
www.mnc.co.id