Jumat, 10 September 2010 | Berlangganan Majalah TRUST 
 
 

Mundur karena Komitmen

Hardy R. Hermawan, Intan Rachmawati, Priyanto Sukandar, Wisnu Arto Subari, dan Teddy Unggik
 

LIN CHE WEI mengaku banyak yang tak suka ia menjabat Direktur Utama PT Danareksa. Maka, Kamis silam, ia pun mundur dari posisi tersebut. Isu mundurnya Che Wei sudah marak sejak dua minggu sebelumnya. Syahdan, jika tidak mundur, pria muda bertubuh tambun ini terancam kena pemecatan oleh pemegang saham. Gara-garanya, Che Wei membuat cabang Danareksa di Cina—dan langkah itu dilakukan tanpa persetujuan dewan komisaris.
Namun, kabar itu ia bantah keras. Che Wei bilang, tak ada ancaman pemecatan. Pembukaan kantor di Cina juga tidak bermasalah. Toh, yang melakukannya adalah PT Danareksa Sekuritas, anak usaha Danareksa. Jadi, Komisaris Danareksa tak perlu dimintakan izinnya.

 Artikel Lain
Asing Didamba, Asing Dipangkas
Saudi Masuk, Saudi Terhadang
Perahan Bernama Danareksa
Welcome Back, Che Wei
Mundur karena Komitmen
Selamanya Jadi Incaran
Pekatnya Bau Temasek di Astra
Uniquely Singapore’s Business
Hedging untuk Siapa?
Tak Lagi Seperti Dulu
Lantas, kenapa harus mundur? Kalau hanya karena banyak orang yang tak suka, apa pula urusannya? Sayang, bahkan seorang Sofyan Djalil, Menteri Negara BUMN, juga mengaku tak paham alasan itu. Menurut Sofyan, alasan tersebut bersifat sangat pribadi. ”Hanya Lin Che Wei sendiri yang tahu,” katanya.
Buramnya informasi membuahkan rumor. Maka, di pasar modal tersiar kabar: Che Wei mundur karena diancam akan diproses secara hukum dalam kasus divestasi saham Peru-sa-haan Gas Negara (PGN). Sekadar informasi, saham PGAS diduga ditekan harganya ke bawah untuk mencapai target tertentu—sebelum saham pe-merintah di PGN dijual, akhir 2006 silam. Danareksa menjadi salah satu penjamin divestasi itu. Diduga, Danareksa ikut mengguyur saham ke pasaran agar harganya tertekan. Kini, Kejaksaan Agung dan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mulai mengusut kasus itu.
Che Wei sendiri membantah terlibat dalam penggorengan saham PGN. Ia justru mengaku kecewa kepada manajemen PGN yang tak memberikan informasi memadai seputar apa yang terjadi di perusahaan tersebut. Informasi itu menyangkut soal keterlambatan proyek pipanisasi gas di Sumatra.
Seorang Direktur Danareksa juga tak yakin jika kasus PGN yang melatari mundurnya Che Wei. Ia bilang, kasus itu tak ada apa-apa. ”Lihat saja, manajemen PGN dan Bahana (PT Bahana Sekuritas, penjamin divestasi bersama Danareksa, red) ternyata tenang-tenang saja. Padahal kalau diusut, mereka juga terlibat,” katanya.
Tapi, kabar itu tak berhenti sampai di sana. Dugaan lain muncul: Che Wei mundur karena ia dituding terlibat dalam pergerakan harga saham HM Sampoerna (HMSP) yang sempat tidak wajar. Pada periode 18 April-22 Mei 2007, harga saham perusahaan rokok itu melorot 22,19%. Padahal, indeks harga saham gabungan (IHSG) justru menguat 5,47%. Banderol HMSP turun dari Rp 16.900 menjadi Rp 13.150 per saham. Konon, Danareksa Sekuritas menjadi salah satu broker yang secara konsisten menjatuhkan harga HMSP itu.
Che Wei balik menjelaskan, ada fund manager lain yang mengerek harga HMSP ke atas—di saat HMSP tidak likuid. Saat ini, saham HMSP yang beredar hanya sekitar 2,05% (89,93 juta saham). Tujuan mengerek saham itu untuk cornering. Akibatnya, banderol HMSP naik ke level Rp 17.000-an. Nah, melihat kenaikan itu, ada investor yang menjual saham HMSP hingga harganya kembali tertekan. ”Kami tidak memainkan saham Sampoerna,” ujar Che Wei, sembari berjanji siap diperiksa oleh Bapepam.
Yanuar Rizki, seorang analis independen, menilai, kasus yang terjadi pada Che Wei sebenarnya amat sederhana. Yanuar kenal Che Wei, terutama ketika Che Wei membongkar kasus kejanggalan laporan keuangan Lippo Bank, beberapa tahun lalu. Kini, Yanuar giat membongkar kasus PGN. Menurut Yanuar, Che Wei mundur karena intrik di dalam Danareksa. ”Ada pejabat Danareksa yang ingin menjadi direktur utama,” katanya.
Lalu, dibuatlah cerita soal pembangunan gedung di Cina, kasus PGN, dan kasus HMSP. Selain itu, karakter Che Wei yang orang swasta murni dijadikan dalih bahwa ia tidak menciptakan keharmonisan di dalam perusahaan. Mungkin, ujar Yanuar, Che Wei bermasalah di kasus PGN dan HMSP. Tapi, ia bisa menjelaskannya dalam forum hukum. ”Yang terjadi, Che Wei ditakut-takuti,” ujarnya.
Seorang pejabat Danareksa membenarkan pernyataan Yanuar. Tidak itu saja, ujarnya, Che Wei juga dibikin gemetar karena ia dimintai komitmen untuk menyetor kepada para politisi guna kepentingan pemilu mendatang. ”Che Wei merasa tak sanggup. Ia pun check out,” katanya.

PATRONNYA SUDAH DULUAN TERSINGKIR
Di bawah Che Wei, Danareksa terlihat konservatif dalam bisnis penjamin emisi—yang bisa menjadi sumber pemasukan besar buat perusahaan dan hasilnya bisa jadi sumber setoran ke pihak lain. Makanya, banyak proyek IPO yang tak bisa didapat oleh Danareksa. Maklum, ”klausulnya banyak yang aneh”. Apalagi jika IPO itu dilakukan oleh sesama perusahaan BUMN.
Di sisi lain, setoran dari BUMN ke kalangan politisi seolah sudah dianggap wajib. Makanya, Che Wei dinilai kurang prospektif—dan ia diminta mundur. Che Wei juga tak punya cantolan di partai politik. Ia dikenal dekat dengan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Padahal tidak terlalu. Tapi, itu saja sudah membuatnya dicap berjarak dengan Jusuf Kalla, Wakil Presiden. Sebuah posisi yang tak nyaman buat seorang bos BUMN. Ditambah lagi, Che Wei kehilangan patron terkuatnya: Sugiharto, mantan Menteri BUMN yang kini digantikan Sofyan Djalil.
Sayang, Che Wei belum memberikan konfirmasi apa pun soal dugaan ini. Yang pasti, seorang Lin Che Wei sebenarnya tak pernah bermimpi akan menjadi orang pelat merah. ”Musuhi saya jika saya terlibat politik dan birokrasi pemerintahan,” ujarnya dalam sebuah artikel di Kompas, Desember 2000. Tapi, memang lidah tak bertulang.
Che Wei sudah memperoleh ”segalanya” ketika masih muda. Tahun 1997, di usia 29 tahun, majalah Asiamoney menobatkannya sebagai Analis Terbaik di Indonesia. Gelar yang kemudian membawanya pada sebutan ”analis termahal Indonesia”. Tiga tahun kemudian ia menjadi Presiden Direktur PT SocGen Indonesia, sebuah perusahaan keuangan yang pusatnya di Prancis. Setelah itu, ia menjadi Presiden Direktur SocGen Asia Tenggara di Singapura.
Setelah semua yang diperolehnya itu, Che Wei masih punya cita-cita. Jiwa idealismenya menuntun ia menjadi analis yang concern akan persoalan bangsa. Namanya semakin diperhitungkan. Sikap kritis itu kemudian menggiring pria kelahiran Bandung tersebut ke sebuah ko-munitas yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya.
Pada tahun 2001, Che Wei diundang menjadi pembicara dalam sebuah forum yang membahas tentang kemelut nasional di Hotel Bidakara, Jakarta—menyusul ambruknya popularitas Presiden Abdurrahman Wahid. Di forum itulah, Che Wei berkenalan dengan sejumlah ilmuwan cum politisi, seperti Faisal Basri, Andi Malarangeng, dan Anggito Abimanyu.
Carut-marut persoalan negeri ini seolah menggoda Che Wei untuk terus terlibat. Ia lalu tinggal di Jakarta dan keluarganya tetap di Singapura—setelah merasa trauma akibat kerusuhan berdarah Mei 1998. Kolumnis Goenawan Mohammad memujinya dalam kolom ”Catatan Pinggir” di majalah Tempo, ketika Che Wei membongkar kasus Lippo.
Pada tahun 2004, Che Wei bergabung dalam tim ekonomi Yudhoyono—sewaktu belum menjadi presiden. Ketika Yudhoyono menjadi orang nomor satu di negeri ini, anak Gunung Sahari itu lantas menjabat Staf Ahli Menteri BUMN, Staf Khusus Menko Perekonomian, dan Direktur Utama Danareksa.
Kini, Lin Che Wei sudah kembali menjadi orang partikelir. Orang seperti dia jelas akan gampang mencari pekerjaan yang lebih berbobot dari sekarang. Ya, mudah-mudahan, setelah ini, kebutuhannya untuk mengaktualisasikan diri tak lantas berkurang. Semoga pula, ia tak merasa risih untuk mengungkap sisi gelap yang terjadi selama dirinya menjadi orang pemerintahan, menjadi bos Danareksa. 


Berikan Komentar untuk artikel ini

Edisi 09 - 10 Tahun VI
31 Desember - 6 Januari 2007
www.mnc.co.id
  Copyright © 2002-2006 Majalahtrust.com. All Rights Reserved. Design by Proweb Indonesia