|
|
 |
|
Halo?.. Kijang Satu,.. Dilanjut!..
|
| Agus S. Riyanto, Ahmad Pahingguan, dan Restu Wijaya |
| |
KENDATI tengah dilanda masalah keluarga, Dewi Persik tetap ceria. Senyum dan goyangan artis dangdut ini juga masih menggoda. Namun kenesnya Dewi di layar kaca bukan tampak di acara gosip, melainkan dalam sebuah klip iklan operator telepon bermerek Ceria.
Ceria? Betul. Inilah produk terbaru PT Sampoerna Telekomunikasi Indonesia. Perusahaan ini sekarang benar-benar sudah mengibarkan bendera. Ceria dikumandangkan. Sampoerna Telekom sendiri memakai jaringan seluler CDMA (code division multiple access) di frekuensi 450 megahertz (CDMA 450).
Layanan yang ditawarkan Sampoerna adalah telepon tetap nirkabel (FWA). Maka, mereka pun bersaing dengan layanan telepon rumah (PSTN) dari PT Telkom, Flexi (Telkom), StarOne (Indosat), serta Esia dan Wifone (Bakrie Telecom). Ceria benar-benar menawarkan layanan telepon rumahan dengan handset yang tidak mobile.
Di frekuensi 450 MHz, Ceria adalah pemain tunggal. Tapi, frekuensi ini sejatinya belum bersih benar. Kalangan TNI dan polisi masih kerap menggunakannya untuk komunikasi radio mereka. Maka, boleh jadi Ceria nantinya akan terganggu oleh komunikasi para aparat tersebut. Lagi asyik berhalo-halo, tahu-tahu muncul ungkapan ”kijang satu” atau ”dilanjut!”—khas bahasa polisi.
Mungkin, cerita itu nantinya tak bakal kejadian. Yang jelas, Ceria sebenarnya juga bukan pemain baru. Sebelumnya, produk ini bernama Neon dan dioperasikan oleh PT Mandara Seluler Indonesia. Neon hanya berkumandang di Lampung pada Mei 2004. Dalam perjalanannya, Neon tak bisa berkembang akibat kalah bersaing dengan operator telekomunikasi lainnya. Kemudian Mandara diambil alih oleh Sampoerna pada 2005.
Manajemen baru lantas mengeluarkan produk Ceria menggantikan Neon. Perlahan-lahan, Ceria bangkit. PT Sampoerna lantas menggandeng perusahaan jaringan dari Cina, Huawei Technologies, untuk membangun jaringan CDMA 450 EV-DO di Pacitan, Jawa Timur. Jaringan di kota kelahiran Presiden Susilo Bambang Yudhoyono ini meliputi sekitar 20 menara pemancar (base transceiver station/ BTS). Pengembangan jaringan di Pacitan itu juga melibatkan Qualcomm dari Amerika agar bisa diintegrasikan dengan jaringan yang dimiliki Sampoerna.
Sampoerna juga bekerja sama dengan Axesstel Inc, IndoNet, Departemen Komunikasi dan Informatika, serta Kementerian Negara Percepatan Pembangunan Daerah Tertinggal untuk membangun program Wireless Reach Qualcomm di Way Kanan, Lampung. Mereka membangun laboratorium komputer di beberapa sekolah di Lampung dengan kemampuan akses internetnya.
Pada Juli 2006, Ceria meminta lisensi telepon tetap nirkabel kepada Menkominfo, tapi ditolak. Kemudian setelah Bakrie Telecom dan Mobile-8 diberi lisensi telepon tetap nasional, Sampoerna meminta lagi lisensi itu pada Maret lalu dan disetujui.
Kini, Ceria sudah bisa berhalo-halo di hampir separuh provinsi di Indonesia. Operator ini sudah mulai menancapkan jaringannya di Lampung, Palembang, Bali, Lombok, Jatim, Jateng, Jabar, dan hampir seluruh wilayah di Sumatra. Menurut Suwito, Senior Manager Inter Carrier and Regulatory Sampoerna Telekom, pelanggan Ceria kini sudah mencapai 280 ribu. Umumnya mereka berada di desa-desa. Sebanyak 10% pelanggan Ceria berasal dari perusahaan perkebunan dan pertambakan, seperti PT Dipasena Citra Darmaja.
Sayang, bentangan jaringan Ceria dari Lombok hingga Aceh itu baru dilayani oleh 223 BTS. Tentu saja, jumlah menara pemancar ini sangat minim. Betul, bermain di frekuensi 450 MHz memungkinkan operator bisa hemat pemancar. Tapi, tetap saja angka tadi belum cukup. Sebab, jangkauan setiap menara Ceria hanya mencapai radius 35 kilometer.
SEPERTI DESA MENGEPUNG KOTA
Memang tak gampang bagi Ceria untuk bisa bersaing dengan operator lain yang sudah mapan. Dari sisi kualitas, misalnya. Adanya pemakaian frekuensi 450 MHz oleh apart keamanan tentu bisa mengganggu. Makanya, Ceria cenderung takut bersaing di Jakarta. Bayangkan saja, di ibu kota, jika Ceria punya lima kanal, hanya dua yang lolos dari suara tak diundang. Itu pun kalau mujur. ”Dirjen Postel berjanji, akhir 2007 masalah itu sudah selesai,” tambah Suwito.
Tak hanya itu. Ceria juga memiliki kendala dalam pemasangan BTS di pedesaan. Ada BTS yang lokasinya belum teraliri listrik. Akibatnya, BTS itu menggunakan mesin penggerak listrik berbahan bakar solar yang amat mahal.
Ceria juga sering direcoki oleh pemerintah daerah. Syahdan, beberapa daerah memungut pajak lumayan besar untuk setiap BTS yang dibangun. Pajak tersebut berbeda nilainya di setiap daerah.
Lucunya lagi, di satu wilayah di Sumatra Utara, pemerintah daerah di sana berencana memungut pajak langsung dari pelanggan Ceria. Jadi, setiap pelanggan diwajibkan membayar retribusi beberapa ribu rupiah jika ingin mendapatkan sambungan.
Untunglah, manajemen Sampoerna Telekom tampaknya masih optimistis. Meskipun terbelenggu berbagai masalah, Suwito yakin, Ceria mampu meraih 750 ribu pelanggan tahun depan. Sebab, berdasarkan laporan CDMA Development Group (CDG), pengguna CDMA di dunia selama kuartal II-2006 tumbuh 24%. Jadi pemakai CDMA sekarang sudah sebanyak 335 juta orang. Hingga tahun 2010 ke depan, diperkirakan akan ada 41% pengguna telepon tanpa kabel di seluruh dunia yang memakai teknologi CDMA.
Selain itu, Ceria akan bertarung habis-habisan tahun mendatang dengan banyak membangun BTS. Sampoerna juga mengincar tujuh lokasi dalam tender universal service obligation (USO) atau penyediaan infrastruktur telepon pedesaan. Wilayah yang diincar adalah Kalimantan dan Sulawesi. ”Kami berani bersaing, karena pasar kami di pedesaan. Operator lain takut masuk pedesaan,” kata dia.
Ceria saat ini memang tak mau bermain frontal. Bila operator lain menggarap perkotaan terlebih dahulu, Ceria justru memulai dari pedesaan. Ibaratnya, desa mengepung kota. Di Daerah Istimewa Yogyakarta, misalnya, Ceria mulai dari desa-desa di Gunungkidul dan Bantul sebelum masuk kota Jogja.
Cara itu jelas berbeda dengan strategi Bakrie Telecom. Dengan produk bermerek Wifone (telepon rumahan nirkabel juga), Bakrie Telecom bertarung di kota besar. ”Untuk pelosok desa, kami memang belum dapat menjangkau,” kata Rakhmat Junaidi, Director of Corporate Service PT Bakrie Telecom. Makanya, Rahmat tak terlalu cemas terhadap Ceria. Hingga akhir tahun, Bakrie Telecom menargetkan 3,6 juta pelanggan. Tahun depan, sebanyak 4,5 juta pelanggan.
Memang berat bagi Ceria jika harus berhadapan langsung dengan Telkom dan Bakrie Telecom. Masuknya Ceria ke pasaran saat ini jelas merupakan satu keunggulan tersendiri. Ceria bisa lebih cepat memasuki pasar telepon rumahan nirkabel ketimbang Mobile-8 dan Smart (milik Sinarmas Grup) yang juga akan memperoleh izin telepon tetap nasional. Smart baru akan gentayangan di pasaran telepon rumahan pada akhir 2008.
Mas Wigrantoro Roes Setyadi, Ketua Masyarakat Telematika Indonesia (Mastel), menyarankan, Ceria sebaiknya tetap fokus bermain di pasar telepon rumahan nirkabel. Sebab, jika bermain ke telepon bergerak, maka Ceria akan keteteran bersaing dengan operator besar berteknologi CDMA dan GSM yang sudah mapan.
Berikan Komentar untuk artikel ini
Lihat Komentar untuk artikel ini
|
|
 |
|
 |
Edisi 09 - 10 Tahun VI 31 Desember - 6 Januari 2007 |
 |
|
 |
|