|
|
 |
 |
|
 |
|
|
Risiko Tinggi di Jalan Tol
|
| Dikky Setiawan, Ahmad Pahingguan, Hendra Gunawan, Wisnu Arto Subari, dan Julianto |
| |
SENYUM sumringah tampak jelas di bibir Winten Peradika, Rabu pekan lalu. Maklum, di Hari Pendidikan Nasional itu, Direktur Utama PT Citra Washpphutowa ini baru saja melakukan penandatanganan perjanjian kredit sindikasi (PKS) dengan tiga bank, yakni Bank Mandiri, Bank BRI, dan Bank Jabar.
Ketiga bank pelat merah itu sepakat mengucurkan pinjaman Rp 1,795 triliun untuk membiayai pembangunan tol ruas Depok-Antasari yang akan digarap PT Citra Washpphutowa. Total investasi jalan tol sepanjang 22,82 kilometer itu mencapai Rp 2,63 triliun. Penandatanganan PKS itu sendiri dilakukan di Kantor Pusat Bank Mandiri, Jakarta.
Citra Washpphutowa adalah satu di antara sembilan investor yang berhasil melakukan financial closing untuk sembilan ruas tol di tahun ini. Perusahaan ini merupakan gabungan dari PT Citra Marga Nusaphala Persada, PT Waskita Karya, PT Pembangunan Perumahan, PT Hutama Karya, dan PT Bosowa Trading. Belakangan, Bosowa Trading mundur dari konsorsium tersebut.
Para pemain jalan tol menilai, masuknya konsorsium tiga bank itu terbilang wajar. Ruas Depok-Antasari memang terbilang prospektif. Letaknya yang di pinggir Ibu Kota—dengan penduduk yang dinamis—tentu merupakan nilai lebih. Sudah begitu, para kontraktornya juga berpengalaman di bisnis tol.
Sebelas dua belas dengan ruas tol Cinere-Jagorawi (Cimanggis). Proyek ini ditangani oleh PT Translingkar Kita Jaya—bentukan PT Transindo Karya Investment, Waskita Karya, PT Jalan Tol Lingkar Luar Jakarta, serta PT Kopnatel. Di ruas ini, Bank Central Asia (BCA) bersedia mengucurkan kredit hingga Rp 584 miliar. Bank Mandiri juga urunan sebesar Rp 887 miliar.
Selain itu, prospek jalan tol yang cukup bagus juga ada di ruas Semarang-Solo (80 km), Gempol-Pasuruan (32 km), dan Bogor Ring Road (11,5 km). Tiga-tiganya dikelola oleh PT Jasa Marga dan mendapat kucuran dana dari Bank Mandiri, BNI, dan Bank BRI senilai Rp 7 triliun lebih.
Okke Malina, Sekretaris Perusahaan PT Jasa Marga, mengatakan, pembangunan konstruksi ruas Bogor Ring Road akan dimulai pertengahan tahun ini. Lalu, untuk ruas Semarang-Solo dan Gempol-Pasuruan pelaksanaannya dimulai pada 2008 mendatang. ”Seluruh proyek kami harapkan selesai dan bisa beroperasi pada 2009,” tutur Okke.
Ruas Surabaya-Mojokerto sepanjang 37 kilometer juga lumayan. Selain biayanya tidak kelewat besar, proyek yang sempat mangkrak ini juga menghubungkan kota terbesar kedua di Indonesia dengan daerah satelitnya. Jadi, layak jika BNI, BRI, dan Bukopin patungan hingga Rp 1,562 triliun untuk PT Marga Nujasumo Agung—selaku kontraktornya.
Lain ceritanya dengan ruas Kanci-Pejagan (34 km), dan Kertosono-Mojokerto (38 km). Menurut Hisnu Pawenang, Kepala Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT), dua proyek itu juga sudah melakukan financial closing. Kanci-Pajagan dikerjakan oleh PT Semesta Marga Raya dan Kertosono-Mojokerto dikerjakan PT Marga Hanurata Intrinsic.
Lokasi ruas Kanci-Pajagan dinilai tak kelewat prospektif. Kontraktornya, PT Semesta Marga Raya, juga muka baru di bisnis tol. Makanya, agak aneh ketika BNI dan BRI mau patungan senilai Rp 1,381 triliun untuk proyek ini. ”Bank Mandiri menolak ikut,” ujar seorang bankir.
Tapi, jangan salah, Semesta Marga adalah bagian dari Grup Bakrie, yang terkait dengan Aburizal Bakrie, Menko Kesra RI saat ini. Makanya, jangan kaget kalau Semesta Marga sukses menggaet BNI dan BRI untuk mendanai proyeknya. ”Kalau Mandiri memang agak kurang suka dengan Grup Bakrie,” ujar sang bankir tadi.
HATI-HATI BANK, HATI-HATI...
Gatot Arya Putra, ekonom Indonesia Research & Strategic Analysis, mengatakan risiko kredit BNI dan BRI dalam proyek ini sangatlah besar. ”Pengucuran kredit itu berpotensi menimbulkan conflict of interest. Sebab, BNI dan BRI adalah bank BUMN,” ujarnya. Menurut Gatot, kedua bank itu tak perlu memberikan kreditnya untuk pembiayaan jalan tol. Lagi pula, katanya, BRI sebetulnya bank yang fokus kepada bisnis mikro dan UKM.
BRI juga memiliki loan deposit ratio (LDR) 78% pada 2006. Dengan LDR setinggi itu, seharusnya BRI memiliki posisi yang kuat untuk menolak membiayai proyek jalan tol, karena sudah menjalankan perannya dalam menggerakkan sektor riil. ”Mestinya direksi dan komisaris BRI tak perlu takut dipecat lantaran menolak memberikan kreditnya kepada debitor yang tak berpengalaman di bidangnya,” ujar Gatot.
Alih-alih menghindar dari proyek tol, BRI justru ikut terlibat dalam proyek di ruas Mojokerto-Kertosono. Bersama BNI dan Bukopin, konsorsium bank ini mengucurkan dana Rp 1,548 triliun kepada PT Marga Hanurata Intrinsic—perusahaan patungan PT Hanuarata (terkait keluarga Cendana) dan PT Setdco Intrinsic milik Setiawan Djodi.
Di luar itu, ada sembilan ruas lain yang sempat terbengkalai sewaktu krisis yang juga terus berupaya melakukan financial closing. Sebut saja, ruas Cikampek-Palimanan sepanjang 116 km. PT Lintas Marga Sedaya, selaku pemegang izin proyek tersebut, kini tengah membidik Bank Mandiri dan BCA untuk dijadikan kreditor pembiayaan pembangunan jalan tol yang akan digarapnya.
Steve Ginting, komisaris Lintas Marga, menegaskan, negosiasi dengan kedua bank itu sudah memasuki tahap akhir. Ia optimistis, hasilnya akan oke. Ruas Cikampek-Palimanan diperkirakan akan menelan biaya investasi antara Rp 6 triliun hingga Rp 7 triliun. ”Kami meminta komitmen pendanaan dari bank sebesar Rp 5 triliun,” ujarnya.
Selain ke Mandiri dan BCA, tambah Steve, pihaknya juga mencari dukungan modal dari Bank Niaga dan LippoBank. ”Bank Niaga saya dengar sudah menyatakan berminat,” tuturnya.
Benar begitu? Entahlah. Kaum bankir swasta tentu tidak mudah menggelontorkan duitnya untuk proyek yang risikonya tinggi itu. Apalagi, perusahaan milik Sandiaga Uno ini tergolong minim pengalaman di bisnis tol.
Iman Sugema, Direktur International Center for Applied Finance and Economics (InterCafe), juga mencemaskan polah para bankir yang cenderung kurang berhati-hati dalam membiayai proyek tol. ”Takutnya, para pemain baru jalan tol ini hanya melakukan strategi kick and run saja,” tutur Iman kepada Intan Rahmawati dari TRUST. Kick and run? Kayak maen bola aja... o
Berikan Komentar untuk artikel ini
|
|
 |
|
 |
Edisi 09 - 10 Tahun VI 31 Desember - 6 Januari 2007 |
 |
|
 |
|