Rabu, 8 September 2010 | Berlangganan Majalah TRUST 
 
 

Selamanya Jadi Incaran

Dikky Setiawan
 
TJIA KIAN LIONG mungkin bukan nama yang akrab di telinga kita. Tapi, William Soeryadjaya? Siapa yang tak pernah mengenalnya. Tjia Kian Liong adalah nama lahir William. Taipan kelahiran Majalengka, Jawa Barat, 85 tahun silam itu adalah pendiri PT Astra International, konglomerasi usaha yang memiliki jejaring bisnis di Tanah Air, mulai dari otomotif, jasa keuangan, agrobisnis, hingga jasa infrastruktur.
Imperium Astra bermula pada 1957. Kala itu, bersama dua orang saudaranya, Tjia Kian Tie (almarhum) dan Benyamin Arman Soeryadjaya, William mendirikan usaha dagang kecil-kecilan. Awalnya, sektor bisnis yang digelutinya adalah perdagangan minuman ringan dengan merek dagang Prem Club. Dari bisnis inilah, berkah melimpah menghampiri Astra. Keuntungan yang didapat dijadikan sebagai modal tambahan usaha.
Jenis dagangan tiga saudara itu pun bertambah hingga ke ekspor kopra, minyak sereh, dan kenanga. Sejak itu, kesuksesan terus mewarnai perjalanan Astra. Pada tahun 1957, Astra International resmi berdiri. Lalu, di tahun 1960, usaha Astra mulai merambah ke impor alat berat, seperti mesin dan lainnya. Puncaknya, pada 1968, Astra dipercaya menjadi pemasok 800 unit truk merek Chevrolet dari Amerika Serikat. Inilah, tonggak sejarah masuknya Astra di bisnis otomotif.

 Artikel Lain
Saudi Masuk, Saudi Terhadang
Perahan Bernama Danareksa
Welcome Back, Che Wei
Mundur karena Komitmen
Selamanya Jadi Incaran
Pekatnya Bau Temasek di Astra
Uniquely Singapore’s Business
Hedging untuk Siapa?
Tak Lagi Seperti Dulu
Rasa Cemas Itu Masih Ada
Sejumlah prinsipal otomotif asing pun tergiur mengadakan kerja sama dengan Astra. Pada 1970, Toyota Motors Jepang menunjuk Astra untuk mengageni distribusi mobil merek Toyota produksinya. Tak mau ketinggalan, pihak Honda dan Fuji Xerox (produsen mesin fotokopi) dari Negeri Matahari Terbit itu juga menunjuk Astra sebagai agen produknya di Indonesia.
Pada 1970, sedikitnya 72 perusahaan telah bernaung di bawah bendera Astra. Bahkan, pada 1992, jumlahnya membengkak menjadi sekitar 300 perusahaan yang bergerak di berbagai sektor. Sayang, di tahun itu pula, lonceng kematian harus berdentang di markas Astra. Pada 14 Desember 1992, pemerintah melikuidasi Bank Summa, milik Edward Soeryadjaya (putra sulung William), lantaran terbelit utang. Salah satu pinjaman Edward adalah ke Handelsbank Jerman sebanyak 150 juta DM. Padahal, aset Summa tak mampu menutupi utang tersebut. Syahdan, total utang Summa ke sejumlah pihak mencapai Rp 1,5 triliun.
Di kala perahu Summa oleng. William turun tangan membantu kesulitan Edward. Tak segan-segan, William menjual sahamnya di Astra. Bahkan, ia terpaksa harus menjualnya di bawah harga pasar (ketika itu dari Rp 10.000 menjadi Rp 7.000 sampai Rp 8.000 per saham). Sejumlah konglomerat nasional—kabarnya mereka sengaja merekayasa kejatuhan Bank Summa demi mencaplok saham Astra—mendapatkan perusahaan milik William tersebut.
Pada tahun 1996, kerajaan bisnis Astra telah berada dalam genggaman ”The Big Five.” Maka, tercatatlah Putra Sampoerna yang menguasai 14,67% saham Astra. Ada pula Bob Hasan (8,83%), Prajogo Pangestu (10,68%), Toyota Jepang (8,26%), Kelompok Salim (8,19%), dan Usman Atmadjaja (5,99%). Sisanya tersebar di tangan publik.
Namun, konsorsium itu tak lama menguasai Astra. Di saat krisis, Astra oleng lantaran aset para konglomerat di Astra dijadikan jaminan utang para konglomerat itu di sejumlah bank yang dirawat Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN). Astra pun masuk BPPN. Pada tahun 2000, di bawah kepemilikan BPPN, Astra dikomandani Rini Soewandi. Performanya kala itu sudah lumayan membaik.
Akhirnya, pada Maret 2003, sekitar 39,5% saham Astra dikuasai oleh konsorsium Cycle & Carriage Mauritius yang menjadi pemenang ketika BPPN menjual saham entitas bisnis ini. Pada tahun 2004, C&C Mauritius menambah porsi kepemilikan sahamnya di Astra hingga 41,76%. Pada akhir 2004, kepemilikan C&C Mauritius di Astra dibeli oleh Jardine Cycle & Carriage. (JCC). Lalu, kepemilikan saham JCC di Astra meningkat hingga 50,11%.
Kini, kalau JCC sudah dikuasai Temasek, maka semakin panjanglah daftar mereka yang pernah menguasai Astra. Dan entah sampai kapan, daftar itu akan berhenti memanjang. 

Dari Opium ke Otomotif

Agus S. Riyanto

JARDINE Cycle & Carriage (JCC) adalah perkawinan dua perusahaan yang telah ada ratusan tahun lalu. Jardine-Matheson Co. didirikan oleh Scot William Jardine dan James Matheson di Hong Kong pada 1832. Perusahaan ini bergerak di bidang perdagangan teh dan opium. Seiring waktu, perusahaan ini berkembang ke segala sektor, termasuk perkebunan, keuangan, dan kargo.
Lantas, Cycle & Carriage adalah perusahaan bentukan The Chua bersaudara pada 1899 di Malaysia. Pada tahun 1926, kantor pusat Cycle & Carriage pindah ke Singapura. Perusahaan ini memperoleh izin untuk menjual Mercedes Benz di Singapura dan Malaysia di tahun 1951. Kemudian memegang penjualan Mitsubishi, Proton, Kia, dan Mazda di dua negara semenanjung Melayu tersebut.
Anak usaha Jardine-Matheson, Jardine Strategic Holdings Ltd, membeli 16% saham Cycle & Carriage, pada 1992. Dalam transaksi itu, Jardine bersaing dengan PT Astra Otoparts—anak usaha PT Astra International. Lambat laun, saham Jardine di Cycle & Carriage bertambah. Namanya lantas diubah menjadi JCC. Kini Jardine adalah pengendali perusahaan ini dengan 84% saham.
Tatkala krisis ekonomi merebak di Asia, JCC justru tampil menjadi perusahaan raksasa. Unit usaha mereka di Mauritius, Cycle & Carriage Mauritius, sukses menganvaskan pesaing-pesaingnya dalam tender penjualan saham PT Astra International oleh Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN), Februari 2000 silam. C&C Mauritius kala itu berkongsi dengan Government Investment Corp. dan Batavia Management Ltd.
Rival C&C Mauritius kala itu bukan main-main: Quantum Fund milik pialang ternama Amerika, George Soros. Quantum menawar melalui Indonesia Restructuring Capital Ltd (IRCL), anak perusahaan PT Bhakti Investama. Sebanyak 14,5% saham Bhakti sendiri, ketika itu, dimiliki Soros.
Pada tahun 2004, C&C Mauritius menambah porsi kepemilikan sahamnya di PT Astra International hingga 41,76%. Pada akhir 2004, kepemilikan C&C Mauritius di Astra dibeli oleh JCC. Kemudian kepemilikan saham JCC di Astra terus meningkat hingga 50,11%.
Di Indonesia, JCC juga memiliki saham PT Tunas Ridean Tbk. sebesar 37%. JCC juga memiliki Cycle & Carriage Limited Group Properties Sdn. Bhd di Malaysia (79%), Cycle & Carriage (Thailand) Ltd, Cycle & Carriage Automotive Pte Ltd, Cycle & Carriage Automotive Services Pty Ltd (Australia), Cycle & Carriage Bintang Berhad (Malaysia; 59%), Cycle & Carriage Industries Pte Limited, Cycle & Carriage Kia Pte Ltd, Cycle & Carriage Mitsu (Thailand) Ltd, dan MCL Land Limited (66%).
Nah, selama 2006, Astra memberi kontribusi kepada JCC sebesar US$ 208 juta atau senilai Rp 1,87 triliun. Sementara kontribusi Astra non-otomotif kepada JCC sebesar US$ 104 juta atau Rp 936 miliar.
Penyebab turunnya setoran ke JCC itu, karena laba bersih Astra dan anak perusahaannya anjlok 32% dari Rp 5,5 triliun pada 2005 menjadi hanya Rp 3,7 triliun pada 2006. Penyebabnya, melemahnya daya beli konsumen hingga September 2006. Sementara pendapatan bersih Astra sepanjang tahun lalu mencapai Rp 55,5 triliun, turun 10% dibandingkan 2005 yang sebesar Rp 61,7 triliun.
Selain menjual dan merakit mobil, Astra juga memiliki beberapa anak perusahaan. Di lembaga pembiayaan, total nilai pembiayaan PT Federal International Finance, Astra Credit Companies, dan PT Toyota Astra Financial Services sebesar Rp 19,1 triliun. Sementara PT Astra Agro Lestari yang bergerak di bidang penanaman, pemanenan, dan pemrosesan kelapa sawit, membukukan laba bersih Rp 787 miliar pada 2006.
Perusahaan ini memiliki 36 perkebunan sawit yang tersebar di Sumatra, Kalimantan, dan Sulawesi dengan total lahan tanam lebih dari 216 ribu hektare, 17 pabrik pengolahan CPO, dan sebuah kilang di Medan yang memproses CPO menjadi olein. 


Berikan Komentar untuk artikel ini

Edisi 09 - 10 Tahun VI
31 Desember - 6 Januari 2007
www.mnc.co.id
  Copyright © 2002-2006 Majalahtrust.com. All Rights Reserved. Design by Proweb Indonesia