Rabu, 8 September 2010 | Berlangganan Majalah TRUST 
Sub Rubrik:

Mari Berkebun Bersama CT
Para Group

Dikky Setiawan, Wisnu Arto Sobari, dan Intan Rahmawati
 
MANUSIA memang tak pernah merasa puas. Apalagi jika ia seorang pengusaha sukses seperti Chairul Tanjung. Kini, setelah berhasil merambah ke industri televisi dan keuangan, pemilik cum Komisaris Utama Para Group itu ingin mencoba lagi peruntungannya di sektor lain. Selasa pekan silam, usai menghadiri acara presentasi ”Visi Indonesia 2030” di Gedung Bursa Efek Jakarta, Chairul menyatakan minatnya masuk ke sektor agro bisnis. ”Kami sedang menjajaki bisnis perkebunan dan pertanian,” ujarnya.
Chairul menegaskan, sektor agro yang sedang diincarnya meliputi bisnis kelapa sawit dan tebu. Selain itu, ia juga akan membidik komoditi lainnya, seperti karet, cokelat, dan kopi. Sayang, Chairul tak terbuka soal dana investasi yang akan dikucurkannya. Ia hanya bilang, dana itu akan diambil dari internal perusahaan. ”Dana internal selalu siap. Kalau ada kesempatan, kami langsung masuk,” tambahnya. Selain itu, Chairul juga mengaku masih mencari-cari lahan yang cocok untuk usaha perkebunannya tadi.
Konglomerat yang akrab disapa CT itu mengaku tengah membidik lahan di kawasan Indonesia Timur. Bisa di Kalimantan atau Sulawesi. Namun, ia tak menampik jika ada lahan di Jawa dan Sumatra yang bisa diincar. Rencana ekspansi Para Group ke agrobisnis, ini juga mendapat restu dari pemerintah. Achmad Manggabarani, Dirjen Bina Produksi Perkebunan Departemen Pertanian, mengatakan, akhir Juni lalu, CT dan sejumlah stafnya datang ke kantornya untuk berdiskusi soal rencana tersebut.

 Artikel Lain
Akibat Ulah Sindikat
Terpukau Pesona Zidane
Bahan Baku yang Bikin Kusut
Tak Ada yang Tersisa dari Garuda
Mari Berkebun Bersama CT
Kalau Pelanduk Mengancam
Ikhtiar Menggenjot ARPU
Permintaan Terus Berkotek
”Yang Jelas, Kami Sudah Gagal”
Si Putih Ikut Meroket
Menurut Achmad, saat itu adalah kali pertama ia berdiskusi dengan CT tentang perkebunan. Soal niat Para Group masuk ke agrobisnis, Achmad menduga, itu tak lepas dari kedekatan CT dengan kekuasaan. ”Beliau itu kan kerap diajak jalan-jalan oleh Wakil Presiden (Jusuf Kalla). Nah, suatu saat ia berkunjung ke Jawa dan melihat sejumlah pabrik gula. Ia menilai sektor perkebunan adalah bisnis yang menjanjikan,” cerita Achmad.
Achmad tentu mendukung keinginan sang konglomerat. Apalagi, ujar Pak Dirjen, CT merupakan pengusaha dalam negeri. Dengan begitu, ”Kita tidak terlalu bergantung dengan investasi asing untuk memperluas lapangan pekerjaan,” ujarnya. Untuk sementara, lanjut Achmad, Para Group akan masuk ke perkebunan kelapa sawit. ”Jumat pekan lalu, Chairul bersama stafnya pergi ke Kalimantan Tengah untuk mencari lahan kosong untuk perkebunan kelapa sawit,” ungkapnya. Menurutnya, CT ingin memulai usaha ini dari nol, dan bukan membeli lahan yang sudah ada.
Derom Bangun, Ketua Harian Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia, mengatakan, langkah Para Group melebarkan sayap usahanya ke sektor perkebunan, terutama kelapa sawit sangat tepat. Sebab, masa depan industri ini sangat cerah. Maklum, konsumsi dunia akan minyak kelapa sawit (CPO) terbilang besar. Pada tahun lalu saja kebutuhan CPO dunia mencapai 36 juta ton. Pasar sebesar itu, jelas menjadi gairah tersendiri bagi produsen CPO mana pun.
Lagi pula, untuk terjun ke bisnis perkebunan kelapa sawit, juga tak sulit-sulit amat. Berapa pun luas lahan yang ingin dibuka, si pemodal tetap bisa menggelutinya. Hanya saja, menurut Derom, kemampuan pendanaan perusahaan menjadi salah satu faktor keberhasilan berbisnis di sektor ini. Lalu, berapa dana yang harus dikeluarkan Para Group untuk terjun ke bisnis ini?
Menurut hitungan Achmad Manggabarani, untuk masuk ke bisnis perkebunan kelapa sawit yang menguntungkan, paling tidak dibutuhkan lahan sekitar 15 ribu hektare. Investasi per hektare lahannya mencapai Rp 24 juta. Jadi, untuk investasi perkebunannya saja, Para Group harus mengeluarkan dana sebesar Rp 360 miliar. Dana itu belum termasuk untuk membangun minimal tiga pabrik pengolahan sawitnya, yang diperkirakan untuk investasi satu pabrik menelan biaya Rp 70 miliar.

POTENSI LAHANNYA MASIH LUAS
Nah, jika ditotal, investasi yang harus dirogoh Para Group untuk masuk ke sektor perkebunan sawit—dengan luas lahan 15 ribu hektare—nilainya mencapai Rp 570 miliar. Sementara itu, masih menurut Achmad, untuk masuk ke sektor perkebunan tebu, luas lahan yang efisien minimal mencapai lima ribu hektare. Investasi lahan per hektarenya, memang kecil, sekitar Rp 28 juta. Namun, untuk membangun satu pabrik pengolahan tebu berkapasitas 5 ribu ton cane per day (TCD), dibutuhkan dana Rp 1 triliun.
Arum Sabil, Ketua Umum Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI), juga menyambut baik rencana Para Group masuk ke industri tebu. Menurutnya, bisnis tebu saat ini sangat menguntungkan. Sebab, ”Tebu kini tidak hanya diolah untuk bahan baku gula, tapi juga energi alternatif,” katanya. Selain itu, limbah tebu seperti bagas dan blotong, juga bisa dimanfaatkan untuk industri komponen kendaraan. Bagas, misalnya, bisa diolah menjadi kampas rem dan papan partikel. Sedangkan blotong untuk pembuatan pupuk.
Lagi pula, untuk memenuhi kebutuhan gula dalam negeri, Indonesia masih harus mengimpor. Kebutuhan konsumsi gula sedikitnya 2,5 juta ton per tahun. Sementara produksi gula nasional hanya 2,3 juta ton. Karena itu, Arum menyarankan, jika ingin masuk ke agro bisnis tebu, Para Group juga seyogianya mendirikan pabrik gula. Halim Abdul Razak, Ketua Umum Asosiasi Kakao Indonesia, juga mendukung rencana ekspansi Para Group, jika konglomerasi bisnis itu berminat masuk ke perkebunan kakao.
Menurutnya, industri kakao di Tanah Air, memiliki prospek yang bagus. Saat ini, Indonesia berada di peringkat ketiga negara produsen kakao di dunia, setelah Pantai Gading dan Ghana. Namun, masalah yang dihadapi industri kakao nasional adalah serangan hama PBK (Penggerek Buah Kakao), yang hingga saat ini belum teratasi. Akibatnya, kualitas biji kakao menjadi buruk karena kerusakan yang menyebabkan biji dempet dan mengeras, tidak berisi, serta berjamur. ”Masalah ini harus diperhitungkan dengan matang oleh Para Group,” katanya.
Terlepas dari soal itu, sejatinya prospek bisnis perkebunan, terutama kelapa sawit dan tebu, memang cukup lumayan. Maklum, saat ini penggunaan bahan bakar nabati (BBN)—biofuel dan biodiesel—sedang ngetren di sejumlah negara. Nah, kelapa sawit dan tebu bisa diolah sebagai bahan baku BBN. Khusus kelapa sawit, menurut data Pusat Penelitian Kelapa Sawit Indonesia, negeri ini masih memiliki sekitar 26 juta hektare lahan yang berpotensi untuk dikembangkan.
Potensi lahan terbesar berada di kawasan timur Indonesia, di antaranya Papua, yang memiliki potensi hingga 6,3 juta hektare. Lalu, Kalimantan Timur 4,9 juta hektare, dan Riau 3,9 juta hektare. Saat ini, penggunaan lahan di Papua baru sekitar 52 ribu hektare, Kalimantan Timur 206 ribu hektare, dan Riau 1,3 juta hektare. Dari ketiga provinsi itu, hanya Riau yang paling besar menggunakan lahannya untuk dijadikan perkebunan sawit. Jelas, potensi lahan yang luas tadi masih memberi peluang bagi Para Group untuk masuk ke di bisnis ini. Apalagi, luas lahan sawit di Indonesia baru mencapai 5,6 juta hektare.
Persoalannya kini, mampukah Para Group mengeluarkan investasi yang cukup besar untuk masuk ke bisnis perkebunan tersebut? Ini yang belum jelas. Tapi, jika menilik harta pribadi yang dimiliki sang Big Boss, semestinya tidak masalah. Menurut majalah Forbes (edisi September 2006), CT termasuk dalam daftar 40 orang terkaya di negeri ini. Dalam daftar itu, dia bertengger di urutan ke-18. Total kekayaannya mencapai US$ 310 juta (lebih dari Rp 2,8 triliun). Kini, semua memang berada di tangan CT. 


Berikan Komentar untuk artikel ini
Lihat Komentar untuk artikel ini

Edisi 09 - 10 Tahun VI
31 Desember - 6 Januari 2007
www.mnc.co.id