Rabu, 8 September 2010 | Berlangganan Majalah TRUST 
Sub Rubrik:

Makin Hari Makin Tipis
Kayu Lapis

Dikky Setiawan dan Wisnu Arto Sobari
 
IRONIS. Abbas Adhar, Wakil Ketua Umum Asosiasi Panel Kayu Indonesia (Apkindo), bercerita, ekspor kayu lapis nasional terus menurun. Padahal, permintaannya justru terus meningkat. Selain itu, Indonesia yang dulu merupakan penguasa pasar kayu lapis dunia, sekarang tidak mampu lagi bersaing dengan Malaysia dan Cina yang pasokan bahan bakunya bergantung dari kita.
Abbas menuturkan, pada tahun 2000 silam, ekspor kayu lapis nasional pernah mencapai 6,9 juta meter kubik dengan nilai US$ 2,2 miliar. Malaysia dan Cina belum ada apa-apanya. Lalu, pada 2004, ekspor kayu lapis Indonesia berkurang jadi 5,11 juta meter kubik. Malaysia baru 4,35 juta meter kubik dan Cina 4,29 juta meter kubik. Setahun kemudian, Indonesia hanya mampu mengekspor 3,44 juta meter kubik. Ekspor kayu lapis Malaysia justru meningkat menjadi 4,53 juta meter kubik dan Cina 5,54 juta meter kubik.
Tahun lalu kita semakin tertinggal. Kayu lapis yang mampu diekspor tak sampai tiga juta meter kubik dengan nilai US$ 1,3 miliar. Malaysia sudah bisa menjual 4,95 juta meter kubik dan Cina—jangan kaget—mampu mengekspor 8,30 juta meter kubik!

 Artikel Lain
Garuda Melaba, tapi Merana
Jakarta Sudah Tak Tahan
Halo, Semua pun Tersenyum
Bisa Gila atau Enak, Gila…
Makin Hari Makin Tipis
Halo?.. Kijang Satu,.. Dilanjut!..
Sebuah Asa di Selat Sunda
Beleid Timah nan Panas
Izin Didapat, Lahan Telantar
Kalau Berani, Sendirian
Sekarang? Sudah, deh. Habis kita. Ekspor kayu lapis Indonesia diperkirakan hanya 1,3 juta meter kubik. Jumlah itu, ujar Abbas, bahkan di bawah volume ekspor kayu lapis Indonesia ke Cina pada tahun 1992, yang pernah mencapai 1,6 juta meter kubik. Kini, justru kita yang menjadi salah satu pasar ekspor kayu lapis Negeri Tirai Bambu tersebut.
Menyedihkan, memang. Syahdan, isu pembalakan liar memang menjadi faktor pemicu sulitnya industri mendapatkan bahan baku. Akibatnya, kapasitas produksi kayu lapis terus merosot. Jika pada 2004 produksinya masih mencapai 5,1 juta meter kubik, pada 2005 hanya 3,4 juta meter kubik. Pada 2006, produksi itu 2,9 juta meter kubik. ”Tahun ini, tidak lebih dari 1,8 juta meter kubik,” ujar Abbas.
Turunnya jumlah produksi itu jelas mencerminkan kolapsnya industri kayu lapis nasional. Menurut Abbas, saat ini, industri kayu lapis yang beroperasi di Indonesia tinggal 67 perusahaan. Padahal, pada 2002 jumlahnya masih mencapai 108 unit. Celakanya lagi, ”Sebagian besar industri yang masih ada kadang beroperasi kadang tidak,” ujarnya.
Para anggota Apkindo sendiri bukannya tak mencoba mencari solusi untuk bertahan. Mereka sudah menekan biaya produksi. Setelah krisis berlalu, industri kayu lapis nasional mulai menggunakan bahan baku dari kayu berukuran sedang dengan diameter 30-49 sentimeter (cm). Sebelumnya, industri ini memakai kayu bulat berdiameter di atas 50 cm.
Namun, strategi itu tak jua mengangkat industri kayu lapis nasional keluar dari kesulitan. Bahkan, berbagai kebijakan pemerintah soal tata usaha kayu yang datang membebani. Tarif dana reboisasi (DR), misalnya. Departemen Kehutanan (Dephut) menetapkan DR bahan baku kayu bulat sedang (diameter 30-49 cm) US$ 16 per meter kubik. Lalu, biaya provisi sumber daya hutan (PSDH) Rp 64 ribu per meter kubik.
Abbas meminta agar biaya DR diturunkan menjadi US$ 5 per meter kubik dan PSDH dipangkas 50%. Namun, permintaan itu sepertinya akan bertepuk sebelah tangan. ”Setiap tahun, tarif DR dan PSDH memang selalu naik,” ujar Achmad Fauzi Mas’ud, Kepala Pusat Informasi Dephut. Lagi pula, ujar Achmad, nilai tarif DR dan PSDH bukan hanya ditentukan oleh Dephut, tapi juga Departemen Keuangan dan Perdagangan.
Achmad bahkan menegaskan DR dan PSDH bisa naik lagi tahun depan. ”Kalau itu benar terjadi, maka industri kayu lapis nasional yang dibangun dengan investasi US$ 3,3 miliar hanya tinggal kenangan,” ujar Abbas Adhar. Tragis. 


Berikan Komentar untuk artikel ini

Edisi 09 - 10 Tahun VI
31 Desember - 6 Januari 2007
www.mnc.co.id