|
|
 |
|
Bisa Gila atau Enak, Gila…
|
| Hardy R. Hermawan, Priyanto Sukandar, dan Wisnu Arto |
| |
INI semakin menggelisahkan. Harga minyak di pasar dunia, yang bertahan di level US$ 95 per barel, telah memaksa Pertamina untuk mempercepat rentang waktu perubahan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi yang dijualnya. Tadinya, perubahan itu dilakukan setiap bulan. Kini, hanya dalam waktu dua minggu, harga BBM itu bisa bergeser. Per 15 November silam, harga bensin Pertamax sudah dipatok Rp 6.950—naik dari Rp 6.250 sebelumnya.
Harga BBM industri—seperti minyak solar, minyak bakar, dan minyak diesel—juga naik rata-rata 10%. ”Ini menyesuaikan dengan tren harga minyak dunia,” ujar Djaelani Sutomo, Kepala Divisi BBM Pertamina. BUMN migas itu selalu memakai harga produk BBM di pasar Singapura, Mean of Platts Singapore (MOPS), sebagai acuan. Anehnya, BBM premium industri dan minyak tanah industri ternyata tak ikut-ikutan naik. ”Saya juga tidak tahu kenapa,” kata Djaelani.
Pertamina memang terlihat tergopoh-gopoh kala menaikkan harga BBM nonsubsidi ini. Bahkan, kenaikan itu juga dilakukan tanpa sosialisasi terlebih dahulu. Perubahan rentang waktu penyesuaian harga—dari sebulan menjadi dua minggu—juga terkesan ujug-ujug. Padahal, bukan ini kali saja Pertamina mengubah rentang penyesuaian itu. Maret 2006, langkah itu juga pernah dilakukan. Tapi, Pertamina mengumumkan dulu rencananya itu sebelumnya.
Wisnu Untoro, Kepala Divisi Komunikasi Pertamina, mengaku belum melakukan sosialisasi perihal kenaikan BBM industri ini. Ya, ngerti aja, gimana mau sosialisasi? Wong ia sendiri baru menerima surat pemberitahuan kenaikan tersebut Kamis kemarin—pas perubahan harga itu diumumkan.
Tak ayal, perubahan harga itu membuat kesal para pengusaha. Sofjan Wanandi, Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo), mengaku amat kaget mendengar adanya perubahan tersebut. Sofjan geram. Soalnya, cara Pertamina ini akan membuat pengusaha sulit menghitung biaya produksi. Lebih susahnya lagi, akan muncul ketidakpastian dalam dunia usaha. ”Kami terikat kontrak yang tak gampang diubah. Apalagi dalam tempo dua mingguan,” ujarnya.
Celakanya lagi pasokan minyak di negeri ini dimonopoli oleh Pertamina. Awal November kemarin, Pertamina juga telah menaikkan harga BBM industri senilai 2,9% hingga 6,4%. Pertamina juga yang memasok BBM untuk PLN. ”Saya takut PLN lalu ikut-ikutan menaikkan tarif listrik,” ujar Sofjan. Kalau sudah begini, katanya, pengusaha bisa gila (sic).
Sofjan mungkin benar. Naiknya harga minyak terasa begitu menakutkan. PLN sendiri sebagai pemasok listrik begitu cemas akan naiknya harga minyak. Eddie Widiono, Direktur Utama PLN, menerangkan, jika harga minyak terus mahal, maka kebutuhan subsidi PLN akan membengkak menjadi Rp 34 triliun. Soalnya, biaya produksi PLN untuk menghidupkan sejumlah pembangkit dieselnya akan membengkak pula. Pada tahun 2007 ini, biaya subsidi PLN ditetapkan sebesar Rp 32 triliun.
Kenaikan harga minyak itu juga membuat pengusaha makanan ketar-ketir. Thomas Darmawan, Ketua Umum Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia (GAPMMI), mengatakan, banyak anggotanya yang lunglai akibat naiknya harga BBM kali ini. Soalnya, setiap kenaikan 10% harga BBM pasti akan diikuti oleh membengkaknya biaya produksi antara 5% hingga 10%.
Kenaikan biaya produksi itu pada akhirnya bisa mendesak naiknya harga jual. Kalau sudah begitu, tentu tak hanya pengusaha yang bisa gila. Konsumen pun begitu. Hari gini, gitu lo.
YANG KEENAKAN JUGA ADA
Gilanya lagi, kenaikan harga minyak dunia itu juga tak diyakini karena alasan fundamental. Mohamed bin Daen Al Hamli, Presiden Konferensi OPEC (kartel negara eksportir minyak) yang juga Menteri Energi Saudi Arabia, juga menilai, harga minyak dunia tidaklah mencerminkan realitas sebenarnya. Menurut Al Hamli, semua ini sudah sangat spekulatif. Celakanya lagi, OPEC merasa tak mampu melakukan kontrol atas pergerakan harga tersebut. ”Ini benar-benar berbahaya,” ujarnya.
Al Hamli, yang sebulan lalu masih terlihat pede, kini memang sangat cemas. Maklum, tanpa diiringi faktor fundamental kenaikan harga minyak ini bisa diikuti oleh penurunan harga yang tajam juga. Kalau sudah begitu, alamat celaka bagi negara produsen.
Lalu, sampai kapan minyak akan terus menguat harganya? Entahlah. Yang pasti, ternyata ada juga yang diuntungkan oleh kenaikan banderol bahan bakar fosil ini. Lonjakan harga minyak—yang diduga bisa menembus level psikologis US$ 100 per barel—itu telah membuat banderol saham berbasis energi di seluruh dunia ikut menguat. Dan itu saja sudah bisa dijadikan momentum positif oleh kaum spekulan untuk meraih gain di pasar modal.
Di dalam negeri, mereka yang menangguk untung dari mahalnya minyak juga banyak. Produsen minyak jangan ditanya lagi. Mereka sih ”panen uang” setiap hari. Di luar itu, ada juga para produsen gas yang ikut kecipratan rezeki minyak.
Kalila, misalnya. Anak usaha PT Energi Mega Persada ini adalah produsen gas yang ikut menikmati kenaikan harga jual gas—seiring naiknya harga minyak. ”Kami memang mendapatkan kenaikan income,” ujar Setiabudi Djaelani, Exploration Manager Kalila. Kenaikan itu bahkan juga bisa mengompensasikan semakin mahalnya biaya sewa peralatan dan biaya produksi yang lain. Padahal, Kalila menjual gas untuk pasar domestik belaka—yang harga jualnya tidak kelewat mahal. ”Kalau kami bisa ekspor, tentu pendapatan itu akan semakin tinggi,” ujar Djaelani.
Tak hanya pemain gas, pemain batu bara juga ikut terciprat rezeki. Eddie Soebari, Direktur Keuangan PT Bumi Resources (produsen batu bara), memang menyangkal naiknya harga batu bara terkait dengan naiknya harga minyak. Tapi, tetap saja, harga batu bara sekarang sangat bagus—dan pendapatan Bumi Resources ikut terkerek naik.
Begitu juga dengan pendapatan PT Arpeni Ocean Line. Perusahaan ini bergerak di sektor transportasi laut—mengangkut minyak dan bahan tambang lain. Oentoro Surya, Direktur Utama Arpeni, mengakui, kenaikan harga minyak telah membawa keuntungan besar baginya. Maklum, selain ia bisa menaikkan harga sewa secara lumayan, jumlah muatan yang diangkut pun mengalami kenaikan berarti. Sejak 2003, kenaikan volume angkutan itu mencapai 60% per tahun.
Keuntungan besar juga didapat para pialang minyak. Dengan bendera perusahaan trading, mereka panen saat ini. Maklum, margin keuntungan mereka biasanya dihitung secara persentase dari hasil kali harga minyak dengan volume yang dijual. Pramono Dewo, Direktur Utama Djava Energy, perusahaan trading, mengaku biasa mendapat margin laba 1,5% dari setiap tetes minyak yang dijual.
Itu artinya, mereka bisa mendapat margin senilai US$ 1,3 per barel (jika harga minyak US$ 90 per barel). Padahal, volume minyak yang mereka mainkan acap mencapai belasan juta barel setiap bulannya. Wow! Enak, gila…
Berikan Komentar untuk artikel ini
|
|
 |
|
 |
Edisi 09 - 10 Tahun VI 31 Desember - 6 Januari 2007 |
 |
|
 |
|